Tampilkan postingan dengan label Diriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diriku. Tampilkan semua postingan

3 September 2018

SYUKUR ATAU BAHAGIA ?


Sungguh pertanyaan yang sebagian orang anggap bertele – tele, hal yang tak perlu dijawab. Bahagia dan syukur kan urusan hati. Tak perlu ditanya, dan sulit membedakannya.

Iya, harus diakui “syukur” atau “bahagia” ini secara implisit sangat sulit dibedakan, oke mungkin kita bisa mendefinisikan dengan kata-kata. Tapi bagaimana membedakanya dengan rasa? Bahagia itu keadaan, jadi bahagia adalah kata benda. Keadaan yang menjelaskan perasaan senang dan tenteram, mungkin ini definisi yang paling mewakili.



Kadang kita sendiri, bingung untuk menjawab pertanyaan “apakah kamu bahagia”? Terus mungkin dijawab, “iya aku bahagia”. Ukuranya apa?  Ternyata bahagia itu hanya pilihan, bukannya dapat diukur, hanya diri kita sendiri yang tahu.

Mungkin tak perlu meributkan kata “bahagia”. Itu kan hak prerogative, karena pilihan pribadi.
Aku lebih memilih “bersyukur”, kata ini lebih representatif. Bersyukur lebih kepada berterima kasih atas hal – hal yang didapat, berusaha menerima apa yang sudah digariskan. Berusaha menjalani takdir dengan sekuat tenaga.

Mungkin saja apa yang kita cari sebelumnya tidak tercapai, terus kita tidak bahagia. Misal kita dibohongi seseorang yang kita cintai, ternyata dia berbohong dan telah melakukan apa yang kita benci. Tentu selama hidup kita selama bersama kekasih kita akan dibayangi kebohongan itu, hidup dengan kebohongan itu menyakitkan. Mungkin bisa jadi kita tidak bahagia, tapi kita lebih memilih bersyukur. Dengan begitu, kekuatan syukur ini akan membuat kita kuat… syukurlah sebenarnya sumber kekuatan hati, bukan bahagia.

Nah mungkin saja kita belum merasakan bahagia, tapi bersyukur lebih mendamaikan. Bukankah Tuhan juga memerintahkan kita untuk bersyukur, bukan bahagia? Harapanya jika kita bersyukur, Tuhan akan memberikan lebih kepada kita. Mungkin saja kita tidak bahagia dengan siapa kita hidup saat ini. Tapi dengan syukur, Allah sudah menjanjikan kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak.



CINTA HAMPA



Dahulu… dahulu sekali hati ini pernah jatuh cinta. Jatuh cinta akan identitas diri sebagai seorang patriot. Rela mengorbankan apapun demi korsa, demi kebersamaan tim. Itulah hidupku dulu, cinta yang membakar semangat.


Lebih lama hidup, cinta di hati ini berkembang. Mencinta seorang bidadari dunia ciptaan Tuhan. Aku begitu kagum akan dirinya yang begitu sabar. Aku sering kali menggodanya, mencoba mencari perhatian darinya, namun luar biasa balasan yang kudapat. Sebuah mushaf dan tasbih dia berikan. Sebuah sinyal, “hai ikhwan, perbaiki dirimu”, aku mau imam yang bisa membimbingku kelak. Itulah sinyal yang ku tangkap, akhirnya aku menjaga jarak dari sang bidadari. Berniat memperbaiki diri, demi hatinya yang suci.
Lama… lama sekali, aku perbaiki dan bersiap demi dirinya. Aku sengaja jaga hatiku demi dirinya, iya ga masalah dihina sebagai jomblo…, walaupun kadang hinaan itu begitu menyayat, tapi tak ku hiraukan demi sang bidadari pujaan hati.
Ku cari… lama sekali ku cari, akhirnya kutemukan dirinya disudut kota. Sebuah penantian yang panjang terbayar tunai. Tak sabar temui wali, mengajaknya mengikat janji suci.
Tapi sakit… sakit sekali, dia telah kelain hati. Dia telah menerima pinangan lain lelaki. Aku tau sifatnya itu samikna wa atokna umi abi. Ku dengar dia dijodohkan, seorang alim dan sholeh. Seseorang yang seperti dia inginkan dahulu, imam yang membimbingnya di kemudian hari.
Pedih… pedih sekali, serasa Allah menampar pipi. “siapa kamu? Berharap kepada selainKu?”. Pelajaran yang begitu berharga, jangan berharap kepada manusia. Kau hanya akan mendapat kepedihan hakiki.
Selepas itu, lama… lama sekali hatiku kosong. Berharap bertemu bidadari yang lain, mengisi kekosongan hati.
Akhirnya dia yang kunanti untuk mengisi hati, Tuhan hadirkan. Jawaban akan doaku setiap malam. Tapi hati terdalamnya pernah terisi, pintunya telah terkunci. Aku hanya bisa tinggal diluar, hanya di serambi. Sang pria itu telah dia berikan segalanya, bahkan yang menjadi hak ku kekasih halalnya.
Sungguh sakit…sakit sekali, kembali Tuhan memberi pelajaran. Cinta itu hanya sebuah kefanaan. Cinta sejati itu tidak ada. Karena cinta kepada makhluk hanyalah kehampaan.
Cinta itu hanya omong kosong, hampa….

