30 Oktober 2014

Pedagang Yang Berkaki Lima

Saya tersenyum terheran-heran beberapa waktu yang lalu ketika membaca sebuah artikel Sydney Morning Herald tentang pedagang kaki lima di Indonesia. Metthew Moore, wartawan koran tersebut, menggambarkan bagaimana seorang wiraswasta bule, Benjamin Whiteker, sedang berkompetisi dengan penjaja makanan asli di Jakarta. Whitaker, lulusan Wharton School of Bussiness di Philadelphia, percaya bahwa para konsumen di Jakarta pasti tertarik kepada hamburger ala Amerika kalu disajikan di pinggir jalan seperti sate atau bakso. Ia sudah membikin sejumlah kereta beroda dua yang dilengkapi dengan alat masak serba modern.


Yang membuat saya tersenyum adalah definisi Moore tentang kereta itu, yang dipaparkannya dengan penuh keyakinan. "Kaki Limas" or five legs is the name given to the hundreds of thousands of mobile food stalls that line the streets and are so count those of operators ("Kaki Lima" atau lima kaki adalah nama yang diberikan kepada ratusan ribu warung makanan beroda yang berada di tepi jalan dan diberi nama tersebut sebab, dari jauh, kereta itu memberi kesan berkaki lima kalau kaki penjaja ikut dihitung).
Seharusnya saya tidak merasa terlalu heran. Sejak lama, hampir setiap kali ketika saya membaca artikel dalam bahasa Inggris tentang pedagang kaki lima, artikel tersebut mengandung definisi yang mirip dengan definisi Moore. Yang mengherankan mungkin, pertama, bahwa definisi itu diulang oleh Sydney Morning Herald, koran yang seharusnya lebih mengerti Indonesia. Kedua, bahwa definisi itu bisa bertahan begitu lama dan diulangi di mana-mana meskipun jelas tidak masuk akal dan mengada-ada.
Kereta yang bersangkutan biasanya beroda dua (roda jelas bukak kaki) dan hanya "berkaki" satu, yaitu tiang penopang yang membuatnya stabil. Lagi pula, apa hubungannya antara "kaki" yang dimiliki oleh kereta dan kaki penjaja? Hampir mustahil membayangkan bahwa sebutan kaki lima (selalu disebut begitu dalam bahasa Inggris, tanpa pedagang) akan berasal dari dua kaki manusia, dua roda dan satu tiang penopang.
Mengapa selama ini tanpaknya belum ada orang Indonesia yang menjelaskan bahwa sebutan yang sebenarnya adalah pedagang kaki lima, buka kaki lima saja, dan bahwa kaki lima adalah nama lain buat trotoar atau sidewalk? Atau mengapa orang asing sendiri tidak menelusuri asal-usul istilah ini lebih jauh?
Tanpa menelusuri apapun, orang asing yang pernah mengunjungi negeri jiran seharusnya mahfum. Misalnya, di Singapura anda bisa makan di sebuah warung di Chinatown yang bernama Five Foot Way bisa dirunut  kepada Sir Stamford Raffles pada abad ke-19 yang menentukan bahwa semua gedung yang didirikan harus membangun pula sebuah trotoar yang lima kaki lebarnya untuk memberi perlindungan dari hujan dan terik matahari.
Pertanda apa, daya tahan yang lama sekali dari definisi yang salah ini? Salah satu kemungkinan adalah bahwa para wartawan asing tidak fasih berbahasa Indonesia. Kedua, mereka sangat bergantung kepada arsip koran mereka. Kesimpulan ini diperkuat oleh kasus lain yang jauh lebih penting. Yang saya maksudkan adalah peliputan media asing yang menyangkut pembunuhan massal orang komunis dulu. 
Di arsip majalan seperti Time dan Newsweek tertera kesimpulan bahwa ratusan ribu orang dibunuh pada tahun 1965-1966 adalah orang Tionghoa. Yang sebenarnya dibunuh pada waktu itu tentu pengikut PKI, yang sebagian besar bukan orang Tionghoa. Sejak itu wartawan asing yang menulis tentang konflik politik (misalnya, ketika pemerintah Orde Baru tumbang) selalu mengacu kepada "pembunuhan massal orang Tionghoa" pada tahun 1965-1966.
Seandainya kesalahan ini, yang amat mengganggu pengertian orang di luar tentang sejarah Indonesia, bisa dikoreksi, kiranya kita bisa memaafkan pers asing dalam hal ini tafsiran kaki lima yang bukan kaki dan tidak berjumlah lima.

