28 April 2016

3 Tangga Dalam Berislam

Puji syukur kehadirat Allah SWT dengan berbagai macam nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, salah satu nikmat-Nya adalah nikmat di bagian sub kesehatan yaitu syaraf. Kita memiliki 300 ribu syaraf seperti jala, yang apabila salah satu bloking maka akan tidak akan bekerja. Penulis pernah menemui teman yang terkena stroke dimana ketika otak kanan yang terserang, maka anggota badan kiri yang tidak bisa bergerak, tidak ada yang salah dengan tangan dan syarafnya, namun perintah tidak sampai ke tangan, sehingga meskipun dia memerintahkan tangannya bergerak, namun hal itu sia-sia.


Nikmat sub kesehatan lain adalah Jantung. Jantung ini mirip pompa yang system otomatisasinya belum ada tekhnologi yang menandingi saat ini. Bagaimana ketika berlari, duduk, tidur, jatuh cinta bahkan ketika marah memiliki ritme yang spesifik dan berbeda. Luar biasa, ini hanya nikmat salah satu sub kesehatan.
Dari itulah, sedikit nikmat yang kita ketahui, namun sangat banyak yang kita tidak ketahui, dan lebih sedikit lagi yang kita syukuri. Maka saat kita beramal, bukan semerta-merta karena karena usaha kita, namun ada Allah yang menggerakan, karena Allah lah yang menguasai segala lini diri kita, maka benar… kita masuk syurga bukan karena amal kita, namun lebih karena rahmat Allah Azza wa jalla
Agama Islam merupakan agama yang optimis, banyak pesan Rasulullah salah satunya “sesudah kesulitan, pasti ada kemudahan”, kemudian ada juga “andai kata besok adalah yaumil akhir (kiamat) dan engkau memiliki sebuah biji, maka tanamlah biji itu”.
Sikap optimis itu sangat diperlukan ketika hidup di Indonesia yang seharusnya menjadi “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur” (negeri yang subur dan makmur, adil dan aman), namun data statistic menunjukan sebaliknya. Rasio Gini negara kita 0,41 sedangkan ketika 0,50 itu sudah masuk ke dalam negara gagal (fail state). Penguasaan lahan begitu luar biasa, 0,5% orang Indonesia menguasai 45% lahan di Indonesia. Di Jakarta, penguasaan lahan oleh salah satu etnis (Chi**) hingga mencapai lebih dari 70%. Di Malaysia, ada pengaturan penguasaan lahan dimana melayu 60%, China 30% dan India 10%, pemindah tanganan lahan hanya bisa dari sesame etnis, dan tidak boleh antar etnis, jadi ada keberpihakan pemerintah terhadap hal ini.
Masalah fundamental lain adalah nilai PISA kita meliputi Matematika, Science dan Bahasa kita termasuk yang paling rendah. Masalah sosial kita juga sangat menghawatirkan, bagaimana LGBT kini merajalala.
Ini semua menuntut kontribusi kita semua dan pertanyaannya adalah siapkah kita untuk menghadapi itu semua, sudahkah kita siap berkontribusi agar Indonesia menjadi negara yang “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur”?
Tiga tangga yang ketika Allah izinkan kita menapaki ketiga tangga itu, maka kita akan masuk dalam golongan yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an “Kuntum Khoiru Ummah”, umat yang terbaik.
Tangga pertama adalah tangga AFILIASI (Kepemihakan)
Ketika kita telah memutuskan sebagai muslim, maka kita harus berpihak. Misalkan kasus LGBT dimana posisi kita?, kasus Kalijodo dimana posisi kita? Kasus ekonomi yang makin liberal dimana posisi kita? Kasus pemilihan RT dimana posisi kita?
Ketika pada periode makiyah terjadi pertempuran Romawi vs Persia yang dijelaskan Allah di awal Surat Ar Rum.  Bangsa Romawi dikalahkan oleh Persia ketika itu. Di Mekah saat itu terjadi dua kubu, yaitu kubu Kafir Quraish yang mendukung Persia yang lebih condong kepada dinulardh (agama dunia) dan Kubu Abu Bakar r.a. mendukung Romawi yang condong kepada dinnussamawat (agama langit).
Ketika Persia menang di pertempuran pertama, kafir Quraish perpawai, berpesata pora menyambut  kemenangan Persia. Ketika wahyu Ar Rum turun dan Romawi akan menang, Abu Bakar r.a. mendukung habis-habisan Romawi di kalangan kaum Quraish. Bahkan, Abu Bakar bertaruh untuk untuk kemenangan Romawi. Rasulullah SAW mendengar tersebut dan memanggil Abu Bakar r.a dan menanyakan perihal taruhan tersebut, namun Nabi SAW tidak melarang bahkan dalam riwayat lain, Nabi mengatakan boleh ditambah.