2 November 2017

DITIPU CINTA

Jika cinta itu seperti Natrium,
Maka cinta akan reaktif, spontan dan mudah emosi
Jika cinta layaknya silica,
Maka ia keras, transparan dan bahkan sulit melebur

Jika cinta bagaikan etanol
Ia akan mudah menguap, hilang, sesaat
Jika cinta terwakilkan klorin
Maka ia korosif, beracun dan mematikan

Andai cinta digambarkan benzena
Tentu ia akan teresonansi, saling mengisi namun begitu mudah tergantikan
Andai cinta secerah emisi magnesium
Tentu ia akan menyilaukan dan membutakan mata

Tapi Tuhan tak pernah ciptakan cinta layaknya spesi kimia
Ia adalah anugrah,
Karenanya kerakal jadi intan permata, comberan menjadi anggur surga
Gembala jadi pujangga, penjahat jadi malaikat

Tuhan ciptakan cinta begitu unik
Kehilangan segalanya demi cinta dianggap layak
Menukar apapun demi cinta rasanya impas

Namun cinta juga bisa menipu
Ketika mendapat cinta yang sesaat
Lebih kepada nafsu duniawi

Aku memang sedang jatuh cinta
Semoga cintaku ini tak menipuku
Karena berat dan sesak hatiku karena pernah merasa tertipu

Hanya kepada-Nya lah kusandarkan cintaku
Namun begitu berat hati ini
Ikhlas tak kunjung datang menghampiri hati

Cinta ternyata tak menipu
Dirikulah yang tertipu anganku sendiri

Cinta ini, semoga Allah kuatkan hatiku….



10 Agustus 2016

Penggalan Kisah Hidupku

Jika boleh buka kartu, profesi yang saya impikan sejak kecil adalah menjadi seorang pilot. Pilot merupakan motivasi hidup buat saya, merupakan sebuah impian yang membuat saya rajin belajar hingga ke jenjang SMA. Saya tidak ada alternative dengan profesi lain, saya hanya focus mengejar cita-cita saya itu, dan tak pernah menyiapkan rencana cadangan. Mulai dari olah raga, menjaga makan hingga berenang dan tidak merokok semua itu saya tempuh demi memuluskan rencana yang dahulu telah disusun. 
Dalam pelajaran, hingga lepas kelas 10 prestasi saya tidak termasuk yang menonjol. Salah satu nilai terbaik yang saya dapat adalah mata pelajaran olah raga yang saat itu meraih nilai 9 di raport, selain itu hanya elektronika yang saya anggap menyenangkan dan saya juga mendapat nilai 9 pada mata pelajaran ini. Tak ada cerita kimia dalam “diary” atau pembahasan tentang masa depan saya. Mapel kimia hanyalah pelengkap, tiada yang spesial. Seperti yang dikatakan Azwar (1990) bahwa kemampuan intelektual yang bersifat umum (inteligensi) dan kemampuan yang bersifat khusus (bakat) merupakan modal dasar utama dalam usaha mencapai prestasi pendidikan, namun keduanya tidak akan banyak berarti apabila siswa sebagai individu tidak memiliki motivasi untuk berprestasi sebaik-baiknya. Sehingga nilai saya pas-pasan. Namun itu berubah total setelah sebuah kejadian yang mengubah jalan hidup saya.




