19 Mei 2016

Khusnul Khotimah Perspektif Surat Yusuf Ayat 101

Alhamdulillahi rabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada kita keimanan dan keislaman. Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar terhadap umat akhir zaman, umat Rasulullah SAW. Yaitu dengan Dia menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain itu dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, semoga shalawat dan salam terlimpahkan untuk mereka. Karena itu Allah menjadikannya (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) sebagai akhir para nabi dan diutus untuk jin dan manusia. Tidak ada yang halal kecuali apa yang dia halalkan, tidak ada yang haram kecuali apa yang dia haramkan, tidak ada agama kecuali apa yang dia ajarkan. Semuanya telah dia sampaikan. Beliau adalah orang yang benar dan jujur, tidak ada dusta dan penipuan padanya.
Allah mempergilirkan keadaan manusia dari lahir sampai dengan meninggal, dari kesenangan dan kesusahan, dari kekayaan, kejayaan serta kejatuhan dan kemiskinan. Dan Nabi Yusuf As memberikan contoh kepada kita berdoa untuk menghadapi pergiliran keadaan tersebut. Doa Nabi Yusuf kepada Allah di akhir-akhir hidup beliau diabadikan dalam Qur’an surat Yusuf ayat 101, yang artinya : “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi.  Ya Tuhan, Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”.
Namun fenomena umum yang terjadi saat ini, ketika dibacakan surat Yusuf, fokusnya adalah kegantengan/ ketampanan. Bahkan saking terinspirasinya, ketika wanita sedang hamil maka dibacakan surat Yusuf supaya anaknya ganteng seperti Nabi Yusuf As. Padahal tidak ada hubunganya sedikit pun, hubungan kegantengan adalah hak prerogative Allah SWT, tapi ketaqwaan adalah pilihan kita “Faalhamaha Fujuroha wa Taqwaha”, sedangkan tentang fisik adalah ditentukan oleh Allah SWT.
Surat Yusuf merupakan kisah yang paling lengkap di dalam Al Qur’an. Dan satu-satunya surat yang namanya sama dengan Nabi yang ada di dalamnya yang menceritakan secara lengkap riwayat dalam satu surat. Berbeda dengan Nabi lain, yang terpisah-pisah dalam beberapa surat. Dan salah satu inspirasi paling kuat dari surat Yusuf adalah Nabi Yusuf yang beliau sudah mendapatkan jaminan syurga dari Allah SWT, namun tetap memanjatkan doa “wafatkanlah aku dalam keadaan Islam (muslim)…” yang berarti adalah keadaan khusnul khotimah.
Pertanyaanya pertama adalah khusnul khatimah (keadaan baik) susah atau mudah?
Kata imam Al Ghazali : “mudah tapi sulit, sulit tapi tidak mustahil”. Kenapa mudah, karena sudah ada contohnya : “orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):  "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".” (QS An Nahl : 32).
kenapa sulit?, karena banyak yang meninggal dalam keadaan tidak khusnul khatimah, “orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri…” (QS An Nahl : 28).
Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, Nabi Yusuf yang sudah ada jaminan, masih berdoa lha terus kita bagaimana?
Dalam Surat Yusuf 101, nabi Yusuf As, mengajarkan kita bagaimana adab berdoa kepada Allah yaitu : menyampaikan semua anugerah yang di dapat dari Allah SWT, baru memanjatkan doa yang di tuju.
Nabi Yusuf merupakan orang yang luar biasa sabar. Beliau sangat sabar terhadap keluarganya, bayangkan keluarga yang memperlakukanya dengan tidak manusiawi, setelah beliau menjadi penguasa beliau mengijinkan saudara-saudaranya untuk tinggal di istana. Seorang wanita cantik yang pernah menggodanya (Zulaikha) untuk berbuat zina, namun ia tetap sabar dan karena ketetapan Allah akhirnya bersanding dengannya. Dunia sudah ditangan, kedudukan, harta bahkan pendamping yang luar biasa cantiknya, namun Nabi Yusuf tetap memohon kepada Allah SWT agar diberikan khusnul khatimah.
Abu Bakar RA, sering berdoa dengan : “Ya Allah, sunguh aku berlindung kepada-Mu dari pikun, terjatuh dari ketinggian,  keruntuhan bangunan, kedukaan, kebakaran, dan tenggelam. Aku berlindung kepada-Mu dari penyesatan setan saat kematian, terbunuh dalam kondisi murtad dan aku berlindung kepada-Mu dari mati karena tersengat binatang berbisa”.
Bahkan manusia mulia seperti Abu Bakar RA yang giliran ke syurganya nomor dua setelah Rasulullah SAW masih meminta dijauhkan dari penyesatan syaitan saat sakaratul maut, karena saat sakaratul maut adalah saat yang ditunggu oleh syaitan untuk menggelincirkan manusia. Kenapa? Itu adalah saat-saat terakhir dia bisa menggoda, jika disaat-saat genting tersebut dia berhasil menjerumuskan, maka selesai manusia akan su’ul khotimah. Sehingga saat sakaratul maut peran kita adalah mentalqinkan/membacakan ayat –ayat Allah agar tetap berada dalam keimanan.
Kemudian bagimana hikmah syurat Yusuf ayat 101 dalam menggapai khusnul khatimah?

