24 Oktober 2014

Antalya, Pesona Laut Tengah (bagian 1)

Saat itu pertengahan bulan Feburari, masih di tengah musim dingin bersalju di Turki. Asyiknya tinggal di negeri bermusim dingin, maka akan ada liburan musim dingin. Kala puncak musim dingin seperti bulan Februari, kita akan mendapat liburan selama 3 hari. Nah kesempatan emas ini takan pernah saya sia-siakan, maklum jadwal penuh mengajar membuat saya setres dan jenuh.... Tamasya mungkin akan mengembalikan kebugaran jasmani dan rohani saya...he4


Salah satu destinasi yang masuk dalam planing saya adalah mengunjungi Antalya, kota pelabuhan dan pantai di Selatan Turki yang banyak menyimpan sejarah masa lampau dan keindahan pantainya itu membuat saya penasaran. Setelah mengepak semua perlengkapan, saya berangkat pagi sekitar pukul 7 waktu Ankara. Maklum, bus berangkat pukul 8 dan perjalanan memakan waktu 6 jam, berharap sampai di kota Antalya hari masih terang dan masih sempat jalan-jalan dulu sebelum malam.
Seperti biasa, bus berangkat dari Asti pukul 8 tepat. On Time bingits pokoknya... Kali ini saya tidak kebagian tiket bus Metro, jadi saya naik bus PO. Pamukale kelas ekonomui (he4). Ini pertama kalinya saya naik bus ini untuk bepergian. Busnya ternyata lumayan, dan g jauh beda dengan Metro. Emang lebih murah sih, 40 TL (200 rb), tapi bus metro lebih gagah dan pelayannnya memuaskan. Jangan salah bus Ekonomi di Turki sama levelnya dengan bus Eksekutif di Indonesia, tempat duduk lega, dapat selimut dan bantal plus ada pemanasnya.


Wus..wus... tak terasa 3 jam sudah berkendara, Pramugara membangunkan saya untuk mendapatkan kudapan siang . Bus-bus jarak jauh disini memang seperti pesawat. Ada pelayanan makan dalam bus, ada Pramugaranya lagi (kalo yang kelas eksekutif katanya pramugari yang caem2...he4). Saya hanya mendapat snack bukan makan besar, banyak pilihan sih... saya ambil susu dan roti, tu cukup he4. 
Pukul 1 siang, bus berhenti di sebuah terminal antah berantah. Para penumpang turun untuk menyelesaikan hajatnya. Ada yang makan, ada yang ke kamar mandi, dan saya pun ikut turun, mau sholat ceritanya. 
Muter-muter tak menemukan tempat Sholat, kahirnya saya jalan keluar dari terminal dan fuila... ada mushola,,, selamat deh... tapi air wudhunya tidak ada pemanas, jadi harus wudhu dengan air yang duingin bingits... bayangkan, suhu hampir nol men... tetep wudhu sih, tapi langsung piteren.. (orang jawa tahulah...), setelah sholah cari bekal dan minum terus naik bus lagi.
Bus kembali meneruskan perjalanan dan sampai di terminal Antalya pukul 3 sore. Terminal Antalya kecil dan ga ramai, lebih ramai Tirtonadi...(he4, apapaan sih?). Ternyata aneh sekali, di Antalya meskipun musim dingin tapi tak ada salju. Seperti berada di negara berbeda saja, katanya sih karena pengaruh angin dari Afrika dan Arab, maka suhu di Antalya tidak sedingin di wilayah Turki lain, jadi masyarakat Antalya tak akan pernah melihat salju di kotanya.
Setengah jam menunggu, ada seorang berwajah jawa menyapa saya..., dialah mas Kuncoro. Seorang mahasiswa asli Indonesia berdarah Jawa yang akan mengantar dan memandu berkeliling selama saya di kota ini. Saya emndapat nomor telefon beliau dari mas Faiz yang ada di Konya (baca petualangan saya di konya, klik di sini ). Sambatan yang sangat hangat khas orang Jawa, seperti saudara yang telah lama tidak berjumpa. Yah saudara, saudara setanah air.


