Tampilkan postingan dengan label Lucu-lucuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lucu-lucuan. Tampilkan semua postingan

8 November 2017

KISAH MALANG MEDUSA


Siapa yang tak kenal Medusa dalam mitologi Yunani? Seorang wanita yang dikutuk memiliki rambut ular ini dahulunya adalah seorang yang cantik, cerdas dan memiliki suara yang sangat indah.
Dahulu kala, di perpustakaan Athena, yang berada pinggir laut tinggal seorang perempuan bernama Medusa. Medusa ini adalah pecinta buku, maka ia sering duduk-duduk di samping perpustakaan Athena yang berada di pinggir Laut Tengah. Suatu hari, Medusa berenang dengan mengenakan pakaian bikini di pinggir pantai. Setengah jam dia berenang, kemudian istirahat dan membaca, namun tiba-tiba dari arah laut ada gelombang besar. Lalu munculah makhluk laki-laki, berotot, sempurna, six pack. Dan laki-laki itu tertarik dengan siluete/ bayangan (karena sudah senja) dari Medusa.


(Sumber Gambar : https://www.thinglink.com/scene/632843898821017600)

Naluri laki-laki itu berkata perempuan itu sendirian, pake bikini, di pinggir laut artinya minta disetubuhi. Dan akhirnya sosok lelaki itu yang tak lain adalah Neptunus (Poseidon) sang Dewa laut memperkosa Medusa. Medusa murka dan protes kepada Neptunus, dan Neptunus beralasan  bahwa Medusa sedang membaca buku romance dan pasti terangsang dengan bacaan yang ada di buku itu maka wajar kalo Neptunus memperkosa untuk memenuhi birahi Medusa.
Karena tak terima diperkosa, Medusa kemudian lapor kepada penyidik Athena. Ternyata penyidik ini, juga merupakan walikota dari kota Athena yang bernama Paris Athena yang juga merupakan seorang perempuan. Kemudian sang Paris Athena mengatakan bahwa tidak mungkin Neptunus memperkosa Medusa, pasti Medusa-lah yang menggoda atau merangsang Neptunus. Maka jatuhlah vonis kepada Medusa, bahwa Medusa telah melanggar aturan hukum Athena dengan menggoda Neptunus sang dewa laut dengan menampilkan penampilan yang merangsang dan memancing perkosaan.
Kemudian Medusa dihukum, dan hukumannya begitu mengerikan. Medusa seorang wanita yang sangat cantik, pintar, suaranya sangat merdu, yang dulunya rambutnya ikal kemudian dikutuk menjadi wanita berambut ular. Medusa disiksa karena telah menggoda laki-laki.
Tak Cuma kepalanya dikutuk ditumbuhi ular, matanya yang sayu yang menjadi sumber kemaksiatan, dikutuk oleh Paris Athena menjadi sumur api. Sehingga ketika Medusa melihat laki-laki, maka seketika laki-laki itu akan berubah menjadi arang karena terbakar. Sehingga seluruh lelaki Athena ketakutan dan menghindari tatapan mata dari Medusa. Sehingga Medusa menjadi sebuah kepanikan di Athena. Sehingga sejak saat itu, Medusa dikenal sebagai Monster Kota Athena.
Kemudian dicari cara untuk melenyapkan Medusa. Namun tak satu laki-laki pun yang berani menghadapi Medusa. Kemudian, ditemukanlah seorang pahlawan bernama Parseus yang merupakan komandakan pasukan Athena. Parseus diperintahkan untuk membunuh Medusa. Saat mencoba membunuh Medusa, Parseus berkali-kali hampir terkena sorot mata Medusa.
Karena gagal berkali-kali, suatu waktu Parseus mengintip Medusa saat sedang tidur, ternyata Medusa ketika akan tidur melepas matanya supaya bisa tidur dengan nyenyak. Maka saat itulah, saat Medusa tidur Parseus memenggal kepala Medusa. Kemudian dari genangan darah Medusa, muncul sesosok kuda kecil yang memiliki sayab yang dikenal sebagai Pegasus. Dan Pegasus adalah dewa Kebudayaan.

19 Januari 2016

Minangkabau dan Miami

Dulu, ketika pilot hendak mendaratkan pesawat terbang kami di Padang, saya tersentak menyimak maklumat pramugari. Kita sebentar lagi, katanya, tiba di Bandara Internasional Minangkabau.
“Lo, Tabing silih nama jadi Minangkabau?”
“Ah, Bapak saja yang tak baca Koran,” kata tetangga duduk saya. “Minangkabau itu bandara yang menggantikan Tabiang.”
“Ya, malas sekarang baca Koran, Uni. Tulisan di semua surat kabar pendek-pendek tapi kendor. Sama saja dengan yang dulu. Panjang-panjang tapi kabur. Lebih baik dapat berita dari televisi atau radio.”


Bandara Internasional Minangkabau rancak, rapi, dan bersih. Atapnya segera menyiratkan daerah tempat lahir pemimpin juga pemikir andal Haji Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Hatta dan Sjahrir. Itu menyebut beberapa dari masa dulu.
Mahasiswa Universitas Negeri Padang penjemput saya mengatakan selagi di bangun, di mandala Sumatera Barat bandara itu dijuluki MIA. Ini singkatan Minangkabau International Airport. Menjelang peresmiannya, rupanya ada yang mengingatkan, MIA kadung jadi kode pelabuhan udara Miami di Amerika Serikat. Sekarang, kata mahasiswa tadi, kami namai BIM : Bandara Internasional Minangkabau.
“Bagus, bagus,” saya bilang.” Kode dunia membuat Padang menobatkan bandaranya dengan singkatan yang berasal dan taat asas dengan bahasa Indonesia.”
Di luar kawasan BIM hampir semua orang yang saya jumpai di Padang menyebut MIA untuk pelabuhan udara yang dapat langsung memberangkatkan penumpang ke Singapura, Penang, dan Kualalumpur itu. Barangkali ini keterlanjuran saja, bukan lantaran kebiasaan kuminggris seperti yang kaprah pada segenap artis pengusaha, pejabat, pegawai, karyawan, sampai anggota DPR di Jakarta.
“Lalu, Tabing jadi apa?”
“Tabiang itu punya Angkatan Udara.”
Saudara-saudara di Sumatera Barat menyebutnya Tabiang, bukan Tabing. Mengapa tidak ditulis sebagai “Tabiang” saja kalau demikian membacanya?
“Itulah! Payakumbuah kami sebut, tapi kami harus menulisnya Payakumbuh,”
Saya jadi teringat pada Ayatrohaedi. Munsyi ini menulis bahwa ejaan yang sekarang kita gunakan dan berdasarkan kesepakatan dengan Malaysia memasyarakatkan dengan nama EYD, ejaan yang disempurnakan, padahal semula yang dimaksudkan adalah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. “Mungkin kerena ejaan itu juga diberlakukan untuk system penulisan bahasa daerah apapun di Indonesia jika menggunakan aksara Latin,” kata Ayatrohaedi.
Tabiang, demikian Kamus Umum Bahasa Minangkabau-Indonesia susunan H. Abdur Kadir Usman (Padang, 2002) berarti ‘tebing’, tapi juga ‘pelabuhan udara di Padang’. Karena mau dipertahankan dalam bahasa daerah setempat, bilangan yang berada di sekitar Padang ini mestinya, sesuai dengan ketentuan EYD, ditulis sebagai “Tabiang” saja. Toh Kamus Bahasa Indonesia-Minangkabau keluaran Pusat Bahasa (Jakarta, 2001) dalam lema tebing menulis tabiang sebagai padanannya.
Kalau mau diindonesiakan, seperti halnya New Zealand menjadi Selandia Baru, ia harus jadi Tebing. Begitu pula dengan Payakumbuh. Tulis saja Payakumbuah. Ajek dengan EYD, bukan? Ganti penulisan menamai wilayah sah-sah saja. Makassar oleh Orde Baru berubah jadi Ujungpandang, kembali lagi ke Makassar sekarang.

