10 Agustus 2016

Penggalan Kisah Hidupku

Jika boleh buka kartu, profesi yang saya impikan sejak kecil adalah menjadi seorang pilot. Pilot merupakan motivasi hidup buat saya, merupakan sebuah impian yang membuat saya rajin belajar hingga ke jenjang SMA. Saya tidak ada alternative dengan profesi lain, saya hanya focus mengejar cita-cita saya itu, dan tak pernah menyiapkan rencana cadangan. Mulai dari olah raga, menjaga makan hingga berenang dan tidak merokok semua itu saya tempuh demi memuluskan rencana yang dahulu telah disusun. 
Dalam pelajaran, hingga lepas kelas 10 prestasi saya tidak termasuk yang menonjol. Salah satu nilai terbaik yang saya dapat adalah mata pelajaran olah raga yang saat itu meraih nilai 9 di raport, selain itu hanya elektronika yang saya anggap menyenangkan dan saya juga mendapat nilai 9 pada mata pelajaran ini. Tak ada cerita kimia dalam “diary” atau pembahasan tentang masa depan saya. Mapel kimia hanyalah pelengkap, tiada yang spesial. Seperti yang dikatakan Azwar (1990) bahwa kemampuan intelektual yang bersifat umum (inteligensi) dan kemampuan yang bersifat khusus (bakat) merupakan modal dasar utama dalam usaha mencapai prestasi pendidikan, namun keduanya tidak akan banyak berarti apabila siswa sebagai individu tidak memiliki motivasi untuk berprestasi sebaik-baiknya. Sehingga nilai saya pas-pasan. Namun itu berubah total setelah sebuah kejadian yang mengubah jalan hidup saya.