Sebagai siswa pria yang umum dan random, tentu suka permainan sepak bola dan kebiasaan taruhan sudah lazim menjadi hobi saat akhir pekan, dimana kita mendukung tim kesayangan akan menang. Uangnya emang tidak seberapa, namun itu serasa berarti, menunjukan eksistensi dan dukungan pada tim favorit di liga. Kebiasaan ini, terbawa dalam pelajaran. Di awal kelas 11 ada seorang guru kimia yang tersohor memiliki kemampuan indera ke enam mampu membaca pikiran, sehingga tidak ada yang bisa bohong dengan beliau atau mencontek ketika beliau mengawas. Obrolan-obrolan seputar beliau ini tak berhenti, dan saya termasuk yang menolak dan tak percaya akan hal takhayul semacam itu.
Ini menariknya, ketika ulangan bab stoikiometri larutan kelas 11, kerena ketidak percayaan tentang rumor itu, saya ditantang temen-temen untuk nyontek di ulangan itu, bukanya saya tidak belajar atau tidak siap mengahadapi tes, tapi tawaran traktiran selama seminggu begitu menggiurkan, kata temen saya hanya perlu mengeluarkan kertas contekan selama 1 menit di meja dan membacanya, udah cukup dan ketika tidak ketahuan maka mereka akan menganggap saya menang. Baiklah, sebuah tantangan yang saya anggap enteng dan sepele.
Malam sebelum tes saya siapkan contekan ukuran 4x5 cm yang didalamnya saya tulis berbagai macam rumus larutan sampai pH, hanya itu dan keesokan paginya saya datang paling awal dan duduk di bagian paling kanan depan dekat pintu masuk, sebuah black spot, area yang paling sulit diamati guru, karena untuk melihat kearah saya harus menoleh 90o ke kiri dan saya masih terhalang teman sebangku, sehingga ideal lokasi ini untuk mencontek karena meja guru letaknya di bagian kiri kelas dekat dengan dinding. Jam tes telah tiba, dan kertas soal dibagikan, setelah saya selesai mengerjakan soal, saya iseng mengeluarkan contekan dan temen saya mengamati, tidak hanya semenit, saya mengeluarkannya sampai waktu tes akan berakhir, dan saya tidak ketahuan. Kesuksesan besar, makan gratis sudah terbayang selama seminggu.
Namun keesokan harinya ketika kertas ulangan itu dibagikan, hal yang luar biasa terjadi. Ketika pak Guru kimia baru masuk kelas, langsung menatap saya dengan tajam. Pandangan yang mungkin hanya sedetik itu telah membuat jantung saya berdegub kencang, keringat dingin mengalir deras, rasa khawatir membuncah. Dan benar, kertas ulangan saya tidak dibagikan, dan saya harus datang ke kantor setelah pulang sekolah. Saya takut tidak kepalang, namun guru saya tak pernah mengatakan apa alasan kertas ulangan saya tidak dibagikan, apakah saya nyontek atau remedial, sebuah misteri hingga kini, namun satu hal, saya tes ulang. Namun persepsi temen-temen tentang kejadian ini bahwa saya ketahuan mencontek telah menyebarluas, dimana-mana saya di bully dengan kata “ketahuan nyontek”. “Kuwalat” mungkin dalam bahasa Jawa alias karma yang saya dapat karena berbuat tak pantas kepada guru tercinta. Sejak saat itulah saya berubah, menjadi lebih menghargai bapak/ibu guru dan kimia yang sebelumnya bukan mata pelajaran favorit, kini menjadi berkesan tiap materinya, menjadi sesuatu yang berat untuk dilewatkan, karena saya ingin buktikan bahwa saya nyontek karena khilaf tergiur rayuan traktiran.
Ketika akhir kelas 12, saya tak lagi mengandalkan olah raga dan elektronika, kini sudah ada kimia yang menemani. Saya mendapatkan poin 9 dimata pelajaran ini, sungguh luar biasa, sengsara membawa nikmat mungkin setelah kejadian itu saya jadi suka mapel kimia. Saat akhir masa di SMA saya mencoba mendaftar sekolah pilot di Adi Soemarmo, tes – tes fisik dan kemampuan akademik telah saya lalui dengan mulus, namun ketika dihadapkan dengan biaya yang mencapai ratusan juta, saya takluk. Saya hanya anak petani yang tak kuasa mendapatkan dana sebanyak itu, saya menyerah dan saya hampir frustasi.
Ada sebuah tawaran dari bapak Guru kimia bahwa ada beasiswa dari UNS di jurusan pendidikan kimia. Katanya belum ada yang berminat, maklum saja profesi guru dimasa itu masih dipandang sebelah mata. Beasiswa ini hanya akan mengambil 1 siswa dari SMA saya, begitu kata beliau. Dengan hati yang masih sedih, saya putuskan untuk mendaftar program itu, dan akhirnya selang sebulan, saya dinyatakan diterima di Jurusan Pendidikan Kimia melalui jalur beasiswa. Sebuah hal yang biasa, saya tidak surprised dengan ini, karena kegagalan mendapatkan impian kecil saya itu. Tapi tak apa mungkin ini jalan terbaik saya dari Yang Maha Kuasa.