Balik ke MIA dan BIM. Rupanya dari paling tidak 9.497 bandara yang sudah diberi kode Internasional, menurut world-airport-codes.com, BIM sudah dipatenkan buat bandara Bimini di Bahamas. Maka, Bandara Internasional Minagkabau harus mencari kode lain. Pekerjaan ini mungkin makin sulit kalau kode itu harus dihubungkan dengan nama Minangkabau sebab dari MIA sampai MIZ, demikian pula MKA sampai dengan MKZ sudah dipatenkan. Bukankah Bandara Internasional Soekarno Hatta diberi kode CGK, dari Cengkareng? Bukan BSH sebab kode ini untuk bandara Brighton, Inggris. Akhirnya, kini kode PDG yang dipilih dari kata “Padang”. Yang cukup tepat saya kira buat kode, karena cukup merepresentasikan bandara di tanah Minangkabau ini.

Daftar pustaka :
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Wikipedia Indonesia
Salomo Simungkalit, Kolom Bahasa Kompas

17 Maret 2015

Kesempatan Yang Berbahagia

Dalam sebuah resepsi pernikahan, sering terdengar celoteh baku si pembawa acara, “Pada kesempatan yang berbahagia ini, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah…”
Berpanjang-panjang dengan celoteh yang tak mengundang kejutan, si pembawa acara akhirnya membebaskan tamu dari rasa bocan ketika menyelesaikan kalimat penutupnya : “Sekarang tibalah saatnya bagi Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan hadirin sekalian untuk menyampaikan ucapan selamat kepada kedua pengantin yang berbahagia.”
Dua kali ungkapan yang berbahagia dilafalkan, masing-masing menggandeng kata kesempatan dan pengantin. Pengantin yang berbahagia bermakna “pengantin yang merasa bahagia” atau “pengantin yang merasakan kebahagiaan” (merasa dan merasakan digunakan seperti mendengar dan mendengarkan). Namun, kesempatan yang berbahagia tidak mungkin dipahami sebagai “kesempatan yang merasa berbahagia” atau “kesempatan yang merasakan kebahagiaan.”


Yang berbahagia pada pengantin yang berbahagia berterima karena pengantin adalah nomina insani yang bersenyawa, sedangkan kesempatan bukanlah nomina yang insani dan bersenyawa. Berdasarkan kriteria itu, pemimpin dan rakyat atau polisi dan pencuri dapat berbahagia, bergembira, atau bersedih, sementara kesempatan dan peluang atau persitiwa dan kejadian tidak mungkin berperang sebagai konstituen kalimat yang mampu menanggung beban emosi seperti itu.
Dimanapun dan kapanpun kesempatan tidak akan pernah berbahagia. Ia hanya memiliki potensi untuk membuat kita sedih, gembira, atau bahagia. Pada saat itulah kita bertemu dengan kesempatan yang menyedihkan, menggembirakan atau membahagiakan.
Sara saya kepada si pembawa acara : gantilah celoteh anda dengan “Pada kesempatan yang membahagiakan ini, pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah…”
Dari persoalan siapa yang berbahagia kita beralih pada masalah siapa membohongi siapa yang bentuk pengungkapannya mungkin belum memberikan ketenangan batin bagi sebagian diantara kita. Ketika seorang pejabat atau tokoh masyarakat memberikan penjelasan atau ketenangan batin bagi sebagian diantara kita. Ketika seorang pejabat atau tokoh mesyarakat memberikan penjelasan atau keterangan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, dengan serta merta kita pun mengemukakan penilaian dengan menyatakan bahwa yang bersangkutan telah melakukan kebohongan publik. Kalau dianalogikan dengan kekayaan pribadi yang bermakna “kekayaan milik pribadi”, maka kebohongan publik tidak dapat ditafsirkan lain kecuali “kebohongan milik public atau milik masyarakat.”
Tafsiran yang demikian akan memunculkan pertanyaan bernada protes ihwal siapa yang dibohongi publik atau kepada siapa publik berbohong karena hakikatnya, penggunaan  kebohongan  publik telah mengakibatkan terjadinya pemutarbalikan (dilihat dari segi kebenaran) atau pemutarbalikan peran (ditinjau dari sisi partisipan komunikasi). Kalau yang hendak diungkapkan ialah konsep yang merujuk pada proses, cara atau perbuatan membohongi publik, yang harus digunakan ialah pembohongan publik.
Kerancuan berbahasa pada dasarnya identik dengan ketidakcermatan berbahasa. Penyebabnya, kita jarang atau bahkan tidak pernah mempertanyakannya, termasuk kepada diri kita sendiri. Atau boleh jadi hal itu memang tidak perlu dipersoalkan. Bukankah kita sudah terbiasa dengan cara berbahasa seperti itu? Bukankah orang lain pun berbahasa dengan cara yang kurang lebih sama seperti kita? Dan karena bahasa merupakan perwujudan dari konvensi atau kesepakatan bersama masyarakat penuturnya, bukankah perilaku berbahasa yang kolektif seharusnya lebih penting dari lebih bermanfaat daripada yang tidak “guyub”?
Fungsi utama bahasa selain sebagai sarana berkomunikasi, juga sarana berfikir. Muaranya kecermatan berbahasa. Dalam konstelasi itu, agaknya kita perlu memahami yang tersurat dan tersirat di balik pandangan seorang wakil Papuan pada Kongres Kebudayaan di Bukittinggi tahun lalu. Seperti yang dilaporkan Rosihan Anwar di Kompas pada 6 November 2003, wakil Papua itu berucap : “kami menyesal belajar bahasa Indonesia secara baik dan benar karena kemudian terbukti di luar kami, bahasa Indonesia mereka sangat kacau.”



