28 Juni 2011

Ya Alloh Selamatkan Bangsaku

Entah apa yang akan dilakukan pendiri bangsa ini ketika melihat polah tingkah pemegang amanah rakyat. Mereka mungkin akan menangis sejadi-jadinya atau bahkan kembali ke kubur karena malu melihat bangsa yang telah meraka bangun dengan sekuat tenaga., tak cuma harta... nyawa pun diberikan buat negeri tercinta kini porak poranda, kembali terjajah bukan dari bangsa lain, melainkan dari warga negaranya sendiri yang tega memerah saudara sebangsanya sendiri demi kepentingan segelintir golongan.
Jutaan nyawa menjadi bayaran untuk kemerdekaan, kini tergadaikan oleh kemunafikan, omong kosong demokrasi yang menjadi antek kolonial dan impelisme global. Seakan mereka merasa tak ada lagi tanggungan di akherat atas perbuatan mereka. Mereka anggap 250 juta rakyat negeri ini hanyalah onggokan daging dan tulang yang tak bernurani...bagaimana raja-raja rela menyerahkan kekuasaan demi berdirinya republik, penguasa hakiki tanah nusantara. Mereka meralakan kedigdayaanya demi kemakmuran dan cita-cita luhur persatuan dan keadilan sosial bukan so-sial....
Bagaimana keadilan menjadi barang dagangan, tidak lagi berpihak kepada yang benar, melainkan yang kuat. Hukum rimba berlaku, seperti tanpa peradaban. Pencurian berbalut KORUPSI makin menggila. Elit menjadi contoh, korupsi jamaah sudah menjadi kesepakatan. Pembangunan gedung tanpa dibarengi kualitas, hanya mengejar materi, tak peduli nurani....
Bagaimana cita-cita luhur bangsa untuk melindungi segenap tumpah darah warganya, kini hanya menjadi isapan jempol. Pembantaian WNI diluar negeri, seakan warge negara ini tak lebih berharga dari seekor lalat. Perlindungan negara hanya sebatas surat, tak ada tindakan nyata yang mencerminkan perlindungan. Pembelaan menjadi tameng, PANJA hanya menjadi omong kosong untuk melanggengkan kekuasaan.
Demi Alloh, para pemimpin bangsa ini segeralah sadar...
yang kau lakukan adalah meghunus pedang ke arah bangsamu...
sadarlah atas sumpahmu... sadarlah akan ada hari pembalasan atas amanah,,,
Semoga Alloh menyelamatkan bangsa ini....
Gamabar diamabil dari :
(Atas : http://kolomsejarah.wordpress.com/2008/05/26/tiga-serangkai)
(Bawah : http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1244971017/kampanye-sby)


Kisah Sang Khalik, Semak dan Pohon Bambu

Pada suatu masa, Dia menanam biji-bijian tumbuhan semak dan bambu secara bersamaan. Dia merawat mereka dengan baik, menyinari dengan cahaya, menyirami dengan hujan. Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, subur dan memberi keindahan dengan bunganya. Tetapi biji bambu belum tumbuh sama sekali. Dia tidak menyerah untuk merawat biji-bijian tersebut. Baru tahun kelima, tunas-tunas kecil dari bambu muncul. Tunas-tunas kecil itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan semak yang besar dan lebat. Tapi sesudah tahun keenam, tunas bambu yang kecil itu tumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter, jauh melebihi tinggi semak. Tampaknya selama 5 tahun, biji bambu yang ditanam itu menguatkan akar-akrnya untuk dapat hidup lama.
Selama kita bergulat dengan diri sendiri, dengan hidup kita, sebenarnya kita tumbuh dan mengembangkan akar hidup seperti batang bambu. Akan ada waktunya kita untuk bisabertumbuh lebih tinggi dari saat ini. Cintai proses dan bukan hasil semata. Proses akan mengajarkan banyak hal pada kita....
(11.31 wib, 7 Mei 2011, from someone)
(Gambar diambil dari http://pix.com.ua/id/nature/trees_leaves/forest_and_trees/482071-see.html)