Saat kuliah, saya termasuk bukan yang berprestasi. IPK saya tidak terlalu bagus, pas-pasanlah. Tapi alhamdulillah lancar, kuliahnya tanpa teresendat. Dari kuliah inilah saya banyak mendapat pencerahan bagaimana mulianya tugas guru, bagaimana beratnya pula menjadi seorang guru yang bertugas menjadi “agen perubahan”. Saya ingat betul bagaimana pesan Dekan FKIP UNS saat menyambut kami di fakultas, bahwa ketika kalian memutuskan menjadi guru, bersiaplah untuk tidak kaya dan berpenghasilan besar, karena tuhanlah yang akan menggaji kalian dengan syurga. Luar biasa petuah professor saya ini, membakar semangat kami. Sampai kuliah selesai, saya selalu bersemangat akan siswa-siswaku yang kelas akan kutemui.
Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu”, (HR. Thabrani). Begitu berat tugas guru yang tak hanya mengantar siswa memahami kimia sebagai cabang dari sains, namun juga pengejawantahanya agar mempu meningkakan ketaqwaan kepada Tuhan menjadi motivasi tersendiri bagi saya.
Sekolah pertama tempat saya mengabdi adalah SBBS atau Sragen Bilingual Boarding School, sekolah negeri yang tersohor di Jawa Tengah, sekolahnya para juara, karena hanya dalam waktu tiga tahun berdiri, sekolah ini telah mengoleksi 300 lebih penghargaan di berbagai kerjuaraan, sebuah Rekor MURI yang sulit ditandingi sekolah lain. Di sekolah ini saya dikontrak selama setahun percobaan sebagai guru pengganti. Fresh graduate, yang dipercaya mengelola kelas, sungguh tantangan besar. Namun saya tak mendapat hambatan berarti di tempat ini, anaknya begitu patuh, cerdas dan mereka begitu kooperatif dengan guru, saya menikmati bagaimana menjadi guru. Menyenangkan sekali, wah ternyata menjadi guru tak seberat yang dikatakan orang.
Di tahun kedua, saya ditawari untuk mengajar di sebuah sekolah swasta laki-laki di depok, dengan status guru tetap dan fasilitas lengkap.Wah, tanpa ragu saya terima tawaran itu. Dan di tempat inilah, saya baru merasakan cobaan sebenarnya memilih profesi guru.
Di hari pertama saya, ngajar, dengan hati berbunga-bunga, saya masuk kelas dan memberi salam kepada siswa. Namun bagaimana saya terkejutnya, tidak satupun siswa di kelas itu menyambut salam saya, mereka kompak mengacuhkan saya. Pelajaran tidak berlangsung kondusif, bahwa ketika saya meminta siswa membuka buku, mereka tidak nurut. Mereka memilih membaca buku pelajaran kelas lain. Kejadian ini berlangsung sampai dua kali pertemuan, saya hampir menyerah. Saya bahkan melakukan penyelidikan khusus, namun tak pula mendapat kejelasan apa yang menyebabkan mereka seperti itu, saya benar-benar di coba. Dipertemuan ke tiga saya udah tidak sabar lagi, saya secara spontan menantang mereka berkelahi untuk menyelesaikan masalah ini atau mereka mengaku apa yang menyebabkan sikap kepada saya.
Akhirnya mereka mengaku, kalau saya adalah penyebab guru yang mereka sayangi sebelumnya dikeluarkan, seorang guru perempuan yang menjadi idola dikelas itu. Oke, saya paham masalah ini sekarang, karena jarangnya guru perempuan di sekolah ini, apalagi guru sebelum saya adalah muda dan single tentu menjadi “oase” ditengah kegersangan gender di sekolah ini. Ah, sepele sekali, namun ini tantangan besar, menarik perhatian dari seseorang yang telah cinta dengan orang lain, menjadi menyukai kita.
Seperti Naim, 2013 dalam bukunya mengatakan “kemampuan guru inspiratif membangun iklim pembelajaran yang semakin menyuburkan arti dan makna inspiratif akan meningkatkan motivasi”, saya berupaya mengaplikasikan semua ilmu yang saya dapat di kuliah untuk mendapat perhatian mereka, dan sengaja saya sering ajak meraka jalan-jalan untuk studi tour seperti kunjungan industri dan kunjungan ke puspitek Serpong. Setelah berjuang sekian lama mengambil hati mereka. Setelah berjuang hampir satu semester akhirnya saya bisa mendapatkan hati mereka. Di semester kedua, mereka perhatian dengan kimia dan mereka tertarik dengan kelas saya. Mereka juga meminta maaf atas kejadian itu, dan sadar bahwa tindakan mereka adalah kekanak-kanakan. Satu lagi pengalaman berharga saya dapat, bahwa semangat dan perhatian dalam pelajaran adalah hal yang paling penting daripada pelajaran itu sendiri. Jika tanpa keduanya, maka sebagus apapun penyampai materi atau materinya, makan tidak akan pernah bisa diserap oleh siswa, dan sebaliknya dengan semangat dan perhatian sesulit apapun materi akan dengan mudah ditaklukan dan dihadapi.