Daftar Pustaka :
Gambar diambil dari : https://nasrulchair.files.wordpress.com/2011/02/nasrul-saat-sambutan.jpg
Artikel disadur dan diolah dari Kolom Bahasa Kompas

15 Februari 2015

Asal-Usul Bendera Kuning

Bagi orang yang tinggal di Jabodetabek, keberadaan bendera kuning yang dipasang si sudut jalan atau tempat tertentu menandakan ada orang yang meninggal. Lalu bagaimanakah tradisi ini terbentuk?


Tradisi ini dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Konon saat itu banyak warga pribumi yang tinggal di Batavia terserang penyakit menular. Sebagian warga yang sakit kemudian meninggal dunia. Pemerintah Hindia Belanda saat itu menggunakan bendera kuning untuk menandai rumah atau tempat yang dianggap dihuni  oleh warga yang terserang penyakit itu. Namun, belum ditemukan alasan kuat mengapa dipilih warna kuning sebagai penanda.
Bendera kuning itu berbentuk persegi panjang dengan bertuliskan huruf Q. Huruf Q merupakan singkatan kata quarantine (karantina dalam bahasa Indonesia). Oleh sebab itu, warga dihimbau agar menghindari tempat atau rumah yang dipasangi bendera kuning untuk mencegah penularan penyakit.
Bendera kuning yang menjadi tanda karantina kemudian berkembang maknanya menjadi penanda adanya kematian karena saat itu banyak pasien yang tidak tertolong. Hal ini berlanjut hingga sekarang di Jabodetabek.


30 Oktober 2014

Pedagang Yang Berkaki Lima

Saya tersenyum terheran-heran beberapa waktu yang lalu ketika membaca sebuah artikel Sydney Morning Herald tentang pedagang kaki lima di Indonesia. Metthew Moore, wartawan koran tersebut, menggambarkan bagaimana seorang wiraswasta bule, Benjamin Whiteker, sedang berkompetisi dengan penjaja makanan asli di Jakarta. Whitaker, lulusan Wharton School of Bussiness di Philadelphia, percaya bahwa para konsumen di Jakarta pasti tertarik kepada hamburger ala Amerika kalu disajikan di pinggir jalan seperti sate atau bakso. Ia sudah membikin sejumlah kereta beroda dua yang dilengkapi dengan alat masak serba modern.


Yang membuat saya tersenyum adalah definisi Moore tentang kereta itu, yang dipaparkannya dengan penuh keyakinan. "Kaki Limas" or five legs is the name given to the hundreds of thousands of mobile food stalls that line the streets and are so count those of operators ("Kaki Lima" atau lima kaki adalah nama yang diberikan kepada ratusan ribu warung makanan beroda yang berada di tepi jalan dan diberi nama tersebut sebab, dari jauh, kereta itu memberi kesan berkaki lima kalau kaki penjaja ikut dihitung).
Seharusnya saya tidak merasa terlalu heran. Sejak lama, hampir setiap kali ketika saya membaca artikel dalam bahasa Inggris tentang pedagang kaki lima, artikel tersebut mengandung definisi yang mirip dengan definisi Moore. Yang mengherankan mungkin, pertama, bahwa definisi itu diulang oleh Sydney Morning Herald, koran yang seharusnya lebih mengerti Indonesia. Kedua, bahwa definisi itu bisa bertahan begitu lama dan diulangi di mana-mana meskipun jelas tidak masuk akal dan mengada-ada.
Kereta yang bersangkutan biasanya beroda dua (roda jelas bukak kaki) dan hanya "berkaki" satu, yaitu tiang penopang yang membuatnya stabil. Lagi pula, apa hubungannya antara "kaki" yang dimiliki oleh kereta dan kaki penjaja? Hampir mustahil membayangkan bahwa sebutan kaki lima (selalu disebut begitu dalam bahasa Inggris, tanpa pedagang) akan berasal dari dua kaki manusia, dua roda dan satu tiang penopang.
Mengapa selama ini tanpaknya belum ada orang Indonesia yang menjelaskan bahwa sebutan yang sebenarnya adalah pedagang kaki lima, buka kaki lima saja, dan bahwa kaki lima adalah nama lain buat trotoar atau sidewalk? Atau mengapa orang asing sendiri tidak menelusuri asal-usul istilah ini lebih jauh?
Tanpa menelusuri apapun, orang asing yang pernah mengunjungi negeri jiran seharusnya mahfum. Misalnya, di Singapura anda bisa makan di sebuah warung di Chinatown yang bernama Five Foot Way bisa dirunut  kepada Sir Stamford Raffles pada abad ke-19 yang menentukan bahwa semua gedung yang didirikan harus membangun pula sebuah trotoar yang lima kaki lebarnya untuk memberi perlindungan dari hujan dan terik matahari.
Pertanda apa, daya tahan yang lama sekali dari definisi yang salah ini? Salah satu kemungkinan adalah bahwa para wartawan asing tidak fasih berbahasa Indonesia. Kedua, mereka sangat bergantung kepada arsip koran mereka. Kesimpulan ini diperkuat oleh kasus lain yang jauh lebih penting. Yang saya maksudkan adalah peliputan media asing yang menyangkut pembunuhan massal orang komunis dulu. 
Di arsip majalan seperti Time dan Newsweek tertera kesimpulan bahwa ratusan ribu orang dibunuh pada tahun 1965-1966 adalah orang Tionghoa. Yang sebenarnya dibunuh pada waktu itu tentu pengikut PKI, yang sebagian besar bukan orang Tionghoa. Sejak itu wartawan asing yang menulis tentang konflik politik (misalnya, ketika pemerintah Orde Baru tumbang) selalu mengacu kepada "pembunuhan massal orang Tionghoa" pada tahun 1965-1966.
Seandainya kesalahan ini, yang amat mengganggu pengertian orang di luar tentang sejarah Indonesia, bisa dikoreksi, kiranya kita bisa memaafkan pers asing dalam hal ini tafsiran kaki lima yang bukan kaki dan tidak berjumlah lima.

