24 November 2014

Menjelajah Phnom Penh (Bagian II)

Sore itu jalanan kota Phnom Penh begitu ramai dengan aktifitas warganya. Terutama, di daerah sekitar istana raja. Phnom Penh merupakan ibukota kerajaan Kamboja. Kota ini juga merupakan kota raja, artinya raja tinggal disini, maklum Kamboja dipimpin seorang raja. Dan warganya begitu patuh dan menghormati sang raja.


Kesibukan di jalanan kota menggelitik saya untuk ikut larut dalam keramaian. Habis magrib saya putuskan keluar hotel (padahal guest house) menuju pusat kota raja ini. Cukup dengan jalan kaki jika ingin mengunjungi tempat penting, beruntung hotel yang saya tempati dekat dengan tempat-tempay itu.
Mirip dengan Jakarta, jalan-jalan disini dipenuhi pusat jajanan malam hari, banyak penjual makanan dan minuman serta pusat hiburan. Dengan mudah anda akan menemukan makanan khas khmer. Eits…, meskipun perut lapar saya harus menahan diri, daging babi dan anjing dimana-mana…euh…he4. Karena perut keroncongan, sambil jalan saya coba lirik kanan kiri siapa tahu nemu penjual makanan halal, namun penantian saya itu sia-sia. Sepanjang jalan yang saya lalui hanya ada pub, bar dan penjual menu daging babi. Ah, akhirnya malam ini saya harus kembali makan mi instan untuk bertahan hidup…, ya udah ga pa2… Kecewa ga nemu makana halal, untuk mengganjal sementara, saya masuk ke minimarket buat cari makanan ringan. Busyet, produk-produk di sini sebagian besar made in Indonesia, mulai dari sabun sampai rokok. Ah, saya ambil sebungkus oreo coklat seharga sedolar.
Satu hal lagi, pengalaman saya disini… banyak jasa kurir yang menawari kita “wisata malam”, tahulah maksud saya. Meskipun saya menolak, mereka terus membututi kita dengan menunjukan foto-foto gadis dengan pakaian minim ples harganya, mulai dari wanita kmer, mandarin sampai melayu ditunjukan…, Hem… siapa yang g tergoda? Mereka mau pergi setelah saya bilang saya ga punya uang, he4… malu juga ngaku begitu..he4. Tapi ga apa, dari pada saya boong, he4.


30 menit jalan  dari hotel, saya nyampek sungai terpanjang di asia tenggara, sungai Mekong. Sungai ini membelah kota raja ini menjadi 2 sisi. Sisi utara merupakan daerah utama dari kota. Dan daerah selatan adalah daerah kumuh, disana hidup suku-suku asli dan beberapa suku dari Vietnam. Kehidupan di kedua sisi begitu berbeda. Satu sisi sangat modern dan sisi yang lain masih tradisional. Malam itu begitu ramai. Banyak anak bermain sepakbola di tepian sungai. Kalo anda mau, ada juga perahu wisata untuk berkeliling sungai. Tarif cukup murah, hanya 5 dolar.
Semua kegiatan malam ini memang terpusat di sekitaran Me Kong. Benar saja, ternyata Istana raja dan beberapa kuil besar dan penting ada di tepi sungai Me Kong. Aktifitas ramai di jalanan kota ini, ternyata adalah puncak perayaan ulang tahun Raja Kamboja. Masyarakat berkumpul di halaman Istana untuk bersembahyang mendoakan sang raja. Mereka membawa bunga dan membakar dupa di sepanjang pagoda dan kuil yang ada disekitaran istana.
Raja yang berkuasa di Kamboja saat ini adalah Norodom Sihamoni. Kerajaan Kamboja adalah sebuah negara berbentuk monarki konstitusional di Asia Tenggara. Negara ini merupakan penerus Kekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh Semenanjung Indochina antara abad ke-11 dan 14. Sedangkan Perdana Menteri dijabat Hun Sen. 


Setalah berakhirnya penjajahan Perancis, muncul tragedi perang saudara yang berkepanjangan dimasa pemerintahan Norodom Sihanouk. Perang saudara ini telah meluluh lantahkan peradaban di Kamboja serta struktur sosial masyarakat. Inilah alasan mengapa Kamboja masih menjadi tertinggal di antara negara ASEAN yang lain.
Negara kita memiliki hubungan yang baik dengan Kamboja, salah satunya adalah kerjasama militer. Perwira-perwira Kamboja dahulunya dididik oleh TNI sehingga sampai sekarang, perwira militer Kamboja diwajibkan bisa berbahasa Indonesia, karena diktat - diktat militer berasal dari Indonesia. Inilah mengapa, banyak barang buatan Indonesia mudah sekali di temui di Kamboja, dan kita orang Indonesia di sambut baik di negeri ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, setelah puas cuci mata dan melihat perayaan ulang tahun sang raja, waktunya kembali ke penginapan untuk makan malam dan istirahat.


6 November 2014

Muhammad Al-Fatih

Saat itu awal tahun 1453. SInggasana Kristen Romawi Timur  Byzantium seakan dilanda gempa. Serbuan jenderal muda berusia 21 tahun yang memimpin pasukan Turki telah membuat gentar tentara Kristen. Di bawah kepemimpinan jenderal muda itu pasukan Turki tersohor sebagai rahib di malam hari, singa di siang hari. Mereka mengisi malam-malam yang berlalu dengan tunduk dan merendah di hadapan Rabb mereka. Sedu-sedu tangis tak pernah henti terdengar sepanjang malam di sela-sela lantunan lirih bacaan ayat Al Qur’an yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Sementara di siang hari belum pernah terlihat pasukan yang mencari kematian seperti mereka. Kota-kota dan desa-desa di sekitar Konstantinopel telah ditaklukan. Al-Fatih, begitu orang-orang menyebut nama jenderal muda itu,menyiapkan serangan untuk menaklukan Konstantinopel dengan sangat matang. Ia memang dikenal berotak brilian, ahli strategi perang dan ahli membuat senjata.