19 November 2015

Selasa Yang (pernah) Manis

Dulu, ketika bunga krisan masih mekar di Pasar Minggu
Waktu seminggu begitu berat untuk dilalui
Tak kuasa menanti sebuah hari
Hari yang membuat hari lain tak berarti dimataku

Dulu, ketika bunga krisan masih mekar di Pasar Minggu
Hanya sehari dalam seminggu
Hanya ingin kuintip dirinya yang mekar menarik kalbu
Indah tiada duanya, hingga mawar pun merasa malu

Dulu, setiap Selasa Senja
Tak lengkap hidupku jika tak menyapamu
Tak lengkap soreku jika tak melihatmu
Hanya Selasa, hingga Minggu melupakan dirinya

Dulu, setiap Selasa senja
Hidupku pernah berbeda
Hidupku seperti mendapat pelita
Itu karenamu, krisan yang pernah mekar di sana

Seperti titah Sang Khalik
Ronamu membawa kebaikan, bagi tiap insan
Tak terkecuali diriku
Mengenal hijrah, dari ronamu

Bunga krisan di Pasar Minggu
Aku dahulu sempat berkhayal memilikimu
Mengisi relung kalbuku yang kering berdebu
Mengisi kalbuku yang sepi, merindu

Seperti titah Sang Khalik
Ukuran kepantasan telah di titahkan-Nya
Memastikan jalan yang dicinta-Nya 
Tak meleset satu pun, semua ada jalannya

Bunga krisan di Pasar Minggu
Kini ku tak lagi bisa kagumi ronamu
Nyatanya kau sudah terikat
Meskipun dahulu kau bebas mengaku

Dulu, Selasa Senja di Pasar Minggu
Aku beruntung telah mengenalmu
Pernah merasakan indahnya gelora di kalbu
Gelora yang membawaku bercermin kembali
Cermin untuk menemukan jalan-Nya


(Lihatlah, Krisan dilangit...itu selalu untuk mu...)

23 Mei 2015

Renungan : Hanya Ada Satu Arah

     Hari berganti hari dan kita tetap mengerti, apa sebenarnya yang kita cari dan ingini. Pencapaian yang tampak begitu membanggakan, adalah jebakan tak berkesudahan akan keinginan selainnya yang lebih lagi. Jika mampu, kita ingin mereguk yang lebih melimpah, lebih mewah, lebih indah dan sejuta lebih-lebih lain. Dalam bilangan tak terhingga tanpa kenal batas tepi. Dan bukankah memang akan selalu begitu, keadaan para penghamba dunia?