Gambar diambil dari :
http://assets.kompas.com/data/photo/2014/03/03/1016526PKL780x390.jpg
Pustaka : RW Liddle, Kolom Bahasa Kompas, 2004.

28 Oktober 2014

Salam Sejahtera Alaikum

"Assalamu'alaikum!" teriak si pembawa acara sambil mengangkat lengan dan berjingkrak-jingkrak, sementara kamera dengan setia mengikuti wajahnya yang berseri-seri bak paras pegawai negeri baru naik gaji.
"Walaikum salam," jawab hadirin di studio sambil bertepuk dengan meriah.
Pemirsa di depan layar kaca pun bergegas menenggelamkan diri ditas sofa sampai tampak hanya ujung kedua lututnya yang sedang menjepit sekaleng kerupuk dan kedua bola matanya yang melotot. Namun si pembawa acara belum siap mulai.



"Salam sejahtera!" teriaknya lagi dan hadirin melanjutkan tepuk tangan mereka sesuai dengan skenario. Bagitu keriuhan mereda, dia berteriak lagi, "Selamat malam, Saudara-saudara!" Gemuruh lagi, seolah-olah itulah ungkapan paling bijaksana yang pernah diucapkan manusia.
Untuk apa si pembawa acara memberi salam sampai tiga kali? Tentu bukan karena menganggap angka tiga keramat; atau mencoba memberi petunjuk sama tentang calon pemenang pemilu. Yang dia lakukan ialah membagi pemirsanya ke dalam tiga golongan : Muslim, Kristen dan Netral. Nyatanya, dia telah memecah belah para pemirsanya dengan tindakan SARA! Nah, lo...
Tentu saja tidak demikian maksudnya. Hanya penguasa yang bisa menarik manfaat dari ancaman seperti itu, dan blog ini bukan alat penguasa. Yang sebenarnya terjadi ialah seseoarang, kemungkinan besar seorang antek kapitalis yang sedang mengembangkan usaha komoditas persalaman, telah mematenkan salam khusus Islam dan salam merek Kristen, dan menyisakan salam generik untuk mereka yang termasuk kelas murahan. Tidak dipedulikannya bahwa salam itu sudah dikembangkan tanpa pamrih selama bermilenium oleh para pemakainya. (he4, berlebihan ga sih? tidak ternyata...he4).
Dulu-dulu sekali di Timur Tengah, Salem (Shalem) adalah nama Planet Venus yang terlihat di kala senja, yang dipercaya sebagai dewa yang menghadirkan kelengkapan atau kesempurnaan, saat segala sesuatu sudah diselesaikan dan terpenuhi sebelum malam tiba. Salem juga dihubungkan dengan Saturnus, yang sebagai planet terjauh yang dikenal pada zaman itu dianggap terkukuh atau termantapkan dan mengandung nilai kesempurnaan, kesetiaan, dan kesehatan. Kata itu pun lantas laris dimanfaatkan sebagai unsur nama tempat dan orang. Sampai sekarang kita masih mengenal nama kota Darussalam atau Yerussalem. Juga nama orang : Salman, Sulaiman, atau Salomo.
Sebagai ucapan salam, Salam atau Shalom mengandung arti keutuhan atau kesempurnaan yang dimiliki seseorang, dalam bentuk kesehatan, kesejahteraan, keamanan atau kedamaian. Assalamu'alaikum, "salam bagimu", berisi harapan dan doa agar orang yang disalami itu memperoleh segala sesuatu yang dibutuhkannya, tiada berkekurangan. Salam ini diucapkan di seluruh mandala Timur Tengah, baik oleh yang beraga Islam, Yahudi maupun Kristen.
Nah, di Indonesia, oleh orang Kristen kata Shalom yang bertaburan di dalam Alkitab diterjemahkan dengan istilah "Damai Sejahtera". Terjemahan ini lebih baik daripada terjemahan bahasa Inggris Peace, lebih dekat ke arti semulanya: "kecukupan dan ketenangan lahir batin". Lantaran terjemahan ini, lantas ada yang menciptakan salam merek Kristen : Salam Sejahtera yang tak lain tak bukan setali tiga uang sama sebangun dengan salam yang diyakini sebagian orang sebagai khas Islam : Assalamu'alaikum.
Salam Generik pun  akar dan sumbernya sama. Selamat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti "terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana"; "tidak kurang suatu apa". Sebagai salam, Selamat adalah "doa (ucapan pernyataan dan sebagainya) yang mengandung harapan supaya sejahtera".
Ternyata, pembawa acara kita itu telah mengucapkan salam yang maknanya sama tiga kali. Untuk apa? Mengapa kaum Muslim dan Kristen memerlukan salam paten yang mewah dan eksklusif? Apakah berat yang terkandung di dalam selam itu hanya berlaku bagi jenis orang beragama tertentu? Bagaimana kalau umat Hindu dan Budha, belum lagi Khinghucu, juga mematenkan salam istimewa mereka masing-masing? Lagi pula, bagaimana kalo Sepadam Punten, Horas dan ratusan salam lain di negeri ini juga perlu diucapkan dalam setiap acara?
Akan lebih baik kalau semua salam itu digenerikkan. Pebisnis komoditas persalaman akan gigit jari dan kita smua akan memperoleh kekayaan dan kebebasan baru dalam mengucapkan salam. Pilih saja salah satu, tak peduli siapa penerimanya, agama dan sukunya.


Daftar Pustaka : 
Gambar : http://aljawhar.files.wordpress.com/2011/12/assalamualaikum-sinchan.png
Kolom Bahasa Kompas, Salomo Simanungkalit, 2007.

14 Agustus 2014

CINTA TERLARANG ELEKTRON

Elektron duduk termenung, sesekali ia kayuhkan kedua kakinya agar ayunan bergerak perlahan. Ayunan yang sering disebut orbital merupakan tempat yang paling Elektron sukai. Jadi siapapun orang yang ingin menemukannya langsung saja menuju orbital. Walau demikian, tidaklah mudah untuk bertemu Elektron di sana. Tapi setidaknya orbitallah tempat kemungkinan Elektron melepaskan penatnya ketika ia berada di rumah atom.



“Mengapa aku selalu ingat Proton?” keluh Elektron seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Apa yang salah dengan perasaan ini, tidak bolehkah aku tertarik padanya?” pertanyaan yang kesekian kalinya namun tak juga Elektron mengetahui jawabannya.

