10 Februari 2014

BERPETUALANG KE KONYA, KOTA SANTRINYA TURKI (BAGIAN 1)



Di sela aktivitas sibuk mengajar dan belajar di Turki saya sempatkan 3 hari untuk jalan-jalan menikmati musim dingin yang jelas takan saya temukan di negeri tercinta Indonesia. Sore itu, bulan Januari 2012 merupakan puncak musim dingin di Turki dan negara Eropa lain. Salju turun sangat lebat sehingga perjalanan bus banyak yang mengalami penundaan, termasuk bus yang saya tumpangi dari Ankara, harus rela 2 jam menunggu salju jalan di bersihkan. Perjalanan dari Asti ke Kota Konya sekitar 4 jam normalnya namun gara-gara badai salju, perjalanan memakan waktu hingga 6 jam.
Berangkat dari Asti sekitar pukul 8 pagi sehabis sarapan, saya menumpang bus kesukaan saya di Turki, Metro. Entah kenapa saya ga’ kepingin naik bisa lain. Saya beli tiket kelas ekonomi seharga 30 TL atau 160 ribu rupiah. Jangan membayangkan kelas ekonomi di sini sumpek, tanpa AC dan bau seperti bus AKAP Jakarta – Semarang, walaupun kelas ekonomi tapi bus ini full AC, berhubung musim dingin full pemanas he4…, kemudian kursinya 2-2 yang lega dan lagi ini spesialnya, di tiap kursi penumpang tersedia monitor, kita bisa memilih lagu atau film kesukaan kita. Walaupun tidak mendapatkan menu makan tapi kita dapat servis snack dan minuman yang bisa kita pesan ke pelayan bus. Saya memilih susu dan kue kering, cocok kayaknya…
                                              (Lobi Terminal Konya, Turki)

Pukul 14.00 bus sampai di Terminal Konya disambut hujan salju lebat. Terminal konya kecil, mirip seperti terminal di Indonesia, namun kebersihan dan ketertiban tak perlu di tanya. Konya (bahasa Turki Ottoman: قونیه; juga disebut Koniah, Konieh, Konia, dan Qunia merupakan kota yang terletak di Turki bagian selatan, pada plato tengah Anatolia; dalam sejarah kota ini dulu dikenal dengan nama Ikonium (bahasa Latin), bahasa Yunani: κόνιον Ikónion). Penduduknya berjumlah 742.690 jiwa (2000). Konya merupakan kota kecil di Provinsi Anatolia, Turki.
Mengenal sejarah kota ini akan sangat membantu kita untuk lebih menikmati tempat yang kita kunjungi. Dalam sejarahnya, kota ini menjadi ibukota Dinasti Seljuk pada abad ke-11. Letak Konya tidak jauh dari wilayah Kurdistan, dan dekat dari perbatasan Turki-Suriah-Irak. Konya adalah kota yang identik dengan tokoh sufi besar – Mevlana. Merupakan kota yang dihuni pertama kali dalam sejarah umat manusia, dan masih memiliki jejak sejarah dari peradaban kuno yang memberikannya atmosfer sebagai kota museum. Karena lokasinya di tengah-tengah padang tandus Anatolia, kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Jalur Sutera. Tanahnya yang subur di sekitar kota menjadikan Konya pusat dari industri gandum di Turki, dengan skala industri pertanian yang besar. Kental akan tradisi, kota ini adalah tempat paling konservatif dan religius di Turki dan terkenal sebagai rumah dari Jalaludin Rumi, sufi mistis yang menemukan Whirling Dervish (Tarian Darwis). Saat ini masih menjadi pusat pembelajaran dan pengajaran sufi dan salah satu atraksi wisata utama yang wajib dikunjungi adalah Melvana Museum, yang dahulu digunakan sebagai pemondokan para darwis.
Di Konya saya akan di pandu mas Faiz, seorang mahasiswa asal Kudus Jawa Tengah, jauh-jauh ke Turki ketemune yo wong Jowo. Memang orang Jawa di takdirkan menjadi petualang di seluruh dunia layaknya Viking di Eropa. Berkat info dari ketua PPI Ankara, saya mendapat nomor telefon mas Faiz. Beliau adalah mahasiswa S3 bahasa Arab di Selcuk University, Konya. Beliau sangat ramah dan murah senyum. Mungkin beliau adalah satu-satunya orang yang baru saya kenal, namun sangat baik dan membantu segala sesuatu apapun yang saya butuhkan, selain mas Ayub tentu saja. Kalo mau, pun sebenarnya mas Faiz bisa menolak untuk membantu, bayangkan… di saat hujan salju yang dinginnya menusuk tulang, beliau rela meninggalkan flat-nya yang hangat hanya untuk membantu memandu saya keliling Konya. Subhanalloh, semoga Alloh selalu memberikan rahmatnya buat mas Faiz.
Mas Faiz on time menjemput saya. Beliau sudah menunggu di dalam terminal dan menyambut saya ketika sampai. Pelukan hangat kami berdua, walaupun kita baru kenal, sudah seperti kolega lama yang tak bertemu. Indah sekali, persaudaraan sebangsa…he4. Karena hanya punya waktu sampai jam 9 malam, mas Faiz bergegas mengajak saya untuk meninggalkan terminal berkeliling Konya. 



                                               (Di dalam Trem Kota Konya)

Keluar dari terminal kami menggunakan kereta listrik menuju pusat terminal. Mas Faiz memberi saya kartu untuk naik kereta, gratis katanya bagi mahasiswa. Jadi kartu itu dipinjam dari temanya kuliah untuk saya… oh so sweet banget, mikir sampai segitunya untuk saya. Kereta di konya nyaman bersih dan cepet. Malahan gratis, itu yang penting. Sehingga warga masyarakat akan rela naik transportasi umum.
Sambil berdiri di kereta, kita berbincang-bincang untuk membunuh kebosanan. Dari perbincangan itu, saya tahu bahwa mas Faiz ini adalah mahasiswa S3 di tahun kedua, karena tahun pertama digunakan untuk Tomer atau kursus bahasa Turki. Tomer memang wajib untuk semua mahasiswa yang belajar di Turki dari S1 hingga S3, kecuali tempat kuliahnya menggunakan pengantar Bahasa Inggris, seperti Ankara University, mahasiswanya tidak perlu kursus terlebih dahulu. Mas Faiz juga bercerita, kalo beliau S1 dan S2 nya juga di luar negeri. Wow.. amazing…
Negara tempat belajarnya waktu S1 adalah Suriah atau Syiria. Beliau mendapat beasiswa S1 Bahasa Arab full dari universitas di sana. Kemudian S2 nya beliau ambil di Tripolli, Libya. Mendengar cerita beliau, saya jadi bersemangat untuk belajar dan pasti suatu saat saya akan keliling dunia menuntut ilmu. Amin…
15 menit kereta berjalan, kita turun dan berhenti di stasiun untuk destinasi pertama yaitu di masjid dan makam kesultanan Selcuk…, untuk destinasi pertama ini akan saya bahas di halaman berikutnya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan komentar anda, bila tidak memiliki akun, bisa menggunakan anonim...