Gambar diambil dari :
http://assets.kompas.com/data/photo/2014/03/03/1016526PKL780x390.jpg
Pustaka : RW Liddle, Kolom Bahasa Kompas, 2004.

29 Oktober 2014

Pepaya, Buah Eksotis Kaya Manfaat

Pepaya (Carica papaya) termasuk salah satu dari jenis buah tropis yang penting. Buah ini tampaknya berasal dari selatan Meksiko dan Kostarika. Dibawa oleh penjajah Spanyol ke Manila pada pertengahan abad ke-16, kemudian berangsur-angsur menyebar ke berbagau negeri tropis dan subtropis. Saat ini pohon pepaya banyak di budidayakan di China, Srilangka, Malaysia, India dan tentu negeri tercinta Indonesia. 


Pepaya dinobatkan sebagai salah satu buah sehat. Berbagai kebutuhan harian tubuh berupa nutrisi esensial seperti protein, mineral dan vitamin C dalam pepaya semakin meningkat seiring proses matangnya pepaya. Pepaya memiliki manfaat bagi pengobatan dan telah dimanfaatkan sejak dulu kala. Tidak sekedar mudah dicerna, namun pepaya juga membantu tubuh mencerna makanan yang lain. Pepaya masak adalah tonikum (zat yang digu akan untuk mengembalikan kondisi normal dari jaringan dan meningkatkan nafsu makan) yang bermanfaat bagi pertumbuhan anak-anak, wanita hamil dan menyusui. Selain itu kandungan karbohidratnya juga memberikan energi ekstra bagi penikmatnya. Adapun kandungan nutrisi dalam buah dan daun pepaya berdasar penelitian dari Departemen Kesehatan RI (1979) :

Unsur `Komposisi
Buah Masak
Buah Mentah
Daun
Energi (kal)
Air (gram)
Protein
Lemak
Karbohidrat (gram)
Beta karoten (IU)
Vitamin B (mg)
Vitamin C (mg)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Fosfor (mg)
46
86,7
0,4
-
12,2
365
0,04
78
23
1,7
12
26
92,3
2,1
0,1
4,9
50
0,02
19
50
0,4
16
79
75,4
8
2
11,9
18.250
0,15
140
353
0,8
63
(*kandungan setiap 100 gram sampel pepaya)

Salah satu manfaat yang terkenal dari buah pepaya adalah melancarkan pencernaan. Ilmu pengetahuan modern berusaha mengungkap kebenaran anggapan nenek moyang tentang manfaat pepaya. Diantara manfaat terpenting yang ditemukan adalah enzim pencerna protein pada getah putih atau lateksnya. Enzim ini mirip dengan pepsin. Enzim yang ditemukan sangat kuat sehingga dapat mencerna protein 200 kali berat/beban pepaya itu sendiri. Ini berguna membantu enzim tubuh dalam mencerna nutrisi yang diperoleh dari makanan.


