28 Juni 2011

Kisah Sang Khalik, Semak dan Pohon Bambu

Pada suatu masa, Dia menanam biji-bijian tumbuhan semak dan bambu secara bersamaan. Dia merawat mereka dengan baik, menyinari dengan cahaya, menyirami dengan hujan. Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, subur dan memberi keindahan dengan bunganya. Tetapi biji bambu belum tumbuh sama sekali. Dia tidak menyerah untuk merawat biji-bijian tersebut. Baru tahun kelima, tunas-tunas kecil dari bambu muncul. Tunas-tunas kecil itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan semak yang besar dan lebat. Tapi sesudah tahun keenam, tunas bambu yang kecil itu tumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter, jauh melebihi tinggi semak. Tampaknya selama 5 tahun, biji bambu yang ditanam itu menguatkan akar-akrnya untuk dapat hidup lama.
Selama kita bergulat dengan diri sendiri, dengan hidup kita, sebenarnya kita tumbuh dan mengembangkan akar hidup seperti batang bambu. Akan ada waktunya kita untuk bisabertumbuh lebih tinggi dari saat ini. Cintai proses dan bukan hasil semata. Proses akan mengajarkan banyak hal pada kita....
(11.31 wib, 7 Mei 2011, from someone)
(Gambar diambil dari http://pix.com.ua/id/nature/trees_leaves/forest_and_trees/482071-see.html)

24 Mei 2011

DPR = DEWAN PEMERAH RAKYAT

Dewan Terhormat kembali berulah. Dewan kembali membuktikan dirinya sebagai "dracula" penghisap darah rakyat. Setelah pembuatan anggaran pembangunan gedung baru yang menyedot anggaran 1,2 Triliyun... (nyuwun sewu = menawi ngge tumbas dawet saget kangge langen (sak kolam renang)). Gedung baru tersebut rencananya dilengkapi dengan kolam renang dan spa berstandard internasional. Sungguh mencerminkan keadaan dimana wakilnya hidup mewah, yang diwakili hidup merana... bahkan busung lapar masih ada.
Yang terbaru dan lebih mengiris batin adalah rencana penganggaran 16 juta perbulan untuk biaya pulsa DPR. Kemudian seperti yang diugkapkan  Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) bahwa setiap anggota DPR menerima tunjangan pulsa sebesar Rp 14 juta per bulan dan Rp 20 juta per masa reses. Jika demikian, maka setiap anggota menerima tunjangan pulsa secara total mencapai Rp 270 juta per tahun.
Ternyata gaji besar, fasilitas penuh, rumah mewah dan tunjangan luar biasa besar tidak membuat kerakusan anggota dewan tereduksi bahkan semakin menjadi.
Dinegara ini tidak ada korelasi antara gaji besar dengan tingkat penuruanan korupsi. Besarnya gaji juga tidak berimplikasi positif dengan tingkat kinerja. Yang ada semakin besar gaji, malah semakin menggila korupsinya... semakin besar gaji juga semakin rendah etos dan kualitas kerja...
Ini adalah ironi diatas ironi, bangsa kaya raya gemah ripah lohjinawi harus miskin karena para elit dan pejabat tak dapat mengatur bangsa ini dengan bijak. Semoga bangsa ini dilindungi Alloh dari kehancuran...