     Kemudian kita melupakan hal yang paling asasi, mengenal dan mencintai Allah. Pondasi utama dari sebuah tugas besar dan tujuan penciptaan, beribadah kepada-Nya. Berbakti, mengabdi, pasrah, menyerah sepenuhnya. Yang keberadaannyalah esensi dari keberhasilan dan rasa kenikmatan. Dan kehilangannya meniscayakan kegagalan dan hampa akan semua yang bisa dirasakan.
      Tapi bagaimana jika kesibukan kita, bukanlah pengejawantahan dari nilai-nilai  kepasrahan itu? Tak jelas mau kemana, bias dalam seluruh tatanan nilainya. Hingga perasaan berarti yang palsu dan menipu, namun membelenggu karena pemahaman yang keliru. Apakah seperti ini yang memang seharusnya kita lakukan di dalam hidup. Sebagai manusia, atau sebagai hamba Allah?
     Yang akhirnya, membuat kita tak sempat melakukan taat. Tak sabar untuk belajar. Tak punya waktu bahkan sekedar berwudlu. Kita gunakan semua waktu untuk memburu. Kita pakai semua angan untuk merancang. Juga semua cita-cita untuk meraja di dunia. Kita takut kehilangan, hingga menjadi rakus dan buas. Semua harus diberangus, semua harus dilibas, siapapun yang kita anggap menjadi penghalang. Tapi bagaimana jika itu adalah tatanan syariat dari Yang Maha Membuat, Yang Maha Menjadikan? Yang semestinya menjadi penyikap hakikat dan penunjuk jalan yang terang?
      Belumkah kita menyadari jika semua itu adalah hukuman sebab kita meremehkan iman? Menganggap tidak penting untuk belajar mengenal, mencintai hingga menyerahkan diri kepada Allah? Adakah hal yang lebih menakutkan daripada manusia yang kehilangan, sebab tak membutuhkan, bimbingan Sang Maha Rahman dalam hidupnya?
    Hingga kesibukan yang terus bertumpuk dan tak pernah usai, harus kita hadapi sebagai sebuah kensekuensi. Menghabiskan umur untuk semua yang tak kita bawa ke kubur. Untuk semua yang tidak pernah membuat kita puas. Tidak menenangkan jiwa dan membuat dada lega. Bahkan untuk semua yang akhirnya kita sesali.
     Maka, perlombaan itu ada dalam kebaikan, kompetisi itu ada dalam kebaikan, kompetisi itu dalam ketaatan, dan kemenangan itu dalam ketakwaan. Tidak selalu harus mengalahkan orang lain, jika sebagian besarnya justru mengalahkan diri sendiri. Membersihkan kalbu agar bisa menyatu dengan arahan Yang Maha Tahu. Menambah kecerdasan agar kesibukan kita tak kehilangan arah.

     Sebab hanya ada satu arah yang pasti : Kepada Allah, semua manusia akan kembali. Tapi kenapa kita tetap tidak menyadari dan mengerti?




Pustaka :
Gamba diambil dari : http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2013/09/17-bajo_05.jpg

8 Maret 2015

Di Taman Hati Orang Yang Dibalut Cinta dan Rindu


Cinta, sulit diungkapkan, ia datang dengan sangat cepat, sulit dikendalikan... namun rasanya begitu dahsyat. Dari definisi kimia "Cinta adalah sebuah reaksi kimia yang dilakukan dalam otak, sehingga menyebabkan perasaan tenang dan bahagia melayang di awan".
Begitu cinta telah merasuk, rasa aneh adalah awal pertanda. Salah ngomong adalah buktinya, ingin menyebut KIMIA malah terucap FISIKA.... modulus cranial dan syaraf motorik tidak sinkron ketika berada didekatnya, lidah kelu, otak beku, tak berani menyapa bahkan mamandang dalam hitungan detik. Perkara itu adalah hal yang sangat luar biasa sulit dilakukan. Menatap dari jarak 25 meter adalah kepuasan. Mendengar suaranya adalah obat kegundahan hati paling mujarab. Senyumnya adalah obat lelah yang dahsyat.
Namun tiap wanita memiliki sifat dan karakternya sendiri, sangat sulit diterka... sesaat dia begitu memberi harapan, sesaat begitu terasa menghindar... Keseriusan dan kesungguhanlah yang sesungguhnya menentukan, namun tidak semua pria seperti itu. Butuh sinyal terlebih dahulu. Ketika seorang pria telah mengirim sinyal, namun si wanita tak pernah memberikan sinyal balasan menolak atau memberi harapan, itu rasanya kok juga mendholimi. 
Namun memang susah pahami wanita, lebih mudah mengerjakan kimia analitik III yang merupakan materi paling susah yang pernah saya hadapi. 
Yah,  memang berat. Jika  sang wanita pujaan hati tidak segera di "tembung" maka muncul ketakutan akan didahului yang lain, namun kegundahan yang lain juga muncul. Takut ditolak, takut gak bisa menjalankan amanah de el el..............
Sungguh dikau mengganggu tidurku, tidurku tak pernah nyenyak... semoga Alloh kuatkan hatiku,

22 Januari 2012

LAST TIME


How are you, how was it going?
Did you also get used to it?
Do you feel well in Istanbul?
You have married, how did it happen?
Could you finally find the famous harmony, which you always were talking about?
I am okay,
everything is still the same.
Sleeping pills
and smiles full of lies.
I am okay,
you know me.
Whatever I say or do,
I always have the feeling, it is too late.
I wish to see you for a last time
to get rid of your face.
I wish to be defeated by you for a last time,
even if you can't understand it.
I wish you would be mine for a last time
and I could fall asleep next to you.
Believe me, there's nothing new.
I got a little bit older, of course
and my hair run low.
You left an endless night,
you put three little points of suspension.
I didn't show it but I became desolate.
(Emre, dalam sebuah terjemahan)

