26 Maret 2015

Mengunjungi Perkampungan Muslim di Siem Reap, Kamboja

Sebuah pengalaman menarik rasanya perlu saya bagi ke teman-teman BP mania semua. Hari terakhir saya di Siem Reap bertepatan dengan hari Jumat, artinya bisa ga bisa saya harus mencari masjid untuk menjalankan ibadah sholat Jumat. Saya menemukan kabar menarik, bahwa ada perkampungan muslim disekitar Siem Reap, lega juga…he4.
Saya putuskan untuk mengagendakan kunjungan ke perkampungan Muslim di kota Siem Reap Kamboja. Sebagaimana kata Baginda Rosulullah, ketika kamu bepergian ke suatu tempat asing, maka tempat tujuan pertama yang harus kamu cari adalah masjid. Aneh gak ya, kalo kita pergi ke kuil atau candi yang notabene adalah tempat ibadah umat lain, justru kita melupakan masjid sebagai tempat ibadah kita. Nah, mencoba menjalankan amanah beliau itu (he4), ketika berada di Siem Reap saya sempat-sempatkan berkunjung ke satu-satunya masjid di kota ini yang berada disebuah perkampungan muslim.



Berdasarkan informasi yang telah saya dapatkan, perkampungan ini berada diselatan pusat kota Siem Reap. Sehabis mencari cideramata eh…maksud saya cinderamata (nge-joug dikit, he4) di Central Market Siem Reap saya putuskan untuk menuju ke perkampungan itu. Tidak jauh, hanya jalan kaki sekitar 3 km kita akan sampai di tempat tersebut. Kita akan merasa miris, jalan menuju perkampungan ini melewati pub dan bar serta miras dijual dimana-mana. Nah, inilah duka orang muslim yang tinggal di tempat mayoritas non muslim, berbeda dengan kita yang tinggal di negara mayoritas muslim. Privasi kita sangat dihormati dan ketentuan-ketentuan Islam juga masuk dalam perundangan. Sungguh salut dengan muslim di sini, yang teguh menjaga keimanannya ditengah gempuran.
Setelah berjalan 30 menit kita akan memasuki kampung ini, namanya saya lupa…he4. Gak sempet nanya, soalnya ga pada bisa bahasa Inggris. Saya sebetulnya mau pake bahasa Arab, tapi taunya cuma “ukhibuka ya ukhti”…he4, yang artinya kata itu kira-kira adalah “saya mengerti cuma sedikit…”, becanda…he4.
Nah, masuk ke kampung, ketika berpapasan dengan penduduk setempat, subhanalloh saya mendengar salam “Assalamu’alaikum” yang ditujukan ke saya… hati saya bener-bener terharu dan langsung saya jawab ajah “wa’alaikum salam…”, dari mana mereka tahu saya muslim? Ah…instink mereka mungkin…tak taulah…, tapi salam memang menjadi paten kita dan saya bangga akan hal tersebut.
Nah, udah sekitar pukul 11an siang, dan udah mendekati waktu sholat Jumat, saya segera bergegas menuju masjid. Dan fuila… ada sebuah masjid ditengah perkampungan ini, namanya masjid An-Ni’mah. Warna cat masjid ini kurang lazim di Indonesia yang biasanya putih, ini dicat dengan warna Pink, mungkin nih, analisis saya, warna merah muda menyimbulkan kelembutan, sehingga dipilih warna ini supaya jama’ahnya berhati dan bersikap lembut.


Langsung dah saya ambil wudhu dan masuk ke dalam dan fuila lagi… bapak Imam masjid melihat saya dengan tatapan aneh, dan mengahmpiri saya dengan senyum, yang pasti bisa bikin lumer senyum itu, he4. Tak taulah, kenapa senyumnya orang-orang yang khusu’ selalu menentramkan hati siapa saja. Sungguh karunia yang luar biasa. Selain itu mungkin karena wajah saya beda kali, dan beliau ternyata bisa bahasa Inggris. Sesuatu yang amazing bingits. Dan kata pertama adalah “Malaysia?”, kenapa bukan Indonesia? Yah ga papa, saya balas “Indonesia”. Saya diajak ngobrol kesana-kemari diteras masjid tentang tujuan saya ke Kamboja dan kegiatan saya disini hingga menjelang adzan berkumandang. Begitu ramah pak Imam menyambut saya, inilah persaudaraan muslim sejati tak kenal rasa tau suku bangsa. Damai sekali rasanya. Setelah adzan berkumandang, saya masuk ke dalam masjid untuk menjalankan ibadah Jum’ah. Dan tentu khotbah Jumat dalam bahasa Kmer, yang jelas saya tak makfum…he4, tak apa asikin ajah.


Setelah selesai sholat Jumat, biasalah… perut berontak minta jatah. Nah, pastinya nih kampung muslim pasti ada warung makan berlabel halal… dan fuila…, saya menemukan sebuah resto halal. Masakan Tradisional Kmer  tapi halal, super sekali. Jadilah saya makan makanan lokal.


Menunya banyak, dan  ditulis dalam tulisan Kmer, taulah yang bentuk tulisannya kaya cacing. Yang kelihatan cuma harga dalam dolar. Jadilah pesennya dengan nunjukin gambar menu. Saya pesen seporsi makanan dan segelas es teh (tidak masuk agenda keuangan nih…, he4, tapi gapapa, kapan lagi ngerasain kuliner asli Kmer). 