Manfaat berikutnya adalah mengobanti gangguan percernaan. Kandungan papain pada pepaya mentah atau mengkal sangat bermanfaat mengatasi kekurangan cairan lambung, kelebihan mukosa pada perut dalam dyspepsia dan secara rutin bermanfaat memperbaiki gangguan konstipasi alias sulit buang air besar, wasir berdarah dan diare kronis.
Masih ada manfaat lain, ternyata buah pepaya bisa mengobati cacingan. Dalam sistem pencernaan, papain yang terkandung pada getah pepaya muda merupakan antithelmintic alias pembasmi cacing yang kuat. Satu sendok makan jus segar dan madu secukupnya icampur dengan 3 sampai 4 sendok makan air panas adalah dosis bagi orang dewasa.
Pepaya sangat kaya dengan kandungan yang disebut caricin yang merupakan obat alami yang efektif untuk mengeluarkan cacing perut.
Untuk yang memiliki ganguan kullit, jus pepaya muda bersifat mengiritasi, itu berguna untuk mengatasi berbagai gangguan kulit. Pepaya mengatasi bengkak pada kulit, diantaranya mencegah kulit bernanah atau jerawat. Jus pepaya muda menghilangkan bintik-bintik hitam yang muncul karena paparan sinar matahari, serta menjadikan kulit halus dan bagus.


Daftar Pustaka :
Elfata, November 2011
Direktorat Gizi Kementrian Kesehatan. 1979. Analisi kandungan nutrisi pepaya. Jakarta.
http://4.bp.blogspot.com/-Brqh_YTqYTA/UnJdzEoOBeI/AAAAAAAAA3s/XaK-une_wjc/s1600/Khasiat-Pepaya.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-WXeImSqtR8Q/UMxTIPIe9VI/AAAAAAAAAIw/Q3H7cifhNR8/s1600/manfaat+pepaya+untuk+pencernaan.jpg


28 Oktober 2014

Salam Sejahtera Alaikum

"Assalamu'alaikum!" teriak si pembawa acara sambil mengangkat lengan dan berjingkrak-jingkrak, sementara kamera dengan setia mengikuti wajahnya yang berseri-seri bak paras pegawai negeri baru naik gaji.
"Walaikum salam," jawab hadirin di studio sambil bertepuk dengan meriah.
Pemirsa di depan layar kaca pun bergegas menenggelamkan diri ditas sofa sampai tampak hanya ujung kedua lututnya yang sedang menjepit sekaleng kerupuk dan kedua bola matanya yang melotot. Namun si pembawa acara belum siap mulai.