6 Agustus 2011

Ramadan Dengan Keikhlasan

Ramadan bulan suci yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia. Ibarat petani yang sedang bercocok tanam..., bulan ini adalah masa dimana panen akan berkali lipat, segala sesuatu yang ditanam akan tumbuh dan berkembang beratus kali lipat. Hal yang sangat luar bisa tentu saja bagi umat muslim, amalan sunnah dihitung menjadi amalan wajib dan amalan fardlu dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, tak ada bulan sedahsyat ini selain ramadan. Maka tak ayal pada bulan ini umat muslim berlomba untuk berbuat kebaikan mulai dari dzikir, baca qur'an sampai i'tikaf.
Namun ramadan kali ini ada yang special buat diriku, ramadan yang dilingkupi banyak langkah-langkah krusial dalam hidup. Ramadan yang penuh dengan pembelajaran kesabaran dan keikhlasan. Ramadan yang menuntut diriku membuat langkah spektakuler dalam perjalanan hati dan jiwa.
Rencana hidup yang pernah kubuat jauh hari harus kurubah karena datang seseorang. Yah rencana hidup, he4. Ibarat strategi, yah tiba-tiba alias ujug-ujug kurubah. Proposal mulai disusun, bahkan langkahnya sudah kuatur dengan detail mulai dari tanggal dan materi. Ketika rencana sudah mulai berjalan, dan tahap pertama diluncurkan ternyata tidak seperti bayanganku.
Ah... pengalaman pertama terserang virus merah jambu ini ternyata tidak berjalan mulus, ada kabar pesaing kuat yang ikut berkompetisi. Pesaing yang nampaknya mampu patahkan hatiku, dan benar adanya... walaupun tidak kudengar langsung dari "the sharp eyes" (karena tatapan matanya buatku lumer), tapi menurut laporan intelejen (koyo FBI wae...) memang sudah terjadi "khitbah". Yah apa boleh buat, tak ada yang patut dipersalahkan to? toh memang kalo diriku kembali berkaca, seseorang yang baik akan dapatkan yang sepadan. Wanita sedahsyat itu nampaknya terlalu tinggi buatku, ga level getow seperti yang 7icons bilang. Saya harus menenteng magnum SS-2 tercanggih di pundak berjalan pulang, infanteri yang kalah perang. Mungkin rudal "TomHawk" lebih dahsyat memborbardir dari pada Senjata sekelas SS-2 buatan Pindad, sebenarnya ingin pakai misil TAEPODONG-2, tapi ga kuat...he4. Untunglah ada SMS dari seberang sana yang kuatkan hatiku, petunjuk kalau pemilik mata tajam itu tahu perasaanku, mengurangi sedikit sakit di hati. Karena kata pepatah, "yang paling menyedihkan dan menyakitkan adalah ketika seseorang yang dicinta tak tahu perasaanmu..." dalem kan?
Aku berusaha melupakan kekalahan itu, tapi sulit luar biasa... Alhamdulillahnya, aku ketemu ramadan segera setelah kalah perang. Maka hatiku dikuatkan, dan pasti dengan ramadan tahun ini kembali menata hati menuju keikhlasan haqiqi, karena Alloh. Yah, Alloh dan Rasulnya tidak hanya mengajarkan optimis, namun juga realistis. Karena perpaduan dari keduanyalah sebuah ikhtiar yang haqiqi. Aku sudah berikhtiar, dan juga sudah berdoa... Alloh azzawajallah yang menentukan hasil.
Banyak hikmah yang kudapat. Rasa-rasanya ini peringatan dari sang Khalik agar aku kembali ke rencana awal yang kususun sebelum proposal kuajukan. Nampaknya harus belajar dari hikayat tunas bambu yang mempersiapkan diri lebih baik, baru kemudian muncul dengan langkah pasti dan meyakinkan.
Akhirnya, Alhamdulilllah, semoga ramadan kali ini mampu buatku menata hati yang sempat terjerembab, menata kembali dengan keikhlasan yang diajarkan Rosululloh SAW, semoga...
Gambar diambil dari : http://heninginside.blogspot.com/2010/05/memahami-kembali-makna-ridho-dan-ikhlas.html