Rasanya lumayan, seperti lidah Indonesia yang suka bumbu kaya rempah. Selidik punya selidik, ni restoran adalah kepunyaan imigran asal Malaysia, tapi mak cik dan pak cik disini ga bisa bahasa Melayu, buktinya mereka ga mahfum pas ku tanya pake bahasa Melayu, berarti ini keturunan yang kesekian pastinya. Setelah selesai makan dan membayar tagihan, saya terus pulang dan menikmati hari terakhir saya di Siem Reap dengan berjalan-jalan di pusat kota Siem Reap.

17 Maret 2015

Kesempatan Yang Berbahagia

Dalam sebuah resepsi pernikahan, sering terdengar celoteh baku si pembawa acara, “Pada kesempatan yang berbahagia ini, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah…”
Berpanjang-panjang dengan celoteh yang tak mengundang kejutan, si pembawa acara akhirnya membebaskan tamu dari rasa bocan ketika menyelesaikan kalimat penutupnya : “Sekarang tibalah saatnya bagi Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan hadirin sekalian untuk menyampaikan ucapan selamat kepada kedua pengantin yang berbahagia.”
Dua kali ungkapan yang berbahagia dilafalkan, masing-masing menggandeng kata kesempatan dan pengantin. Pengantin yang berbahagia bermakna “pengantin yang merasa bahagia” atau “pengantin yang merasakan kebahagiaan” (merasa dan merasakan digunakan seperti mendengar dan mendengarkan). Namun, kesempatan yang berbahagia tidak mungkin dipahami sebagai “kesempatan yang merasa berbahagia” atau “kesempatan yang merasakan kebahagiaan.”


Yang berbahagia pada pengantin yang berbahagia berterima karena pengantin adalah nomina insani yang bersenyawa, sedangkan kesempatan bukanlah nomina yang insani dan bersenyawa. Berdasarkan kriteria itu, pemimpin dan rakyat atau polisi dan pencuri dapat berbahagia, bergembira, atau bersedih, sementara kesempatan dan peluang atau persitiwa dan kejadian tidak mungkin berperang sebagai konstituen kalimat yang mampu menanggung beban emosi seperti itu.
Dimanapun dan kapanpun kesempatan tidak akan pernah berbahagia. Ia hanya memiliki potensi untuk membuat kita sedih, gembira, atau bahagia. Pada saat itulah kita bertemu dengan kesempatan yang menyedihkan, menggembirakan atau membahagiakan.
Sara saya kepada si pembawa acara : gantilah celoteh anda dengan “Pada kesempatan yang membahagiakan ini, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah…”
Dari persoalan siapa yang berbahagia kita beralih pada masalah siapa membohongi siapa yang bentuk pengungkapannya mungkin belum memberikan ketenangan batin bagi sebagian diantara kita. Ketika seorang pejabat atau tokoh masyarakat memberikan penjelasan atau ketenangan batin bagi sebagian diantara kita. Ketika seorang pejabat atau tokoh mesyarakat memberikan penjelasan atau keterangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, dengan serta merta kita pun mengemukakan penilaian dengan menyatakan bahwa yang bersangkutan telah melakukan kebohongan publik. Kalau dianalogikan dengan kekayaan pribadi yang bermakna “kekayaan milik pribadi”, maka kebohongan publik tidak dapat ditafsirkan lain kecuali “kebohongan milik public atau milik masyarakat.”
Tafsiran yang demikian akan memunculkan pertanyaan bernada protes ihwal siapa yang dibohongi publik atau kepada siapa publik berbohong karena hakikatnya, penggunaan  kebohongan  publik telah mengakibatkan terjadinya pemutarbalikan (dilihat dari segi kebenaran) atau pemutarbalikan peran (ditinjau dari sisi partisipan komunikasi). Kalau yang hendak diungkapkan ialah konsep yang merujuk pada proses, cara atau perbuatan membohongi publik, yang harus digunakan ialah pembohongan publik.
Kerancuan berbahasa pada dasarnya identik dengan ketidakcermatan berbahasa. Penyebabnya, kita jarang atau bahkan tidak pernah mempertanyakannya, termasuk kepada diri kita sendiri. Atau boleh jadi hal itu memang tidak perlu dipersoalkan. Bukankah kita sudah terbiasa dengan cara berbahasa seperti itu? Bukankah orang lain pun berbahasa dengan cara yang kurang lebih sama seperti kita? Dan karena bahasa merupakan perwujudan dari konvensi atau kesepakatan bersama masyarakat penuturnya, bukankah perilaku berbahasa yang kolektif seharusnya lebih penting dari lebih bermanfaat daripada yang tidak “guyub”?
Fungsi utama bahasa selain sebagai sarana berkomunikasi, juga sarana berfikir. Muaranya kecermatan berbahasa. Dalam konstelasi itu, agaknya kita perlu memahami yang tersurat dan tersirat di balik pandangan seorang wakil Papuan pada Kongres Kebudayaan di Bukittinggi tahun lalu. Seperti yang dilaporkan Rosihan Anwar di Kompas pada 6 November 2003, wakil Papua itu berucap : “kami menyesal belajar bahasa Indonesia secara baik dan benar karena kemudian terbukti di luar kami, bahasa Indonesia mereka sangat kacau.”



Daftar Pustaka :
Gambar diambil dari : https://nasrulchair.files.wordpress.com/2011/02/nasrul-saat-sambutan.jpg
Artikel disadur dan diolah dari Kolom Bahasa Kompas