Kami berjalan menuju apartemen mas Kuncoro yang berada dekat pusat kota Antalya dengan jalan kaki. Lumayan lah sekitar 3 km. Tapi itu g masalah, sambil cuci mata, soalnya Antalya adalah destinasi utama di Turki selain Istambul dan Ankara, jadi banyak turis juga dari Eropa...he4
"Flate" mas Kuncoro bersebelahan dengan Antalya university, tipikal flate yang ada memang mirip dengan flate mahasiswa Ankara. 1 apartemen di huni 5 hingga 6 mahasiswa (jadi bakalan ramai). 
Sampai di apartemen, saya di sambut mahasiswa dari berbagai macam negara. Ada Maroko, Nigeria, Turki dan Italia..., wah seperti inilah persahabatan kaum muslim sejati, tidak mengenal ras dan negara.
Malam telah menjelang, saatnya sholat Magrib, kitapun sholat magrib berjamaah di flate. Masjid agak jauh memang, jadi ruangan 4 x 5 m itu digunakan sebagai tempat tidur, makan dan sholat sekaligus. 
Ngomong-ngomong makan ni, keliatanya mas Kuncoro dan rekannya telah menyiapkan hidangan makan malam dan saya pun diajak makan bersama. Makanan Turki normal, corba dengan roti dan ayran. 

Setelah makan, kita ngobrol kesana-kemari pokoknya ngobrolin Indonesia, ngobrolin studi kita bahkan sampai ngobrolin calon Istri (jadi kebetulan kita sama2 jomblo...ha4). Sepertinya kita merasa senasib dan sepenanggungan...he4
Setelah lelah saya pun tidur, dan mempersiapkan energi untuk berkeliling esok hari. 



Menjelajah Phnom Penh (Bagian I)

Pagi itu hari ke 15 bulan Mei 2014, kesampaian juga diriku menapaki bumi Kamboja yang telah lama daku tulis dalam agenda. Benar memang, keinginan sekecil apapun harus ditulis, supaya jadi kenyataan... begitulah kira-kira. Perjalanan ke Kamboja sendiri sudah kurancang 2 tahun sebelumnya. tiketpun setahun sebelumnya sudah ku beli. Jam 8.00 waktu setempat, pesawat Mandala-Tiger Air dari Jogja mendarat mulus di Phnom Penh International Airport. Jangan dibayangin bandara ini ramai seperti Jakarta atau Jogja. Bandaranya relatif sepi, tak banyak penerbangan, jauh lebih bagus dan ramai bandara Adi Sumarmo di kampung tercinta.
Setelah mendarat dan cek di bagian imigrasi untuk mendapat stempel dan woila, tak perlu bayar visa... WNI bebas keluar masuk Kamboja, hee4.