"Salam sejahtera!" teriaknya lagi dan hadirin melanjutkan tepuk tangan mereka sesuai dengan skenario. Bagitu keriuhan mereda, dia berteriak lagi, "Selamat malam, Saudara-saudara!" Gemuruh lagi, seolah-olah itulah ungkapan paling bijaksana yang pernah diucapkan manusia.
Untuk apa si pembawa acara memberi salam sampai tiga kali? Tentu bukan karena menganggap angka tiga keramat; atau mencoba memberi petunjuk sama tentang calon pemenang pemilu. Yang dia lakukan ialah membagi pemirsanya ke dalam tiga golongan : Muslim, Kristen dan Netral. Nyatanya, dia telah memecah belah para pemirsanya dengan tindakan SARA! Nah, lo...
Tentu saja tidak demikian maksudnya. Hanya penguasa yang bisa menarik manfaat dari ancaman seperti itu, dan blog ini bukan alat penguasa. Yang sebenarnya terjadi ialah seseoarang, kemungkinan besar seorang antek kapitalis yang sedang mengembangkan usaha komoditas persalaman, telah mematenkan salam khusus Islam dan salam merek Kristen, dan menyisakan salam generik untuk mereka yang termasuk kelas murahan. Tidak dipedulikannya bahwa salam itu sudah dikembangkan tanpa pamrih selama bermilenium oleh para pemakainya. (he4, berlebihan ga sih? tidak ternyata...he4).
Dulu-dulu sekali di Timur Tengah, Salem (Shalem) adalah nama Planet Venus yang terlihat di kala senja, yang dipercaya sebagai dewa yang menghadirkan kelengkapan atau kesempurnaan, saat segala sesuatu sudah diselesaikan dan terpenuhi sebelum malam tiba. Salem juga dihubungkan dengan Saturnus, yang sebagai planet terjauh yang dikenal pada zaman itu dianggap terkukuh atau termantapkan dan mengandung nilai kesempurnaan, kesetiaan, dan kesehatan. Kata itu pun lantas laris dimanfaatkan sebagai unsur nama tempat dan orang. Sampai sekarang kita masih mengenal nama kota Darussalam atau Yerussalem. Juga nama orang : Salman, Sulaiman, atau Salomo.
Sebagai ucapan salam, Salam atau Shalom mengandung arti keutuhan atau kesempurnaan yang dimiliki seseorang, dalam bentuk kesehatan, kesejahteraan, keamanan atau kedamaian. Assalamu'alaikum, "salam bagimu", berisi harapan dan doa agar orang yang disalami itu memperoleh segala sesuatu yang dibutuhkannya, tiada berkekurangan. Salam ini diucapkan di seluruh mandala Timur Tengah, baik oleh yang beraga Islam, Yahudi maupun Kristen.
Nah, di Indonesia, oleh orang Kristen kata Shalom yang bertaburan di dalam Alkitab diterjemahkan dengan istilah "Damai Sejahtera". Terjemahan ini lebih baik daripada terjemahan bahasa Inggris Peace, lebih dekat ke arti semulanya: "kecukupan dan ketenangan lahir batin". Lantaran terjemahan ini, lantas ada yang menciptakan salam merek Kristen : Salam Sejahtera yang tak lain tak bukan setali tiga uang sama sebangun dengan salam yang diyakini sebagian orang sebagai khas Islam : Assalamu'alaikum.
Salam Generik pun  akar dan sumbernya sama. Selamat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti "terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana"; "tidak kurang suatu apa". Sebagai salam, Selamat adalah "doa (ucapan pernyataan dan sebagainya) yang mengandung harapan supaya sejahtera".
Ternyata, pembawa acara kita itu telah mengucapkan salam yang maknanya sama tiga kali. Untuk apa? Mengapa kaum Muslim dan Kristen memerlukan salam paten yang mewah dan eksklusif? Apakah berat yang terkandung di dalam selam itu hanya berlaku bagi jenis orang beragama tertentu? Bagaimana kalau umat Hindu dan Budha, belum lagi Khinghucu, juga mematenkan salam istimewa mereka masing-masing? Lagi pula, bagaimana kalo Sepadam Punten, Horas dan ratusan salam lain di negeri ini juga perlu diucapkan dalam setiap acara?
Akan lebih baik kalau semua salam itu digenerikkan. Pebisnis komoditas persalaman akan gigit jari dan kita smua akan memperoleh kekayaan dan kebebasan baru dalam mengucapkan salam. Pilih saja salah satu, tak peduli siapa penerimanya, agama dan sukunya.


Daftar Pustaka : 
Gambar : http://aljawhar.files.wordpress.com/2011/12/assalamualaikum-sinchan.png
Kolom Bahasa Kompas, Salomo Simanungkalit, 2007.

Metafisika : Tenaga Dalam, Tenaga Setan?

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1436 H. Ngomong – ngomong di bulan suro (istilah Muharam dalam penanggalan Jawa) kayaknya pantes membahas hal-hal yang menurut saya misterius. Misalnya tentang “tenaga dalam”.
Hem… menarik, untuk mengungkap tabir tenaga dalam (dari perspektif penulis yah…), karena begitu banyaknya acara akhir-akhir ini makin banyak film dan sinetron yang mengetengahkan tenaga dalam sebagai sajian. Dari hasil riset kecil-kecilan yang dulu pernah saya lakukan, dengan seorang guru besar di Kampus tercinta dan beberapa penggiat metafisika ternyata ada kekuatan yang bisa di eksplorasi manusia dari dalam dirinya. Namun kemudian dalam sebuah kajian dikampus manusia bisa mendapat kekuatan metafisika dengan bantuan jin. Makin bingung ajah nih, padahal teman-teman saya ada yang mengaku  memiliki kemampuan “pukulan jarak jauh” dan mampu melihat perihal “ghaib” dan anehnya lagi itu sejak lahir, entahlah…he4