Elektron menatap jauh ke depan dan terhenti pada sebuah kamar yang biasa disebut nukleous. Tatapannya sarat dengan beban namun begitu tajam seakan ingin menembus dinding kamar dimana Proton berada.

“Seandainya aku adalah Neutron, pastilah hatiku sangat senang karena aku akan selalu dekat dengan Proton” gumamnya lagi.

Elektron tinggal di sebuah rumah mungil bersama dua saudara angkatnya. Para tetangga memanggil rumah mungil itu dengan sebutan atom. Elektron adalah anak tertua. Kelahirannya dibantu oleh om J.J Thomson pada tahun 1897. Semenjak dalam kandungan dia sering dipanggil dengan nama sinar katoda karena Elektron merupakan anak yang diperoleh melalui tabung sinar katoda dan perkembangannya selalu dipantau oleh om William Crookes. Setelah lahir, ia diberi nama Elektron seperti yang diinginkan om G.J Stoney. Beratnya ditimbang oleh om Robert Milikan ternyata hanya 9,11 x 10-28 gram. Adiknya yang pertama bernama Proton. Kelahirannya dibantu oleh om  E. Rutherford pada tahun1906. Dia lebih gendut dibandingkan Elektron karena massanya 1837 kali dari massa Elektron yaitu 1,673 x 10-24 gram. 
Pada tahun 1932, Elektron mempunyai adik kedua yang diberi nama Neutron. Om James Chadwick yang membantu kelahirannya. Dia hampir sama gendutnya dengan Proton karena massanya 1,675 x 10-24 gram.
Walaupun mereka bersaudara dan tinggal bersama dalam rumah atom tetapi karakter ketiganya berbeda. Elektron paling tidak suka berada di dalam rumah. Baginya dunia terasa sempit jika hanya memandang tembok-tembok yang memisahkannya dengan dunia luar. Berkeliling di halaman rumah lebih mengasyikkan, Elektron dapat berjalan-jalan di taman, memandang bunga-bunga yang berkembang dan menghirup keharumannya. Saat pagi tiba, mentari akan menyusupkan kehangatannya sehingga Elektron semakin bersemangat untuk terus beraktifitas. Biasanya, Elektron akan bersepeda melalui lintasan yang disebutnya sebagai orbit. jika dia merasa lelah maka Elektron beristirahat dalam orbital. Keaktifan Elektron dianggap perilaku yang negatif oleh keluarganya.
Lain lagi dengan kedua adiknya, mereka lebih suka di dalam kamar. Kamar itu mereka sebut dengan nucleus karena itulah mereka berdua dinamakan nucleon. Walaupun begitu, Elektron tahu jika Proton terkadang tertarik dengan aktifitasnya. Sehingga mereka sering mencoba bertemu untuk saling berbagi hati. Sedangkan Neutron dia sangat cuek. Apapun yang terjadi di dalam rumah atom, dia  netral-netral saja.
Bagi keluarga atom, sifat pendiam Proton merupakan sifat yang dianggap positif. Namun bagi Elektron, Proton mempunyai karisma yang membuatnya  terlihat sempurna dibandingkan Neutron. Adanya perbedaan karakter antara Elektron dan Proton membuat mereka saling tertarik. ketertarikan inilah yang membuat beban bagi keduanya karena semestinya itu tidak ada.

 “Aku mohon Proton, cobalah kamu mengerti perasaanku” kata Elektron.
“Maaf Elektron, tanpa kau katakanpun aku tahu perasaanmu karena akupun merasa demikian, tapi itu tak mungkin” jawab Proton setengah tersedu menahan tangisnya.
“Jikalau kita bersatu, maka takkan ada rumah atom lagi” lanjut Proton lirih.

Elektron terdiam, dia paham sekali tak mungkin Proton meninggalkan nukleous. tapi ia juga tak mungkin menghapus ketertarikannya pada Proton dengan mudah, Mengacuhkannya saja membuat rasa menjadi gundah. Apalagi harus jauh darinya, pastilah rindu itu ada. Rindu pada perhatiannya, rindu pada cerita manjanya, rindu dengan tatapan penuh rasa rahasia yang dalam.

“Ya sudahlah, biarkanlah perasaan ini tetap ada, toch aku masih bisa memandangmu meski tak mampu bersamamu” ujar Elektron kemudian.
“Kamu tahu Proton, hanya kaulah yang sering datang dalam mimpiku dan memang hanya menjadi mimpiku….” lanjut Elektron menegaskan apa yang dirasakannya selama ini.

Keduanya kini terdiam, diam oleh ketidakberdayaan akan sebuah perasaan yang entah kapan hadir diantara keduanya. Namun mereka paham, kebahagiaan tidak selalu harus menjadi satu tetapi saling mengingatkan ketika salah, memotivasi ketika lelah, memberikan nasehat bijak ketika gundah, semoga semuanya menjadi ajang untuk ibadah. Dari perbedaan inilah yang akan menjadikan mereka dalam satu-kesatuan di rumah atom sehingga mereka dapat menempati posisi, tugas dan fungsinya masing-masing demi berputarnya dunia yang indah.


Sumber :
Gambar diambil dari : http://static.republika.co.id/ uploads/images/detailnews/ ilustrasi_cinta_terlarang_ 100521080409.jpg

Artikel disalin dari : http://www.chem-is-try.org/

3 Juli 2014

Menghindari Kata Tabu

Dalam rapat kerja para guru besar UI untuk menyusun pedoman dasar dalam pengusulan guru besar, berulang kali terucap kata butuh atau berbagai bentuknya : kebutuhan, dibutuhkan, membutuhkan. Namun, setiap kali pula muncul keberatan dari mereka yang merasa berasal dari lingkungan budaya Melayu karena kata itu dalam bahasa pertama mereka memiliki pengertian yang dianggap kurang sopan. Ternyata memang dalam berbagai bahasa Melayu kata butuh bermakna “kemaluan laki-laki”. Padahal, di daerah Purworejo, Jawa Tengah, ada kecamatan bernama Butuh!