Sebagai siswa pria yang umum dan random, tentu suka permainan sepak bola dan kebiasaan taruhan sudah lazim menjadi hobi saat akhir pekan, dimana kita mendukung tim kesayangan akan menang. Uangnya emang tidak seberapa, namun itu serasa berarti, menunjukan eksistensi dan dukungan pada tim favorit di liga. Kebiasaan ini, terbawa dalam pelajaran. Di awal kelas 11 ada seorang guru kimia yang tersohor memiliki kemampuan indera ke enam mampu membaca pikiran, sehingga tidak ada yang bisa bohong dengan beliau atau mencontek ketika beliau mengawas. Obrolan-obrolan seputar beliau ini tak berhenti, dan saya termasuk yang menolak dan tak percaya akan hal takhayul semacam itu.
Ini menariknya, ketika ulangan bab stoikiometri larutan kelas 11, kerena ketidak percayaan tentang rumor itu, saya ditantang temen-temen untuk nyontek di ulangan itu, bukanya saya tidak belajar atau tidak siap mengahadapi tes, tapi tawaran traktiran selama seminggu begitu menggiurkan, kata temen saya hanya perlu mengeluarkan kertas contekan selama 1 menit di meja dan membacanya, udah cukup dan ketika tidak ketahuan maka mereka akan menganggap saya menang. Baiklah, sebuah tantangan yang saya anggap enteng dan sepele.
Malam sebelum tes saya siapkan contekan ukuran 4x5 cm yang didalamnya saya tulis berbagai macam rumus larutan sampai pH, hanya itu dan keesokan paginya saya datang paling awal dan duduk di bagian paling kanan depan dekat pintu masuk, sebuah black spot, area yang paling sulit diamati guru, karena untuk melihat kearah saya harus menoleh 90o ke kiri dan saya masih terhalang teman sebangku, sehingga ideal lokasi ini untuk mencontek karena meja guru letaknya di bagian kiri kelas dekat dengan dinding. Jam tes telah tiba, dan kertas soal dibagikan, setelah saya selesai mengerjakan soal, saya iseng mengeluarkan contekan dan temen saya mengamati, tidak hanya semenit, saya mengeluarkannya sampai waktu tes akan berakhir, dan saya tidak ketahuan. Kesuksesan besar, makan gratis sudah terbayang selama seminggu.
Namun keesokan harinya ketika kertas ulangan itu dibagikan, hal yang luar biasa terjadi. Ketika pak Guru kimia baru masuk kelas, langsung menatap saya dengan tajam. Pandangan yang mungkin hanya sedetik itu telah membuat jantung saya berdegub kencang, keringat dingin mengalir deras, rasa khawatir membuncah. Dan benar, kertas ulangan saya tidak dibagikan, dan saya harus datang ke kantor setelah pulang sekolah. Saya takut tidak kepalang, namun guru saya tak pernah mengatakan apa alasan kertas ulangan saya tidak dibagikan, apakah saya nyontek atau remedial, sebuah misteri hingga kini, namun satu hal, saya tes ulang. Namun persepsi temen-temen tentang kejadian ini bahwa saya ketahuan mencontek telah menyebarluas, dimana-mana saya di bully dengan kata “ketahuan nyontek”. “Kuwalat” mungkin dalam bahasa Jawa alias karma yang saya dapat karena berbuat tak pantas kepada guru tercinta. Sejak saat itulah saya berubah, menjadi lebih menghargai bapak/ibu guru dan kimia yang sebelumnya bukan mata pelajaran favorit, kini menjadi berkesan tiap materinya, menjadi sesuatu yang berat untuk dilewatkan, karena saya ingin buktikan bahwa saya nyontek karena khilaf tergiur rayuan traktiran.
Ketika akhir kelas 12, saya tak lagi mengandalkan olah raga dan elektronika, kini sudah ada kimia yang menemani. Saya mendapatkan poin 9 dimata pelajaran ini, sungguh luar biasa, sengsara membawa nikmat mungkin setelah kejadian itu saya jadi suka mapel kimia. Saat akhir masa di SMA saya mencoba mendaftar sekolah pilot di Adi Soemarmo, tes – tes fisik dan kemampuan akademik telah saya lalui dengan mulus, namun ketika dihadapkan dengan biaya yang mencapai ratusan juta, saya takluk. Saya hanya anak petani yang tak kuasa mendapatkan dana sebanyak itu, saya menyerah dan saya hampir frustasi.
Ada sebuah tawaran dari bapak Guru kimia bahwa ada beasiswa dari UNS di jurusan pendidikan kimia. Katanya belum ada yang berminat, maklum saja profesi guru dimasa itu masih dipandang sebelah mata. Beasiswa ini hanya akan mengambil 1 siswa dari SMA saya, begitu kata beliau. Dengan hati yang masih sedih, saya putuskan untuk mendaftar program itu, dan akhirnya selang sebulan, saya dinyatakan diterima di Jurusan Pendidikan Kimia melalui jalur beasiswa. Sebuah hal yang biasa, saya tidak surprised dengan ini, karena kegagalan mendapatkan impian kecil saya itu. Tapi tak apa mungkin ini jalan terbaik saya dari Yang Maha Kuasa.