Nah, kemudian pasti akan muncul  beberapa pertanyaan menggelitik, bagaimana batasan tenaga dalam yang dikatakan natural dan yang berasal dari setan?
Ternyata sebagai manusia awam yang belajar metode saintifik, saya tidak bisa membedakan keduanya karena tidak bisa diukur atau ditakar dengan kualitas, efek dan bobotnya. Karena itu semua bersifat relatif. Kita juga kesulitan mengukur batas kemampuan manusia secara kasar. Kayu setebal 10 cm mungkin menurut pandangan kasar manusia sulit dipatahkan dengan kekuatan dan pukulan. Namun tidak mustahil bagi mereka yang terlatih melalui belairi yang bersifat natural seperti karate atau pencak silat.  Sementara meski terlihat ringan, kekuatan bisa saja.
Menurut pendapat penulis, yang menjadi tolak ukur disini adalah cara mendapatkan kekuatan tersebut. Kekuatan yang dilatih dengan cara-cara natural seperti angkat beban, latihan otot, pengembangan teknik “punch and kick”, senam pernafasan dan sejenisnya tanpa dibumbui dengan hal-hal mistik, maka kekuatan ini bisa muncul dengan natural. Tapi ketika cara mendapatkannya dengan dzikir-dzikir khusus (meski dibarengi dengan pernafasan atau senam sebagai formalitas), lelaku khusus, meditasi, pengisian dan sejenisnya, maka kekuatan yang muncul berasal dari setan.
Selain itu kadang Allah SWT memberikan kekuatan secara Cuma-Cuma kepada seorang mukmin yang bertaqwa, kekuatan yang bersifat tidak masuk akal, tidak bisa dipelajari dengan cara apapun, yang sering disebut sebagai karamah. Ada juga orang yang semenjak lahir sudah memiliki kekuatan ajaib atau memendam bakat luar biasa sehingga ketika diberi polesan sedikit saja dengan latihan bela diri secara wajar bisa mendapatkan hasil yang luar biasa, melebihi rata-rata orang kebanyakan. Hal itu bisa aja disebut dengan I’anah atau mui’inah. Orang kafir maupun muslim bisa memilikinya secara kodrati, untuk menunjukan kebesaran Allah SWT.
Maka kami anjurkan agar menghindari segala bentuk beladiri yang mencampur adukan berbagai macam acara ritual ke dalam latihan fisik yang dilakukan. Meskipun terbungkus dengan bentuk latihan yang wajar, yakni pukul memukul, bergulat dan sejenisnya, tetapi bila disertai dengan acara meditasi misalnya merapal doa-doa tertentu itu jelas beladiri yang mengundang setan sebagai sumber kekuatannya.
Pelajari secara wajar saja, niatkan dengan ikhlas bahwa bela diri ini kita lakukan untuk menjadi mukmin yang kuat untuk mempersiapkan diri melakukan tugas dakwah dan jihad yang bisa datang secara tiba-tiba. InshaaAllah semua akan bernilai ibadah dan terjaga dari hal-hal yang diharamkan. Allahu a’lam.

Gambar : diambil dari http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/p/headline/a/476x238/0000011063.jpg
Pustaka : Elfata, November 2011

24 Oktober 2014

Antalya, Pesona Laut Tengah (bagian 1)

Saat itu pertengahan bulan Feburari, masih di tengah musim dingin bersalju di Turki. Asyiknya tinggal di negeri bermusim dingin, maka akan ada liburan musim dingin. Kala puncak musim dingin seperti bulan Februari, kita akan mendapat liburan selama 3 hari. Nah kesempatan emas ini takan pernah saya sia-siakan, maklum jadwal penuh mengajar membuat saya setres dan jenuh.... Tamasya mungkin akan mengembalikan kebugaran jasmani dan rohani saya...he4