Hari itu, 6 April 1453 pengepungan utama kota Konstantinopel dilaksanakan. Al-Fatih dan pasukannya telah mendirikan kemah lebih kurang lima mil dil luar tembok kota dan menancapkan panji-panji Turki di gerbang Kota St.Romanus. Ruh jihad meluapi dada seluruh prajurit Turki. Meriam besar yang dibuat dari peleburan logam dan kaca menjadi senjata baru. Senjata ini dapat menembakkan bola-bola batu yang cukup besar sejauh satu mil atau lebih. Kerusakan yang diakibatkan oleh meriam ini amat parah, bahkan dapat meruntuhkan benteng. Namun begitu, para prajurit Kristen memiliki tukang-tukang batu yang terampil yang dengan cepat memperbaikinya kembali. Ada juga senjata lain yang dibawa Al-Fatih. Menara kayu kecil dilengkapi dengan beberapa roda sehingga tampak seperti benteng berjalan. Dari dalam menara kayu ini tentara muslim menembakkan senjata mereka melalui celah khusus.
Pengepungan telah memasuki pecan ketiga namun benteng Konstantinopel  tetap berdiri kokoh. Bahkan dari arah laut kapal-kapal tongkang dari Venesia bergerak pelan tapi pasti untuk membantu pasukan Kristen. Al-Fatih tidak tinggal diam. Ia perintahkan sebagian pasukannya untuk mencegat kapal-kapal itu. Pertempuran dahsyat terjadi. Prajurit-prajurit Venesia sangat gigih. Kegigihan mereka mengantarkan mereka ke pusat kota dan bergabung dengan pasukan Byzantium.


Al-Fatih memerintahkan pasukannya untuk mundur dan dalam waktu singkat mengadakan evaluasi. Ia merubah strategi tempur. Konstantinopel harus diserbu dari darat dan dari laut sekaligus, meski laut dijaga ketat oleh armada Byzantium dan Venesia. Dengan berani Al-Fatih mengirim kapal-kapal ke pelabuhan yang dijaga ketat oleh pasukan gabungan. Bukan! Bukan dari laut kapal-kapal Al-Fatih berdatangan. Tetapi dari daratan.  Sebuah jalan yang terbuat dari kayu sepanjang 10 mil dibentangkan dengan memasangan plang-plang kayu yang kuat. Bagian atas kayu-kayu tersebut telah dilumuri dengan lemak domba dan sapi jantan. Delapan puluh perahu kecil dan kapal-kapal kecil lain yang bertiang dua disusun diatas gelindingan yang kemudian didorong ke depan oleh pasukan khusus dengan dibantu lembu dan kuda jantan. Perahu-perahu itu diwakili oleh prajurit-prajurit yang pilih tanding. Ketika perahu-perahu pasukan Al-Fatih sampai di pelabuhan secara tiba-tiba dan tanpa diduga sedikitpun armada Byzantium dan Venesia panic. Kalang kabut.
Selanjutnya, dimulailah pertempuran yang sangat mengesankan. Para prajurit muslim dari darat dan laut sama-sama mengarahkan serangan mereka ke pusat kota Konstantinopel. Gema takbir membahana memenuhi angkasa raya dan membangkitkan semangat para prajurit muslim sekaligus menggetarkan pasukan salib. Beberapa orang prajurit muslim mulai memanjat tembok benteng. Pasukan Byzantium terlambat menyadari hal itu dan untuk itu mereka harus membayar dengan harga yang sangat mahal. Meski demikian pasukan yang memanjat itu berhasil mereka lemparkan kembali, tetapi tidak sedikit yang berhasil ke puncak benteng dan segera memasang tali yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga dapat difungsikan sebagai tangga. Dan dalam sekejab saja pasukan Al-Fatih telah menguasai puncak benteng. Dari atas benteng mereka leluasa untuk menyerang pasukan Byzantium.
Kota bersejarah Konstantinopel yang telah berhasil membendung para penakluk selama ratusan tahun akhirnya takluk juga ditangan pasukan Islam di bawah kepemimpinan Muhammad Al-Fatih.
Keesokan harinya Al-Fatih meminta uskup agung untuk menghadapnya. Dia menerima kedatangan uskup agung dengan sangat baik, sama baiknya dengan sikapnya kepada semua tawanan. Tak ayal, dengan cepat penduduk tahu bahwa yang baru saja menggantikan raja mereka adalah seorang pemimpin yang baik, tidak lalim dan korup seperti raja-raja mereka sebelumnya. Hukum yang dulu hanya diberlakukan bagi masyarakat kelas dua kini tak lagi memandang kelas. Dan sejarah mencatat, inilah penjajah yang ditunggu-tunggu oleh rakyat karena mereka justru mendapat kebebasan yang sebenarnya.
Muhammada Al-Fatih wafat 28 tahun sejak ia dan pasukannya menaklukan Konstantinopel. Tepatnya pada tanggal 3 Mei 1481 M dan ia dikuburkan di sana.



Daftar Pustaka :
Gambar diambil dari http://3.bp.blogspot.com/ -UUmM6vqfBHI/ UZeLJqDTIUI/AAAAAAAABYI/ v0k6FPwmarw/s1600/Sultan+Muhammad+4.jpg
Ar-Risalah, April 2006