Kenapa Arab yang saat itu jauh dari Persia dan Romawi sampai sebegitunya? Tentu ini adalah masalah keperpihakan yang jelas.
20 tahun lalu, Brazil merupakan negara yang menolak LGBT, tapi sekarang ada UU yang melegalkan pernikahan sejenis. Padahal presentase orang yang menolak masih sama sekitar 80%. Dan yang mendukung LGBT 20%. Namun kini mereka menjadi generasi EGP (Emang Gue Pikirin), jadi ketika terjadi referendum, kelompok yang menolak ini kalah banyak dari yang mendukung karena banyak yang abstain, sehingga undang-undang pernikahan sesama jenis bisa lolos.
Di dalam Islam tidak ada konsep tidak memihak (abstain), karena “katakanlah yang haq walaupun itu pahit”. Salah satu jihad terbesar adalah mengatakan hal yang haq di depan penguasa yang bathil.
Ketika ada ayat “jauhilah daripada kamu zina…” dimana posisi kita. Ketika perbuatan mendekati zina dibiarkan, maka zina akan terjadi karena pertarungan antara yang haq dan yang batil akan selalu ada dan kita harus jelas, dimana posisi kita. Ketika kita diam itu bukan ciri orang Islam. Ketika banyak orang yang diam, ketika itulah kemaksiatan dan kedzoliman merajalela, karena hal ini tidak melulu karena peraturan namun yang lebih penting adalah dimana posisi kita.
Rekan, afiliasi saja tidak cukup, kita harus menapak pada tangga kedua yaitu PARTISIPASI
Setiap kita, setelah memihak harus ada yang kita lakukan. Pak Habibie pernah memberi contoh ketika menjadi Wapres, beliau melihat  Daftar Nilai Ebtanas Murni siswa SMA dari tahun 1986 – 1996 dan banyak nilai madrasah berada di posisi bawah, sedangkan 10 besar diduduki oleh sekolah-sekolah non Islam, seperti Kanisius, Marsudirini, BPK Penabur dll. Pak Habibie ambil partisipasi dengan mendirikan sekolah sebaik mereka dan dibiayai APBN. Kemudian berdirilah sekolah Insan Cendekia, sayangnya dari 30an provinsi saat itu baru berdiri 2 sekolah.
Partisipasi selanjutnya, apa yang kita punya. Kalo ada harta kita bisa sumbang harta kita. Kalo tenaga sumbang tenaga, kalo ada ide sumbang ide sehingga umat ini bisa saling menjaga.
Tetapi kawan, afiliasi dan partisipasi saja masih kurang. Harus ada kontribusi, inilah tangga ketiga.
Kontribusi merupakan partisipasi yang lebih spesifik dimana kita ahli di bidangnya. Seperti Ali bin Abi Tholib yang menjadi “bahrul ulum”, ‘Umar bin Khatab yang menjadi “Umar al Faruq” dan Abu Bakar yang lembut namun sangat tegas. Islam memiliki potensi yang luar biasa, Islam menunggu kontribusi kalian.
Tangga ini tidak mungkin terjadi ketika tidak ada tiga anak tangga yang menyusunya. APIKA (Afiliasi, Partisipasi dan Kontribusi).
Maka setiap kita harus berafiliasi dengan jelas, berpartisipasi terhadap proyek-proyek umat dan menekuni diri agar menjadi yang terbaik di bidangnya. Tidak ada Facebook jika tidak ada Marc Zulkenberg, Apple tidak mungkin maju dan menjadi perusahaan yang maju seperti sekarang jika tidak ada Steve Jobs, tidak mungkin kita bisa bertanya kepada Prof. Google jika tidak ada Larry Page dan Sergey Brin. Orang-orang itu ada pada diri kita, keluaga kita, siswa kita, mungkin kelak anak-anak kita. Ada potensi dimana akan muncul Ali bin Abi Tholib masa depan.
Saya termasuk salah satu yang kagum dengan Felix Siauw, seorang mualaf dan sekarang menjadi pendakwah. Beliau berusaha (berdoa) menjadikan anak beliau sebagai kafilah yang mewujudkan nubuah (ramalan) Rasulullah SAW dimana Istanbul (Konstantinopel) dan Roma akan ditaklukan. Istanbul Turki telah ditaklukan oleh Muhammad Al Fatih. Dan Nubuah Nabi SAW yang menjadi tanggung jawab kita adalah “Menaklukan Roma”. Felix Siauw berdoa bahkan sebelum anaknya lahir bahwa anaknya akan menjadi salah satu pasukan yang menaklukan Roma. Bisa dalam kebudayaan atau askar (tentara). Setiap kita, keluarga kita bertanggung jawab untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara yang “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur”.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dimaktubkan dalam Al Qur’an “kuntum khoiru ummah”, ummat terbaik yang senantiasa teguh berafiliasi, terus berpartisipasi dan senantiasa berkontribusi dalam proyek-proyek umat.