Salah satu destinasi yang masuk dalam planing saya adalah mengunjungi Antalya, kota pelabuhan dan pantai di Selatan Turki yang banyak menyimpan sejarah masa lampau dan keindahan pantainya itu membuat saya penasaran. Setelah mengepak semua perlengkapan, saya berangkat pagi sekitar pukul 7 waktu Ankara. Maklum, bus berangkat pukul 8 dan perjalanan memakan waktu 6 jam, berharap sampai di kota Antalya hari masih terang dan masih sempat jalan-jalan dulu sebelum malam.
Seperti biasa, bus berangkat dari Asti pukul 8 tepat. On Time bingits pokoknya... Kali ini saya tidak kebagian tiket bus Metro, jadi saya naik bus PO. Pamukale kelas ekonomui (he4). Ini pertama kalinya saya naik bus ini untuk bepergian. Busnya ternyata lumayan, dan g jauh beda dengan Metro. Emang lebih murah sih, 40 TL (200 rb), tapi bus metro lebih gagah dan pelayannnya memuaskan. Jangan salah bus Ekonomi di Turki sama levelnya dengan bus Eksekutif di Indonesia, tempat duduk lega, dapat selimut dan bantal plus ada pemanasnya.


Wus..wus... tak terasa 3 jam sudah berkendara, Pramugara membangunkan saya untuk mendapatkan kudapan siang . Bus-bus jarak jauh disini memang seperti pesawat. Ada pelayanan makan dalam bus, ada Pramugaranya lagi (kalo yang kelas eksekutif katanya pramugari yang caem2...he4). Saya hanya mendapat snack bukan makan besar, banyak pilihan sih... saya ambil susu dan roti, tu cukup he4. 
Pukul 1 siang, bus berhenti di sebuah terminal antah berantah. Para penumpang turun untuk menyelesaikan hajatnya. Ada yang makan, ada yang ke kamar mandi, dan saya pun ikut turun, mau sholat ceritanya. 
Muter-muter tak menemukan tempat Sholat, kahirnya saya jalan keluar dari terminal dan fuila... ada mushola,,, selamat deh... tapi air wudhunya tidak ada pemanas, jadi harus wudhu dengan air yang duingin bingits... bayangkan, suhu hampir nol men... tetep wudhu sih, tapi langsung piteren.. (orang jawa tahulah...), setelah sholah cari bekal dan minum terus naik bus lagi.
Bus kembali meneruskan perjalanan dan sampai di terminal Antalya pukul 3 sore. Terminal Antalya kecil dan ga ramai, lebih ramai Tirtonadi...(he4, apapaan sih?). Ternyata aneh sekali, di Antalya meskipun musim dingin tapi tak ada salju. Seperti berada di negara berbeda saja, katanya sih karena pengaruh angin dari Afrika dan Arab, maka suhu di Antalya tidak sedingin di wilayah Turki lain, jadi masyarakat Antalya tak akan pernah melihat salju di kotanya.
Setengah jam menunggu, ada seorang berwajah jawa menyapa saya..., dialah mas Kuncoro. Seorang mahasiswa asli Indonesia berdarah Jawa yang akan mengantar dan memandu berkeliling selama saya di kota ini. Saya emndapat nomor telefon beliau dari mas Faiz yang ada di Konya (baca petualangan saya di konya, klik di sini ). Sambatan yang sangat hangat khas orang Jawa, seperti saudara yang telah lama tidak berjumpa. Yah saudara, saudara setanah air.