Saat kuliah, saya termasuk bukan yang berprestasi. IPK saya tidak terlalu bagus, pas-pasanlah. Tapi alhamdulillah lancar, kuliahnya tanpa teresendat. Dari kuliah inilah saya banyak mendapat pencerahan bagaimana mulianya tugas guru, bagaimana beratnya pula menjadi seorang guru yang bertugas menjadi “agen perubahan”. Saya ingat betul bagaimana pesan Dekan FKIP UNS saat menyambut kami di fakultas, bahwa ketika kalian memutuskan menjadi guru, bersiaplah untuk tidak kaya dan berpenghasilan besar, karena tuhanlah yang akan menggaji kalian dengan syurga. Luar biasa petuah professor saya ini, membakar semangat kami. Sampai kuliah selesai, saya selalu bersemangat akan siswa-siswaku yang kelas akan kutemui.
Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu”, (HR. Thabrani). Begitu berat tugas guru yang tak hanya mengantar siswa memahami kimia sebagai cabang dari sains, namun juga pengejawantahanya agar mempu meningkakan ketaqwaan kepada Tuhan menjadi motivasi tersendiri bagi saya.
Sekolah pertama tempat saya mengabdi adalah SBBS atau Sragen Bilingual Boarding School, sekolah negeri yang tersohor di Jawa Tengah, sekolahnya para juara, karena hanya dalam waktu tiga tahun berdiri, sekolah ini telah mengoleksi 300 lebih penghargaan di berbagai kerjuaraan, sebuah Rekor MURI yang sulit ditandingi sekolah lain. Di sekolah ini saya dikontrak selama setahun percobaan sebagai guru pengganti. Fresh graduate, yang dipercaya mengelola kelas, sungguh tantangan besar. Namun saya tak mendapat hambatan berarti di tempat ini, anaknya begitu patuh, cerdas dan mereka begitu kooperatif dengan guru, saya menikmati bagaimana menjadi guru. Menyenangkan sekali, wah ternyata menjadi guru tak seberat yang dikatakan orang.
Di tahun kedua, saya ditawari untuk mengajar di sebuah sekolah swasta laki-laki di depok, dengan status guru tetap dan fasilitas lengkap.Wah, tanpa ragu saya terima tawaran itu. Dan di tempat inilah, saya baru merasakan cobaan sebenarnya memilih profesi guru.
Di hari pertama saya, ngajar, dengan hati berbunga-bunga, saya masuk kelas dan memberi salam kepada siswa. Namun bagaimana saya terkejutnya, tidak satupun siswa di kelas itu menyambut salam saya, mereka kompak mengacuhkan saya. Pelajaran tidak berlangsung kondusif, bahwa ketika saya meminta siswa membuka buku, mereka tidak nurut. Mereka memilih membaca buku pelajaran kelas lain. Kejadian ini berlangsung sampai dua kali pertemuan, saya hampir menyerah. Saya bahkan melakukan penyelidikan khusus, namun tak pula mendapat kejelasan apa yang menyebabkan mereka seperti itu, saya benar-benar di coba. Dipertemuan ke tiga saya udah tidak sabar lagi, saya secara spontan menantang mereka berkelahi untuk menyelesaikan masalah ini atau mereka mengaku apa yang menyebabkan sikap kepada saya.
Akhirnya mereka mengaku, kalau saya adalah penyebab guru yang mereka sayangi sebelumnya dikeluarkan, seorang guru perempuan yang menjadi idola dikelas itu. Oke, saya paham masalah ini sekarang, karena jarangnya guru perempuan di sekolah ini, apalagi guru sebelum saya adalah muda dan single tentu menjadi “oase” ditengah kegersangan gender di sekolah ini. Ah, sepele sekali, namun ini tantangan besar, menarik perhatian dari seseorang yang telah cinta dengan orang lain, menjadi menyukai kita.
Seperti Naim, 2013 dalam bukunya mengatakan “kemampuan guru inspiratif membangun iklim pembelajaran yang semakin menyuburkan arti dan makna inspiratif akan meningkatkan motivasi”, saya berupaya mengaplikasikan semua ilmu yang saya dapat di kuliah untuk mendapat perhatian mereka, dan sengaja saya sering ajak meraka jalan-jalan untuk studi tour seperti kunjungan industri dan kunjungan ke puspitek Serpong. Setelah berjuang sekian lama mengambil hati mereka. Setelah berjuang hampir satu semester akhirnya saya bisa mendapatkan hati mereka. Di semester kedua, mereka perhatian dengan kimia dan mereka tertarik dengan kelas saya. Mereka juga meminta maaf atas kejadian itu, dan sadar bahwa tindakan mereka adalah kekanak-kanakan. Satu lagi pengalaman berharga saya dapat, bahwa semangat dan perhatian dalam pelajaran adalah hal yang paling penting daripada pelajaran itu sendiri. Jika tanpa keduanya, maka sebagus apapun penyampai materi atau materinya, makan tidak akan pernah bisa diserap oleh siswa, dan sebaliknya dengan semangat dan perhatian sesulit apapun materi akan dengan mudah ditaklukan dan dihadapi.


