29 Oktober 2013

KAPUR BARUS, KRISTAL KAPUR YANG DULU SEHARGA EMAS



       Kapur barus atau kamper adalah zat padat berupa lilin berwarna putih dan agak transparan dengan aroma yang khas dan kuat. Zat ini adalah terpenoid dengan formula kimia C10H16O. Pohon kapur barus menjulang tinggi di antara pepohonan lain di Desa Sordang, kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pohon kapur barus pada abad VII menjadi barang berharga menyamai emas. Pohon yang dulu getahnya digunakan sebagai wewangian, kini dipakai sebagai bahan kayu bangunan karena kualitasnya yang sangat baik.


      Kapal-kapal milik pedagang Mesir Merapat di Pelabuhan Kapuradwipa. Sesaat setelah membuang sauh, awak kapal dengan cepat turun ke daratan. Mereka tidak ingin kehabisan Kristal putih pengawet mayat yang jadi komoditas paling di cari di Mesir dan negara Afrika lainya.
       Dalam jalur perdagangan mereka di sepanjang pantai barat Sumatera, Kristal dari getah pohon kapur (Dryobalanops aromatica atau Dryobalanops champor) ini hanya bisa ditemukan di Pelabuhan Barus atau Kapuradwipa. Kapur dari Barus ini dicari raja-raja Mesir untuk mengawetkan jasad mereka karena kualitasnya paling bagus. Mumi Ramses II dan Ramses III konon juga dibalsem dengan kapur barus yang sudah di campur dengan rempah-rempah dari Ophir, nama gunung dari pedalaman Barus.
        Kapur barus atau kamper sudah dikenal oleh pedagang Mesir, Arab dan Timur Tengah lainya sejak abad 7-16 Masehi. Selain untuk membalsem mayat, kamper juga berfungsi sebagai bahan baku obat-obatan dan parfum (Barus Sejarah Maritim dan Peninggalannya, Irianti Dewi, 2006). Nama kota Barus sendiri berasal dari komoditas kapur barus yang ramai di perdagangkan di pelabuhan abad sejak abad 7-16 masehi.
          Kini sulit untuk melacak keberadaan pohon kamfer yang dulu bisa menghasilkan. Kristal seharga emas. Di daerah Barus, pohon kamper itu hanya tinggal beberapa batang saja. Pohon itu hilang karena banyaknya penebangan liar. Salah satu pohonnya yang tersisa terletak di desa Siordang, kecamatan Sirandorung.

           Pohon itu menjulang di tengah perkebunan milik warga. Tingginya mencapai belasan meter, batangnya tegak lurus dengan kulit batang berwarna coklat keputihan. Ketika daunnya dipetik, menguar bau wangi segar. Batang pohon itu harus dibelah untuk mendapatkan Kristal getah yang tersimpan di dalam batang. Kristal kapur itu dulunya ditemukan saat orang menebang pohon untuk keperluan rumah atau membuat kapal. Ketika bahan ditebang, batang itu mengeluarkan getah dan jika dibiarkan akan mengering menjadi Kristal.
         Selain untuk mengawetkan mayat, getah kamfer juga menjadi bahan baku pembuatan dupa wangi. Entah benar datu hanya berseloroh, bahwa bahan baku untuk dupa yang dihadiahkan tiga raja saat kelahiran Yesus juga di datangkan dari Barus. Di tempat ia tumbuh, pohon kamfer ini sudah menjadi salah satu tanaman langka. Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN), status pohon ini masuk ke dalam daftar merah, yaitu keberadaanya kritis atau terancam punah. IUCN merupakan lembaga konservasi keanekaragaman hayati.
         Kalau dibiarkan tumbuh, diameter batang pohon kamfer ini bisa mencapai 70-150 cm dengan tinggi pohon mencapai 60 meter. Batangnya akan mengeluarkan aroma kapur wangi bila dipotong. Di Indonesia, pohon ini hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan Saja. Beberapa daerah di Malaysia, seperti semenanjung Malaysia, Sabah dan Serawak juga menjadi habitat pohon kamper. Selain Dryobalanops aromatica, tanaman penghasil kamper lainnya adalah Cinnamon camphora (pohon kamper). Namun jenis pohon ini hanya tumbuh di China, Jepang, Korea, Taiwan dan Vietnam.
        Di masa lalu, pencarian getah kaper di Barus lekat dengan mitos persembahan. Para pencari kapur barus harus memiliki kepercayaan tentang larangan dan pantangan terkait dengan pencarian getah kamper. Setiap pohon memiliki kadar getah yang berbeda-beda, ada yang banyak dan ada pula yang sedikit. Sebelum mencari getah, penebang pohon harus melakukan ritual persembahan hewan korban kepada Begu Sombahon, sang makhluk penjaga hutan. Hewan yang dipersembahkan biasanya ayam, kerbau dan kambing tergantung permintaan Begu Sombahon.
         Upaya penanaman kembali pohon kamper dilakukan sebagian warga Barus. Tanpa ritual persembahan, masyarakat berupaya untuk menghidupkan kembali pohon kapur barus, ikon yang menjadi asal usul dikenalnya daerah tersebut.


Sumber :
Artikel : disadur dan diolah dari Kompas
Gambar Kamper : http://www.anuarkarimz.com/wp-content/uploads/2010/11/Camphor.jpg
Gambar pohon barus :http://alamendah.files.wordpress.com/2011/02/ pohon-kapur-dryobalanops- aromatica-2.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan komentar anda, bila tidak memiliki akun, bisa menggunakan anonim...