Gambar diambil dari : http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/09/impian-mimpi-tangga.jpg

25 Januari 2016

Hal dan Maqam

Hal dalam bahasa Arab adalah hidup seseorang di kedalaman jati dirinya dengan berbagai anugerah dari Alam Baka, serta merasakan dan memiliki kesadaran atas berbagai perbedaan antara “malam” dan “siang”, “pagi” dan “petang”, yang terjadi di dalam cakrawala hatinya. Orang-orang yang memahami “hal” sebagai sesuatu yang meliputi hati manusia, baik berupa kesenangan, kesedihan, kelapangan, atau kesempitan yang terjadi begitu saja tanpa ada upaya atau pun usaha. Mereka juga menyatakan bahwa “Maqam” itu ada jika kejadian dan intuisi berlangsung terus menerus secara berkesinambungan dan stabil, sedangkan nafsaniyyah akan muncul sewaktu-waktu, bersifat tidak permanen dan muncul dari hawa nafsu. Hal bersifat berkesinambungan ketika keberadaannya bersama maqam, sementara hal akan hilang jika muncul dengan “kedirian” (annafsiyyah) kita.


Berdasarkan penjelasan ini, maka dapat dikatakan bahwa hal adalah sebuah anugerah ilhiyah yang merasuk ke dalam relung hati. Sementara “maqam” adalah sampainya manusia pada fitrahnya yang kedua dengan menyerap anugerah Illahi tersebut dengan kehendak dan tekad seseorang hingga ia menguasai jati dirinya.
Istilah “Al Hal” dipakai untuk menunjuk pada sumber segala sesuatu tanpa tirai dan hijab, sebagaimana ia terdapat di dalam makhluk, kehidupan, cahaya dan rahmat, yang selalu mengingatkan kearah tauhid yang murni, sebagaimana ia senantiasa mengarahkan manusia agar memiliki kekuatan spiritual dalam melakukan pencarian alternatifnya.
Sedangkan “al Maqam” menentukan dan memutuskannya dalam lentera yang diliputi “kabut” kerja keras dan “asap” usaha, untuk kemudian mengikat hakikat dengan singgasana kesempurnaanya. Oleh sebab itu, maka persepsi dan intuisi terhadap berbagai anugerah Illahi yang mengalir ke dalam hati, dan perjalanan menyusuri jalan disetiap saat, menuju Dia yang di dalam hati dikenal dengan pernyataan “Aku adalah harta tersembunyi” merupakan satu tahapan yang lebih mulia disebabkan berbagai anugerah yang ada di dalamnya dibandingkan diri kita sendiri dan interpretasi sesuai corak yang kita miliki.
Itulah sebabnya, Sayyidina ash-Shadiq al-Mashduq Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh kalian dan tidak pula ke penampilan kalian, tetapi Dia melihat ke hati kalian” (HR. Muslim dalam Al-Birr 33). Sabda Beliau ini mengingatkan kita pada apa sebenarnya yang penting bagi Allah al Haqq Subhanahu wa ta’ala. Di samping itu beliau juga menuntut kita untuk mengarahkan pandangan menuju at-tajalli pada yang menjadi arah yang harus dituju oleh semua “mihrab” ibadah kita.