Keluar bandara, langsung banyak tawaran taksi dan tuktuk (kaya bentor kalo di Medan) dan harganya men, mahal abis... mereka menawarkan harga 30 dolar buat nganter dari bandara sampe penginapan di pusat kota. Weleh... mahal bingits (untuk bocoran, anggaran saya selama di kota ini hanya 25 dolar saja, he4). Jadi saya tawar dengan kejam, 5 dolar, dan mereka pun menolak dengan kejam pula...he4. Begitu seterusnya hingga saya berjalan kira-kira 1 km keluar bandara. Harga kompakan 30 dolar. Jangan heran di Kamboja mata uang dolar Amerika lebih laku dipakai dari pada mata uang Riel Kamboja. Ga Tau kenapa dah... padahal kursnya lebih tinggi dari Rupiah lho... 1 dolar Amerika setara dengan 5000 Riel Kamboja. nah lho gimana Kurs Indonesia kalah ma Kamboja. Ga perlu dipikirin dah...he4
Karena tak kunjung ada tuk-tuk yang mau terima tawaran saya, saya akhirnya mengeluarkan peta yang telah saya prin dari "google maps" sebelumnya. Dah woila... jarak dari bandara ke penginapan sekitar 15 km, wow... dan kalo jalan kaki bisa memakan waktu 3-4 jam.
Tapi ga pa2, saya coba niatkan untuk berjalan, karena berdasar peta,tak jauh saya akan nyampek di pasar kota, dan pastinya nyari sarapan dan berharap ada tuk-tuk yang mau di bayar murah buat nganter saya.
Beruntung juga, ternyata tepat ketika saya datang adalah puncak perayaan ulang tahun Raja Kamboja, entah lah siapa namanya..he4, tapi foto-foto beliau ada dimana-mana sepanjang jalan kota. Saking sayangnya mungkin rakyat kepada rajanya begitulah kira-kira.
Saya sempat jeprat-jepret kegiatan ibadah warga sini untuk mendoakan sang raja, karena mayoritas warga Kamboja adalah beragama Budha, jadi jangan heran kalo banyak biksu.
Karena peta yang saya bawa tidak terlalu jelas (peta gratis soalnya), saya putuskan bertanya polisi. Nah, mereka sangat ramah, tapi sayang g bisa bahasa Inggris. Jadi terpaksa kami berkomunikasi pake bahasa Tarzan... (taulah maksud saya, he4)
Yah, ditunjukinlah saya ke jalan yang benar..., meski tak tahu apa yang beliau ucapkan, setidaknya daku tahu kalo tidak tersesat. Setengah jam melalaui jalan Charles de Gaulle, sampailah saya ke pasar kota dan segera saya cari makan buat sarapan... alamak... makanan disini bener2 tidak sesuai dengan saya, daging babi ada dimana-mana, dan akhirnya saya cuma beli roti dan melon, habis 2 dolar, lumayan murah..., yang penting perut terisilah (kere banget pokoke..., he4)


Tidak seperti di Indonesia, kendaran berjalan di sisi kanan jalan. Lalu lintas di Kamboja kacau balau, yah mirip Jakarta. Orang melawan arus udah biasa, dan jangan salah klakson tidak banyak bunyi. Mungkin di maklumi. Tapi ekstriman Jakarta saya fikir, trotoar aja tembus tu oleh para bikers, terus kemacetan huft... capek pokoknya kalo ngomongin macetnya Jakarta....
Nah, udah sejam saya jalan capek juga ternyata, saya duduk di depan Universitas Nasional Kamboja, kebetulan rimbun dan sambil minum air mineral 600 mL seharga setengah dolar.
Saat duduk mengusir lelah, ada tuk-tuk yang nyamperin... sopirnya lumayan bisa English. 10 dolar katanya buat ke pusat kota, yah masih mahal... saya tawar 3 dolar.. (kejam benar), dia bilang 5 dolar, tapi saya menolak... akhirnya dia menyerah dan 3 dolar untuk sampai ke penginapan, horeee... Saya tunjukin, kertas bookingan guest house saya, kami segera melaju...
setengah jam muter-muter, tak ketemu juga tempatnya, kasian juga, tapi bodo amat.. kenal ja nggak, he4 (ala-ala Bintang Bete). Abangnya nanya berulang-ulang sama temenya. Akhirnya setelah capek muter-muter, kita nyampek juga di  Longlin House, Street 19, No.159 Daun Penh, Phnom Penh, Kamboja, bisa webnya di cek di sini. Karena kasian muter-muter akhirnya emasnya saya tawarin order buat Tour Keliling Phnom Penh esok hari, di ngasih harga 10 dolar saya tawar 3 dolar...deal 5 dolar...he4. Okelah... besok jam 9 pagi sampai 1 siang kita kan kelilling kota raja Phnom Penh dengan tuk-tuk...he4.
Setelah kelar urusan dengan abang tuk-tuk, saya langsung ke lobi hotel (guest house maksudnya) dan konfirmasi booking. 2 hari 10 dolar, 1 kamar single bed dengan kipaas angin... tempatnya recomended lah dari saya banget deh, pusat kota, terus deket minimarket, bisa pesen tiket bus dan ada tempat jemur pakaian pula... jadi g perlu londri, bisa nyuci sendiri terus juga aman dan ramah.
Setelah bayar booking, saya langsung diantar menuju kamar. Karena capek luar biasa, saya putuskan untuk tidur dah... rencana nanti sore mau jalan-jalan ke Sungai yang terkenal di Kamboja...