Hingga saat ini keberatan atas pemakaian kata butuh itulah yang paling banyak diperhatikan. Artinya, walaupun kadang-kadang disertai dengan senyum atau bahkan tertawa terbahak-bahak, penghindaran kata itu cukup berhasil. Demikian Juga dalam rapat kerja itu. Akhirnya disepakati yang digunakan adalah kata keperluan yang menurut riwayatnya merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Upaya menghindari pemakaian kata atau istilah yang konotasinya kurang baik, apalagi yang langsung terasa jorang “porno”,merupakan sesuatu yang terpuji. Namun, masalahnya, apakah itu senantiasa dilakukan mengingat banyaknya bahasa di Indonesia. Jika ada kata yang dalam bahasa tertentu berkonotasi baik, apakah ada jaminan dalam bahasa lain juga sama? Kata butuh yang di Jawa sampai menjadi nama kecamatan merupakan contohnya.
Pernah seseorang kawan ketika berceramah di pedalaman Kalimantan Selatan disambut senyuman yang kemudian pecah dalam derai tawa. Ia berbicara mengenai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat petani. Petani tentu tidak dapat melepaskan diri dari salah satu alat utamanya, pacul.  Sebagai orang Sunda, kebetulan ketika itu ia lupa bahwa dalam bahasa Indonesia alat itu disebut cangkul. Ternyata reaksi spontan yang diterimanya mula-mula senyuman, lalu derai tawa dan teriakan, “betul, Pak, pacul memang alat utama kita…!”
Di samping gembira karena ceramahnya ditanggapi dengan antusias, kawan itu terheran-heran mengapa tanggapan mereka demikian meriah. Ia kemudian bertanya kepada anggota penitia yang orang Banjar. Kawan itu akhirnya juga tergelak setelah diberi tahu bahwa kata pacul yang dalam bahasa setempat berarti “kemaluan laki-laki”. Maka, kata pacul  yang dalam bahasa Sunda bermakna baik-baik saja itu harus dihindarkan pemakaiannya di lingkungan penutur bahasa di Kalimantan Selatan.
Kita perlu bertanya-tanya mengapa perempuan Jawa, betapapun gembiranya, tidak akan mau bertempik sorak. Mereka tentu saja turut bersorak-sorak atau bersorak-sorai, mungkin lebih bersemangat dari yang lain. Namun, jangan harapkan mereka mau mengatakan bertempik sorak, apalagi hanya bertempik. Masalahnya kata tempik  dalam bahasa Jawa bermakna “kemaluan perempuan”. Artinya, kita boleh saja bertempik sorak di daerah lain asal jangan di lingkungan masyarakat penutur bahasa Jawa. Padahal, kata tempik  dalam bahasa Melayu berarti “sorak”, dan tempik sorak  semacam kata majemuk yang berarti “bersorak-sorak” atau “bersorak-sorai”.
Ketika seorang tokoh perempuan Jawa berceramah dalam pertemuan yang sebagian besar pesertanya perempuan Sunda menganjurkan agar jangan takut dengan momok, hadirat pun senyum dikulum, lalu cekikikan. Sambil berbisik diantara sesama mereka, mereka katakan mana mungkin takut momok. Bukankah sebagai perempuan mereka tidak akan mungkin meninggalkannya sejenak? Si penceramah yang memaksudkan momok yang dalam Bahasa Jawa sebagai "hantu” itu terjerembab ke dalam kenyataan lain. Dalam bahasa Sunda, kata momok bermakna sama dengan tempik dalam bahasa Jawa, yaitu “kemaluan perempuan”.
Maka, ketika seseorang yang berasal dari Garut dalam lama mengembara di Jakarta pulang kampong lalu memancing bersama dengan (calon) mertua, kata yang keluar untuk mengatakan kegembiraan adalah mek yang ia peroleh selama di rantau. Ketika kailnya disanggut lele, ia berseru, “Lele, mek…!” Juga demikian ketika termakan kailnya ikan bogo “gabus” atau juga kancra “ikan emas”, ia berseru “Bogo, mek…!” atau “Kancra, mek…!” Namun, ketika makan umpannya seekor gurame, teriakannya berubah menjadi, “Guramey, euy..!” 

Gambar diambil dari : http://1.bp.blogspot.com/-WugTSWsc92I/TbY-XqXIfjI/AAAAAAAAAAQ/ DE9f8G_AO1s/ s1600/diam.jpg

9 Mei 2014

Burung-burung Buruan di Masa Kecil

Masa kecil merupakan masa terindah, tak terelakan bagi penulis sendiri. Saya yang asli Sragen Jawa Tengah, merasa bersyukur dilahirkan di tengah pedesaan yang indah dan rindang dengan pepohononan. Kegiatan sehari-hari tak jauh dari bermain. Berenang menjadi agenda rutin, maklum saja rumah dekat dengan sungai terpanjang di Jawa, Bengawan Solo. Tak ada hari tanpa berenang atau “ciblon” dalam bahasa lokal. Selain berenang, mencari ikan juga tak ketinggalan. Masih ingat dalam kenangan, bagaimana waktu itu “sosok”, “ikrak” ataupun “jaring” menjadi perlengkapan wajib tiap minggu pagi. Jika sedang musim hujan, dimana ikan dan berenang menjadi tak menarik (takut banjir), maka mencari burung adalah kegiatan yang tak kalah asiknya. Yang paling menarik adalah senjata yang teramat sacral bagi kaum pemburu burung, yaitu “plintheng”. Ketapel mungkin lebih dikenal di nusantara. Alat ini digunakan untuk melontarkan batu guna  menembak sasaran yaitu burung-burung malang. Tak jarang jika meleset, maka batu itu akan mengenai rumah penduduk, sialnya kita bakal dilaporkan ke orang tua karena tingkah kita itu.
Burung-burung ini kini semakin langka, bahkan di daerah asalnya, dimana saya tinggal. Bagaimana waktu itu kita dengan mudahnya menemukan burung macam Perenjak Jawa, Wiwik atau Gaok. Burung-burung ini spesial. Karena secara tidak langsung memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat di Jawa. Mengenai burung-burung ini, sekilas penulis akan mengulas. Ada beberapa burung khas yang menjadi endemik di Jawa dan mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa mitos.