Dalam sebuah riwayat lain Rasulullah Shallalluhu’alaihi wa sallam menyebutkan amal perbuatan bersanding dengan hati. Beliau bersabda, “sesungguhnya Allah tidak melihat ke penampilan kalian dan harta kalian, melainkan Dia melihat ke hati dan amal perbuatan kalian” (HR. Muslim dalam Al Birr 34). Sabda ini muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap maqam, serta demi kepentingan hal yang menghantarkan manusia kepadanya.
Al-Hal” adalah berbagai tajalliyat yang terjadi pada saat-saat persesuaian dengan Kehendak Ilahi yang mutlak. Ia juga adalah ranah penyebaran tajalliyat tersebut di dalam cakrawala hati manusia. Sebaliknya, perasaan atau persepsi selalu mengurangi dan menghilangkan semua tajalliyat itu. Oleh sebab itu, maka maqam yang menjadi salah satu tahap di mana “gelombang” sudah reda, menjadi antonim bagi “hal” yang merupakan semacam ayunan antara pasang naik dan pasang surut yang berhubungan dengan berbagai entitas yang lebih tinggi.
Setiap panampakan dan kemunculan datang dalam bentuk baru yang selalu berbeda dari yang sebelumnya. Ia selalu beralih dari tampak lalu bersembunyi seperti spektrum cahaya yang memiliki panjang gelombang dan warna bermacam-macam meski semuanya berasal dari satu matahari yang sama.
Ruh dan perasaan yang mawas terhadap ma’rifat Ilahiyah akan mampu melihat gelombang “hal” ini di dalam relung hatinya, seperti mata melihat spektrum cahaya matahari yang memantul di permukaan air. Manusia dapat melihat, merasakan dan meresponya dengan berbagai macam kemampuan persepsi yang dimilikinya. Itulah sebabnya, orang-orang yang hati mereka masih terputus dari alamnya yang sejati, biasanya akan melihat itu sebagai fantasia tau khayalan belaka. Padahal itu adalah hakikat paling hakiki (ahaqq al haqaiq) dan penampakan paling jelas bagi mereka yang melihat entitas menggunakan Cahaya Kebenaran yang Sejati (Nur Al-Haqq al-Mubin).
Itulah sebabnya, Rasulullah sebagai manusia yang memiliki “hal” terbesar di antara semua manusia, Beliau selalu melihat hal-nya dimasa lalu dengan keadaan hal-nya disaat ini, seingga beliau bersabda, “demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”, (HR. Bukhari, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibu Majah dalam Al-Adab 57).

Ya tidaklah mungkin sebongkah hati yang suci dan disucikan Allah dapat memikirkan pikiran selain dari pikiran seperti itu dalam perjalanannya menuju keabadian dan dengan kesadarannya atas kebutuhan pada cahaya keabadian.

Daftar Pustaka :
Imam Al Muslim. Al Birr : 33 dan 34
Imam Ibnu Majah. Al Zuhd : 9
Imam Ahmad. Al Musnad 2:285, 539
Muhammad Fetuhullah Gulen, Bukit-bukit Zamrud Kalbu dan Mata Air. 2016.