Kami berjalan menuju apartemen mas Kuncoro yang berada dekat pusat kota Antalya dengan jalan kaki. Lumayan lah sekitar 3 km. Tapi itu g masalah, sambil cuci mata, soalnya Antalya adalah destinasi utama di Turki selain Istambul dan Ankara, jadi banyak turis juga dari Eropa...he4
"Flate" mas Kuncoro bersebelahan dengan Antalya university, tipikal flate yang ada memang mirip dengan flate mahasiswa Ankara. 1 apartemen di huni 5 hingga 6 mahasiswa (jadi bakalan ramai). 
Sampai di apartemen, saya di sambut mahasiswa dari berbagai macam negara. Ada Maroko, Nigeria, Turki dan Italia..., wah seperti inilah persahabatan kaum muslim sejati, tidak mengenal ras dan negara.
Malam telah menjelang, saatnya sholat Magrib, kitapun sholat magrib berjamaah di flate. Masjid agak jauh memang, jadi ruangan 4 x 5 m itu digunakan sebagai tempat tidur, makan dan sholat sekaligus. 
Ngomong-ngomong makan ni, keliatanya mas Kuncoro dan rekannya telah menyiapkan hidangan makan malam dan saya pun diajak makan bersama. Makanan Turki normal, corba dengan roti dan ayran. 

Setelah makan, kita ngobrol kesana-kemari pokoknya ngobrolin Indonesia, ngobrolin studi kita bahkan sampai ngobrolin calon Istri (jadi kebetulan kita sama2 jomblo...ha4). Sepertinya kita merasa senasib dan sepenanggungan...he4
Setelah lelah saya pun tidur, dan mempersiapkan energi untuk berkeliling esok hari. 



Menjelajah Phnom Penh (Bagian I)

Pagi itu hari ke 15 bulan Mei 2014, kesampaian juga diriku menapaki bumi Kamboja yang telah lama daku tulis dalam agenda. Benar memang, keinginan sekecil apapun harus ditulis, supaya jadi kenyataan... begitulah kira-kira. Perjalanan ke Kamboja sendiri sudah kurancang 2 tahun sebelumnya. tiketpun setahun sebelumnya sudah ku beli. Jam 8.00 waktu setempat, pesawat Mandala-Tiger Air dari Jogja mendarat mulus di Phnom Penh International Airport. Jangan dibayangin bandara ini ramai seperti Jakarta atau Jogja. Bandaranya relatif sepi, tak banyak penerbangan, jauh lebih bagus dan ramai bandara Adi Sumarmo di kampung tercinta.
Setelah mendarat dan cek di bagian imigrasi untuk mendapat stempel dan woila, tak perlu bayar visa... WNI bebas keluar masuk Kamboja, hee4.


Keluar bandara, langsung banyak tawaran taksi dan tuktuk (kaya bentor kalo di Medan) dan harganya men, mahal abis... mereka menawarkan harga 30 dolar buat nganter dari bandara sampe penginapan di pusat kota. Weleh... mahal bingits (untuk bocoran, anggaran saya selama di kota ini hanya 25 dolar saja, he4). Jadi saya tawar dengan kejam, 5 dolar, dan mereka pun menolak dengan kejam pula...he4. Begitu seterusnya hingga saya berjalan kira-kira 1 km keluar bandara. Harga kompakan 30 dolar. Jangan heran di Kamboja mata uang dolar Amerika lebih laku dipakai dari pada mata uang Riel Kamboja. Ga Tau kenapa dah... padahal kursnya lebih tinggi dari Rupiah lho... 1 dolar Amerika setara dengan 5000 Riel Kamboja. nah lho gimana Kurs Indonesia kalah ma Kamboja. Ga perlu dipikirin dah...he4
Karena tak kunjung ada tuk-tuk yang mau terima tawaran saya, saya akhirnya mengeluarkan peta yang telah saya prin dari "google maps" sebelumnya. Dah woila... jarak dari bandara ke penginapan sekitar 15 km, wow... dan kalo jalan kaki bisa memakan waktu 3-4 jam.
Tapi ga pa2, saya coba niatkan untuk berjalan, karena berdasar peta,tak jauh saya akan nyampek di pasar kota, dan pastinya nyari sarapan dan berharap ada tuk-tuk yang mau di bayar murah buat nganter saya.
Beruntung juga, ternyata tepat ketika saya datang adalah puncak perayaan ulang tahun Raja Kamboja, entah lah siapa namanya..he4, tapi foto-foto beliau ada dimana-mana sepanjang jalan kota. Saking sayangnya mungkin rakyat kepada rajanya begitulah kira-kira.
Saya sempat jeprat-jepret kegiatan ibadah warga sini untuk mendoakan sang raja, karena mayoritas warga Kamboja adalah beragama Budha, jadi jangan heran kalo banyak biksu.
Karena peta yang saya bawa tidak terlalu jelas (peta gratis soalnya), saya putuskan bertanya polisi. Nah, mereka sangat ramah, tapi sayang g bisa bahasa Inggris. Jadi terpaksa kami berkomunikasi pake bahasa Tarzan... (taulah maksud saya, he4)
Yah, ditunjukinlah saya ke jalan yang benar..., meski tak tahu apa yang beliau ucapkan, setidaknya daku tahu kalo tidak tersesat. Setengah jam melalaui jalan Charles de Gaulle, sampailah saya ke pasar kota dan segera saya cari makan buat sarapan... alamak... makanan disini bener2 tidak sesuai dengan saya, daging babi ada dimana-mana, dan akhirnya saya cuma beli roti dan melon, habis 2 dolar, lumayan murah..., yang penting perut terisilah (kere banget pokoke..., he4)