                                               Gambar 1 : Burung Perenjak Jawa

Burung pertama yang adalah burung Perenjak Jawa (Prinia Familiaris). Burung ini sangat terkenal dengan suara yang tiada duanya. Jika burung ini mengoceh di depan pintu maka diartikan pertanda akan ada tamu, akan ada kebakaran atau akan ada rezeki tak terduga. Sejauh ini hubungan burung dengan berbagai kejadian atau fenomena alam itu memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Meski kenyataanya memang sering terjadi, kicauan Perenjak di depan rumah diikuti dengan kedatangan tamu beberapa saat kemudian, tetap saja itu bukanlah pembuktian yang sahih.
Toh, banyak rumah lain yang tidak didatangi perenjak juga ada tamu. Ini artinya, segala teori yang menghubung-hubungkan perilaku burung dengan berbagai kejadian itu hanya sebatas mitos, atau kepercayaan yang diyakini bersama oleh masyarakat tanpa ada pembuktian secara ilmiah.
Perenjak Jawa termasuk suku Silviidae yang biasa hidup di hutan bakau dan areal terbuka terutama di kebun.  Burung yang umumnya berwarna cokelat, kuning,  dan hijau ini sangat lincah memburu mangsa diantara dedaunan. Ukuran tubuhnya sekitar 13 cm dengan sayap bergaris putih khas serta ekornya hitam putih. Sementara itu, tubuh bagian atas cokelat sampai kehijauan, dengan tenggorokan dan dada tengah putih. Selain perenjak Jawa, yang termasuk dalam suku ini adalah Perenjak Gunung (Prinia atrogularis), Perenjak Padi (Prinia inornata) dan Perenjak Rawa (Prinia flaviventris). Diantara kelima spesies ini, Perenjak Jawa adalah yang paling terkenal di kalangan masyarakat Jawa, karena suaranya keras dan khas itu banyak diartikan sebagai pertanda berbagai hal dalam kultur Jawa.
Suara “cwuit-cwuit-cwuit..”-nya bisa menjadi pertanda kejutan yang menyenangkan. Namun, konon suaranya juga bisa berubah menjadi “hiii-hiii-hiii”. Memang, umumnya perenjak bersuara ribut bersama kawanannya saat mencari mangsa di tanah sampai pucuk pohon.
Burung kedua adalah burung Wiwik (Cacomantis merulinus). Suara burung ini kadang kala memang membuat bulu kuduk berdiri. “Hiii-tiii-ti, ti, tir-ri-ri-ri. Hiii-tiii-ti, ti, tir-ri-ri-ri!” Mula-mula naik nadanya, kemudian turun ketika memekik “tir-ri-ri-ri-ri”. Konon suara itu adalah pertanda bahwa sebentar lagi malaikat maut akan datang, tepat di tempat si wiwik tadi memekik.


                                           Gambar 2 : Burung Wiwik

Kicauan wiwik sebenarnya tidak perlu ditakuti karena suaranya tergantung pada suasana hatinya sendiri. Nada suaranya rendah, murung, seperti orang kecewa  : “pi-u-wit..pi-u-wit” biasanya muncul disaat hujan. Sementara disaat cerah dan pakan melimpah, maka dia akan sangat senang dan nadanya pun riang : “ti-ti-tuit, ti-ti-tuit, ti-ti-tuit”. Nyanyian hati yang berbunga-bunga ini diteriakan sampai berulang kali hingga membuat gemas pendengarnya.
Burung ketiga adalah burung Gawok, burung terakhir ini juga ketiban rezeki sebagai peramal maut yang ulung. Dahulu kala, ketika gaok hitam berkaok-kaok di sekitaran rumah, pasti pemilik rumah jadi ketakutan karena akan segera menemui ajal. Teriakan rendah dan berat : “aaa-ok, aaa-ok” pun jadi mimpi buruk penduduk.


                                           Gambar : Burung Gaok

Mungkin satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah gaok hitam memang paling akrab dengan bangkai. Begitu ada bangkai, rombongan gaok akan langsung datang berbondong-bondong mengerubuti bangkai itu. Jadi, kedatangan gaok diperkampungan atau sekitar perumahan diindikasikan sebagai ramalan bahwa di tempat itu ada atau bakal ada makhluk yang jadi bangkai. Alhasil, semua orang ketakutan dijempul el-maut dan mengusir-usir si gaok agar jauh-jauh dari rumahnya.
Cerita tentang raja-raja mitos ini memang taka da habisnya. Namun alih-alih memperpanjang perkara mitos ini yang tiada hentinya itu, lebih baik menambah pengetahuan kita tentang khasanah burung  Nusantara yang unik.  Mitos boleh terus melegenda dalam masyarakat, tapi ornitologi harus terus berkembang dan jangan terpaku pada mitos tanpa pembuktian ilmiah.

Sumber :
Gambar 1 : http://2.bp.blogspot.com/ -rTyqAUMBK_o/ UA_zOUUbP3I/AAAAAAAAAW8/ oiphCEm1Ze0/ s1600/ burung+prinjak.jpg
Gambar 2 :http://alamendah.files.wordpress.com/2011/09/ wiwik-kwlabu-kedasih- cacomantis-merulinus.jpg
Gambar 3 : http://gambaraneh.16mb.com/wp-content/uploads/2012/04/gaok-2.jpg

20 Agustus 2011

VCD vs UII...

Tidak diragukan lagi bahwa singkatan-singkatan seperti AC, VCD, DVD, dan TV sudah menjadi bagian integral dari bahasa Indonesia dan bahasa nusantara lain. Setiap hari singkatan tersebut kita temui diberbagai konteks. Setiap hari malah kita gunakan sendiri. Tentu ini sah-sah saja. Orang yang kreatif sekaligus menolak pengeruh bahasa Inggris yang terlalu dahsyat dalam bahasa Indonesia pasti dapat mengajukan alternatif lain yang lebih menusantara. Misalnya saja alat penyegar udara sebagai pengganti AC. he4...
Saya lebih tertarik pada pelafalan singkatan-singkatan ini di Indonesia. ari emapat contoh yang saya ajukan di atas, tiga biasa dilafalkan dengan logat Inggris atau setidak-tidaknya keinggris-inggrisan. VCD, DVD, TV. Cobalah sendiri! Kita tidak mengatakan /ve-ce-de/, /de-ve-de/, atau /te-ve/, tapi lebih sering /vi-ci-di/, /di-vi-di/, atau /ti-vi/.
Singkatan AC merupakan campuran kalau dilihat dari cara pelafalannya. A-nya dilafalkan dalam bahasa Indonesia, sedangkan C-nya dilafalkan dalam logat Belanda. Mengapa demikian? Tentu saja pertanyaan seperti itu tidak apat dijawab dengan langsung dan singkat. Akan tetapi, saya kira kita semua atau hampir semua dapat sepakat bahwa /ve-ce-de/ dan seterusnya terdengar agak kuno, kampungan dan tidak modern. Sedangkan yang sering diburu rakyat Indonesia dewasa ini adalah kemodernan, kecanggihan an kekerenan di lingkungan urban.
Nah meskipun argumen ini dapat kita anggap masuk akal ada juga beberapa singkatan yang sangat erat hubungannya dengan kemodernan dan kehidupan urban yang tidak cocok degan argumen itu. Singkatan yang paling mencolok adalah HP yang jelas-jelas berasal dari bahasa Inggris Hand Phone tapi dilafalkan dengan logat Indonesia /ha-pe/. Tidak pernah kita dengar ada yang menyebutnya sebagai /eich-pi/. Mengapa? Karena bunyi H-nya Inggris susah bagi lidah Indoensia dan lidah non-Inggris lainnya? atau ada alasan lain lagi?
Di Indonesia sendiri pernah saya dengar ada yang menyebut alat komunikasi itu sebagai telepon genggam. Ditelingan saya, sebutan itu terdengar cukup segar dan kreatif, tapi saya meragukan kemungkinan dopakai meluas di Indonesia.
Pelafalan singkatan paling aneh yang pernah saya dengar di Indonesia berhubungan dengan salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta. Yang saya maksudnya adalah UII. Singkatan ini tentu saja berasal Universitas Islam Indonesia, yaitu bahasa Indonesia. Meski begitu, mahasiswa-mahasiswanya sering menyebut kampusnya dengan /yu-i-i/. Dengan kata lain, U-mya dilafalkan dalam bahasa Inggris sedangkan kedua I-nya dilafalkan dengan logat Indonesia. Ketika melafalkan dengan logat Indonesia /u-i-i/, saya ditertawakan dan dianggap cukup kampungan. Kalau saya melafalkannya sepenuhnya dengan logat Inggris /yu-ai-ai/ tidak ada yang mengerti apa yang saya maksudkan,
Kasus UII tentu sangat berbeda dengan kampus lain di kota pelajar itu, UGM, UNY dan IAIN atau UNS di Solo, misalnya, semua diucapkan dengan logat Indonesia. Untung bagi mahasiswa IAIN sebab mereka pasti kesulitan kalau singkatan kampusnya harus diucapkan dalam logat Inggris... he4...
(gambar diambil dari : http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/img/IslamicStudies/uii_PB050567%20copy.a.jpg)