26 Juli 2016

Belajar Dari Brexit

Dunia kini berada dalam keadaan resesi berkepanjangan. Kemerosotan ekonomi global yang teramat kejam telah membawa sejumlah negeri dalam kebangkrutan. Tengok Angola, baru beberapa bulan dinobatkan sebagai “fail state” karena tak sanggup menanggung hutang luar negeri. Setali tiga uang dengan Yunani, tunggakan kredit yang mencapai lima ribu trilyun, itu nolnya kalo tidak salah ada lima belas, terpaksa mengemis belas kasihan kepada negara regional yang menopang kawasan perenonomian mata uang Euro, macam Jerman dan Inggris. Kejam bener ancaman resesi ini, lebih kejam kurasa daripada penolakan calon mertua.


Fenomena Brexit (British Exit) yang mengemuka beberapa bulan lalu merupakan reaksi keras bangsa Britania atas masalah resesi global yang menyeret kawasan Euro kedalam jurang kebangkrutan. Sejarah kerjasama kawasan Uni Eropa yang dimulai 40 tahun lalu itu nampaknya kini tak harmonis lagi. Masalah terbesar adalah karena Inggris terlalu menjadi tumpuan. Tengok saja, Inggris menjadi penyandang dana terbesar kawasan hingga mencapi hampir 30 % yang hanya selisih 1 digit dengan Jerman. Masalah terbesar kawasan ini adalah bangkrutnya Yunani dalam menyebabkan Inggris menjadi tumbal karena harus ikut menanggung dampak yang ditimbulkan Yunani.
Faktor lain yang membuat Inggris galau adalah banyaknya imigran yang mencapai 100 ribu orang pertahun masuk ke Inggris dari negara Uni Eropa, sebagai akibat kesepakatan kawasan bahwa setiap warga Uni Eropa bebas keluar masuk dan bekerja di semua negara anggotanya. Tentu masalah ini sangatlah pelik, membuat warga Inggris sendiri harus bersaing dengan imigran, sehingga ex officio pengangguran meningkat dan gejolak sosial bermunculan bak cendawan di musim penghujan.
Hal inilah yang memaksa Inggris menyelematkan dan mengamankan hajat hidup rakyatnya, pilihan berat harus diambil meskipun tak sedikit yang menolak. Tak  ada mufakat, voting pun diangkat. Semua pihak berusaha mengkapanyekan ide “in” or “out” dari Uni eropa. Jajak pendapat semua rakyat menjadi mutlak, dan ini menjadikan kursi perdana menteri menjadi panas, David Cameron harus rela terdepak jika “Brexit” berhasil di gol-kan kaum oposan yang dipimpin Theresa May.
Bukan tak berfikir keras juga sebetulnya kaum oposan ketika mengajukan Brexit keparlemen Inggris. Bagaikan makan buah simalakama, mudharat yang ditimbulkan ketika Inggris keluar dari Uni eropa juga sama besar jika tetap bertahan di dalamnya. Mata uang Poundsterling bakalan terjun bebas nilainya yang pasti berdampak pada bursa efek Inggris. Selain itu, sebagai penanam modal terbesar, Inggris harus kehilangan banyak investasi, kehilangan banyak hak dan keistimewaan dalam perdagangan regional yang sebelumnya mereka dapatkan. Namun apa boleh buat, kepentingan nasional menjadi prioritas. Hajat hidup rakyat Inggris harus diutamakan, tiada yang lain.
Ketika jajak pendapat diumumkan, ternyata sebagian besar rakyat Inggris yaitu sekitar 61% memilih memisahkan diri dari Uni Eropa. Sejarah baru telah dituliskan, salah satu pendiri dan pemrakarsa Uni Eropa harus menjadi yang yang pertama meninggalkan apa yang dulu dirintisnya, menjadikan negara itu kini sendirian di Eropa Barat. Terpisah seperti fitrahnya, terpisah dari Eropa daratan.
Beberapa pelajaran penting dari kasus Brexit untuk politik Indonesia. Pertama, meskipun secara ekonomi menguntungkan pemerintahan, namun kepentingan nasional menjadi prioritas, hajat hidup rakyat adalah hal utama yang harus dikedepankan. Bagaimana dampak Uni Eropa terhadap lapangan pekerjaan di Inggris begitu terasa dengan mengalirkan ratusan ribu imigran ke Inggris, praktis dengan Brexit mereka harus angkat kaki dari tanah Britania. Berbalik dengan kita, dengan adanya MEA dan ACFTA kita seakan membuka keran pekerja asing secara besar-besaran tanpa ada kualifikasi jelas. Ratusan ribu pekerja illegal China dengan mudahnya memasuki kawasan Indonesia. Bagaimana lahan-lahan pekerjaan yang seharusnya mampu di ampu oleh pekerja dalam negeri kini dinikmati pekerja expatriate. Dengan gaji yang jauh lebih tinggi, dengan fasilitas yang diberikan kepada mereka lebih bagus. Dengan memperlakukan bangsa sendiri seperti ini, Pancasila dan UUD 1945 hanya pepesan kosong, jauh panggang dari api.
Kedua, bagaimana oposan juga harus mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa harus melupakan kepentingan nasional. Bagaimana program Brexit ini dilatarbelakangi keinginan Inggris untuk mandiri, mengelola kepentingan ekonomi dan politik mereka terlepas dari intervensi kawasan layak diacungi jempol. Oposan bertindak atas dasar kepentingan rakyat, bukan semata-mata demi menjegal pemerintahan. Jadi ada balancing kekuasaan di parlemen, sebuah pembelajaran bahwa rival merupakan tempat pengujian gagasan, bukan lawan yang harus ditumpas dan diberangus. Di dalam negeri kita, politik merupakan gerakan setuju berarti rangkul dan menolak berarti musuh, politik pragmatis yang mengedepankan urat dan otot. Maklum saja, budaya berpolitik di Indonesia tak jauh dari mencari rente, parpol mencomot secara instan kader-kader politik dengan siapa berani “menyetor” modal ke partai pengusung, bukan kualitas dan gagasan yang menjadi saringan. Sungguh naas, kita bak ayam mati di lumbung padi. Terlalu ironis, negara subur makmur namun miskin tak berdaya.

Sudah saatnya bangsa ini bangkit dan para pemimpin merealisasikan gagasan yang telah mereka sampaikan saat berkampanye, bahwa kepentingan nasional-lah yang harusnya menjadi prioritas, bukan hanya rente, balas budi kepada pemberi modal kampanye. Sebuah pembelajaran dari Brexit, dari tanah Britania yang maju secara demokrasi dan ekonomi namun tetap saja masih khawatir dengan dirinya, berhati-hati dalam menyikapi kebijakan dan berpihak kepada rakyat bangsa sendiri.