Tidak seperti di Indonesia, kendaran berjalan di sisi kanan jalan. Lalu lintas di Kamboja kacau balau, yah mirip Jakarta. Orang melawan arus udah biasa, dan jangan salah klakson tidak banyak bunyi. Mungkin di maklumi. Tapi ekstriman Jakarta saya fikir, trotoar aja tembus tu oleh para bikers, terus kemacetan huft... capek pokoknya kalo ngomongin macetnya Jakarta....
Nah, udah sejam saya jalan capek juga ternyata, saya duduk di depan Universitas Nasional Kamboja, kebetulan rimbun dan sambil minum air mineral 600 mL seharga setengah dolar.
Saat duduk mengusir lelah, ada tuk-tuk yang nyamperin... sopirnya lumayan bisa English. 10 dolar katanya buat ke pusat kota, yah masih mahal... saya tawar 3 dolar.. (kejam benar), dia bilang 5 dolar, tapi saya menolak... akhirnya dia menyerah dan 3 dolar untuk sampai ke penginapan, horeee... Saya tunjukin, kertas bookingan guest house saya, kami segera melaju...
setengah jam muter-muter, tak ketemu juga tempatnya, kasian juga, tapi bodo amat.. kenal ja nggak, he4 (ala-ala Bintang Bete). Abangnya nanya berulang-ulang sama temenya. Akhirnya setelah capek muter-muter, kita nyampek juga di  Longlin House, Street 19, No.159 Daun Penh, Phnom Penh, Kamboja, bisa webnya di cek di sini. Karena kasian muter-muter akhirnya emasnya saya tawarin order buat Tour Keliling Phnom Penh esok hari, di ngasih harga 10 dolar saya tawar 3 dolar...deal 5 dolar...he4. Okelah... besok jam 9 pagi sampai 1 siang kita kan kelilling kota raja Phnom Penh dengan tuk-tuk...he4.
Setelah kelar urusan dengan abang tuk-tuk, saya langsung ke lobi hotel (guest house maksudnya) dan konfirmasi booking. 2 hari 10 dolar, 1 kamar single bed dengan kipaas angin... tempatnya recomended lah dari saya banget deh, pusat kota, terus deket minimarket, bisa pesen tiket bus dan ada tempat jemur pakaian pula... jadi g perlu londri, bisa nyuci sendiri terus juga aman dan ramah.
Setelah bayar booking, saya langsung diantar menuju kamar. Karena capek luar biasa, saya putuskan untuk tidur dah... rencana nanti sore mau jalan-jalan ke Sungai yang terkenal di Kamboja...