5 Agustus 2011

RAMADAN ATAU RAMADHAN...?

Pak Brem punya masalah. "Bagaimana saya harus menulis Ramadan? Pakai dh atau cukup dengan d saja?"
"Mengapa repot, pak? semua koran menulis Ramadhan."
"Tapi dulu kita menulis tanpa h. Jadi, bagaimana ini?"
Pak Brem tidak salah. Orang yang mengalami zaman dulu tahu juga itu. Sekarang dimana-mana kita lihat Ramadhan. Ya mau apa lagi. Soal sisipan h seperti ini tidak bisa diatur, biarpun semua kamus menetapkan Ramadan. Tiap orang punya maunya sendiri, sebab bung h ini terlalu penting untuk disingkirkan. Dan peduli amat maunya rakyat Jiran. Biar saja koran Malysia selalu menulis Ramadan.
Itulah anehnya h. Di mandala Arab ada Ramadan, ada pula Ramadhan. Rakyat Pakistan menulis Ramazan! Bagaimana melafalkannya, kita tanya sajalah kepada mereka. Namun, kita sendiri dahulu juga menulis Ramadlan. Malah d-nya sering hilang dan, menurut kamus Zain, "rakyat biasanya menyebut bulan Ramalan". Nah, rakyat Jawa bilang, Ramelan. Jadilah ini nama ribuan orang.
Di tanah Sunda bulan suci ini biasa disebut Ramedan. Bunyi huruf e suka hilang, dan terdengarlah Ramdan. Bagus juga ini buat nama bayi, ya! Kita tengok saja buku telepon Bandung. Puluhan orang bernama Ramdan dan Ramdhan. Ada juga Ramdanah, Ramdani, dan Ramdini. Huruf h ini punya tempat khusus dalam bahasa kita. Biarpun tidak bunyi sebab Ramadan dan Ramandhan sama saja bunyinya tampilanya saja sudah menggetarkan. Seakan apa yang dimaksud kata ber-h itu menjadi lebih penting, lebih berharga, lebih besar, lebih tinggi, lebih anggun, lebih resmi, lebih terhormat, lebih agung. Ada nilai rasa khusus yang disandang bung h ini dalam bahasa kita. 
Kita bisa menuliskan darma, atau derma. Ada darmabakti, ada darmawisata. Namun, mengapa ditulis Dharma Wanita? mengapa orang menulis "lahir bathin?" Kita berbakti. Nyatanya sering kita lihat bhakti. Ada pula Graha Purna Yudha. Ada Buda dan Buddha. Sudah punya h, perlu dd lagi. Seorang pematung kita bernama Rita Widagdo. Eh, banyak orang suka menulis widagdha. Padahal bunyi d dan dh dalam widagdha ini harus sama, tidak boleh beda! Biar saja, peduli amat. Yang dicari itu gagahnya kok.
Ada batara dan bhatara. Ada busana dan bhusana. Rupanya gejala h ini banyak muncul pada nama. Semua ini mestinya pengaruh dari cara kita mengeja kata-kata Sansekerta dan Jawa kuno. Bahasa Purba memang keramat, sekeramat bahasa Latin. Sakti, kata orang. Lucunya, di Barat ada pula gejala h. Sebagian koran sana menulis Bagdad, sebagian lagi Baghdad. Ada Afganistan, ada juga Afghanistan. Namun, ini bukan perkara selera pribadi. Ini ketentuan berbagai bahasa sana. Atas dasar apa, entahlah. Sikap koran kita sekarang, mendingan ikut yang ber-h saja. Ajaib!
Akar kata Ramadan ini menarik sekali. Ada seorang Arab yang menguraikannya, Abdulhamid Mukhtar. Kara ramadhan berasal dari kata Arab ramida atau arramad, ujarnya. Artinya kekeringan dan panas amat sangat, terutama tanah. Sekarang, kita harus menduga saja apa hubungannya dengan puasa. Pertama, yang kering itu juga kerongkongan, oleh sebab lama tidak makan dan minum. Yang panas itu membakar segala dosa. Ini baru tafsir sederhana saja.
Lucunya lagi, kita menyebut Ramadan sebagai Bulan Puasa. Sumber kata Puasa itu sendiri bukan bahasa Arab, melainkan bahasa Kawi. Kata Arabnya sendiri, siyam, dipungut bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan mungkin bahasa lain juga di Nusantara. Orang Sunda bilang siyam, dan orang Jawa siyem. Ada lagi pengutan Arab yang dipakai orang Sunda dan Jawa, yaitu saum. Ini diartikan puasa juga.
Pak Brem belum habis soal. "Sekarang ini diradio banyak orang bilang Romadon. Apakah menulisnya harus Romadhon?" 
Ah, sudahlah pak. Pusiiing!
Gambar diambil dari : http://storymoryrab.blogspot.com/2011/08/ramadhan.html