Ada 3 hal yang bisa kita dapatkan dari ayat tersebut, yaitu :

1. Harus berdoa
Khusnul khatimah adalah rahmad Allah SWT, memang ada usaha manusia, tapi akhirnya adalah rahmad Allah SWT. Maka agar kita termasuk yang dikehendaki meninggal dengan khusnul khatimah oleh Allah SWT kita harus berdoa. Nabi Yusuf berdoa seperti dikisahkan di surat Yusuf ayat 101 dimasa akhir dari hidupnya. Hakikatnya doa dunia dan diimbangi dengan doa ukhrowi, doa akhirat.

2. Bersyukur atas Amal (Assyukru ‘alal ‘amal)
Bersyukur atas amal semakin memotivasi untuk terus beramal. Sombong dengan amal (attakabu ‘alal amal) adalah menganggap diri sendiri “paling” banyak beramal yang akhirnya membuat putus beramal.

3. Amal terbaik di akhir
Arti dari khusnul khotimah adalah “akhir yang baik”, karena penilaian tertinggi justru berada di akhir. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” Semua manusia punya masa lalu sehingga ketika manusia mau berubah tatkala diakhir hayatnya, maka ini adalah Kebijaksanaan dari Yang Maha Bijaksana, Allah SWT. Sesungguhnya salah satu diantara kamu beramal amalan ahli surga sampai antara dia dengan surga tinggal sejengkal. Kemudian didahului ketentuan sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka dan masuklah ia ke dalam neraka. Dan salah satu diantara kamu melakukan amalan ahli neraka sampai antara dia dan neraka tinggal sejengkal, kemudian didahului ketetapan, sehingga dia melakukan amalan ahi surga sehingga dia masuk ke dalam surga.
Banyak kejadain yang bisa jadi pelajaran buat kita. Orang yang menunggu orang sakit, meninggal duluan daripada yang sakit. Yang muda, sehat wal ‘afiat  meninggal duluan daripada orang yang tua renta terbaring tak berdaya. “Fastabiqul khairat” kata Allah SWT, karena setiap saat bisa menjadi akhir bagi hidup kita. Mari berbuat yang terbaik setiap saat, karena siapa tahu itu adalah amal terakhir kita.
Ya Allah jadikan sebaik-baik usiaku di akhirnya, sebaik-baik amalku di penghujungnya dan sebaik-baik hari adalah saat bertemu dengan-Mu ya Allah.
Kebenaran hanya milik Allah SWT semata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan komentar anda, bila tidak memiliki akun, bisa menggunakan anonim...