28 Juni 2011

Kisah Sang Khalik, Semak dan Pohon Bambu

Pada suatu masa, Dia menanam biji-bijian tumbuhan semak dan bambu secara bersamaan. Dia merawat mereka dengan baik, menyinari dengan cahaya, menyirami dengan hujan. Biji-biji semak tumbuh dengan cepat, subur dan memberi keindahan dengan bunganya. Tetapi biji bambu belum tumbuh sama sekali. Dia tidak menyerah untuk merawat biji-bijian tersebut. Baru tahun kelima, tunas-tunas kecil dari bambu muncul. Tunas-tunas kecil itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan semak yang besar dan lebat. Tapi sesudah tahun keenam, tunas bambu yang kecil itu tumbuh pesat dan berdiri tegak setinggi 30 meter, jauh melebihi tinggi semak. Tampaknya selama 5 tahun, biji bambu yang ditanam itu menguatkan akar-akrnya untuk dapat hidup lama.
Selama kita bergulat dengan diri sendiri, dengan hidup kita, sebenarnya kita tumbuh dan mengembangkan akar hidup seperti batang bambu. Akan ada waktunya kita untuk bisabertumbuh lebih tinggi dari saat ini. Cintai proses dan bukan hasil semata. Proses akan mengajarkan banyak hal pada kita....
(11.31 wib, 7 Mei 2011, from someone)
(Gambar diambil dari http://pix.com.ua/id/nature/trees_leaves/forest_and_trees/482071-see.html)

26 Mei 2010

SEMUA BERAKHIR DI HATI

Setiap kata yang terucap secara jujur mewakili isi hati. Semua yang didengar pula akan masuk dan diolah dihati... semua yang dilihat pada akhirnya akan bermuara di hati... Manusia yang begitu indah secara bentuk dan rupa begitu indah dan sempurna dinilai dari sebuah organ yang tak lebih dari 2 kg...
Ya memang, ketika seseorang menggunakan radar hati tentu takan ada yang terlewat atau bahkan tersingkirkan.... ketika hati sudah mulai tidak berfungsi sebagai radar, maka egoisme akan merasuki... "tak peduli" menjadi pertanda awal penyakit kronis ini, kemudian tak mau tau akhirnya semua salah yang benar hanya diriku...tak peduli lingkunganku...masak bodoh hilang harga diri....
Manajeman Hati menjadi kendali utama, namun manajemen seperti apa? Hanya kita sendiri yang dapat menjawab, namun kejujuran adalah awal yang baik untuk mengawali manejeman hati ini.... sebab kejujuran akan membuat kita ringan dalam menghadapi langkah hidup selanjutnya,,,, Sebaliknya dengan kebohongan, maka akan menenggelamkan kita dalam lembah kenistaan, kebohongan yang kita buat akan kita tutupi dengan kebohongan yang lain. Kebohongan menjadi candu yang berbahaya.... (foto diambil dari anggitsaputradwipramana.files.wordpress.com)

21 Mei 2010

SELAMAT JALAN SANG MAESTRO

Semua yang berada di bumi pasti kelak akan meninggalkan bumi.... Semua yang diciptakan sang Maha Kuasa kelak pasti juga akan kembali kepadanya. Manusia pada hakekatnya hanya sementara berada di posisi kefanaan duniawi, namun kampung akherat adalah tempat hidup sejati dan abadi....
Bengawan Solo, riwayatmu dulu... tentu lagu ini sering berkumandang di telinga kita sejak masa perjuangan bahkan telah mengilhami banyak orang karena liriknya yang bersahaja. Tak hanya itu, lirik-lirik lagu sang maestro telah menyihir banyak orang hingga manca negara, sebagai bukti lagu Bengawan Solo telah di terjemahkan dalam 4 bahasa yaitu Inggris, Belanda, Mandarin dan Jepang. Saking gilanya orang Jepang dengan langgam keroncong ini, mereka mendirikan yayasan gesang untuk mengenang dan menghargai karya-karya sang maestro....
Namun kini sang maestro telah meninggalkan kita semua, bukan kecewa... namun sudah banyak jasamu bagi bangsa ini. Kami kaum muda belum dapat mengharumkan bangsa seperti yang lakukan lebih dari 92 tahun usiamu... hingga akhir hayatmu-pun, pesan untuk menghargai karya bangsa sendiri masih sempat kau amanahkan kepada kami...., kau minta kami lestarikan keroncong yang kini telah diklaim bangsa Malingsia...., yang lagu kebangsaanya pun menjiplak lagu keroncong....
Kami sebagai generasi muda sangat membanggakanmu, walau memang kami tidak sanggup mempertahankan apa yang menjadi harapanmu selama ini.
Selamat jalan Eyang Gesang... Selamat jalan sang maestro.... bangsa ini bangga dan takan melupakan semua jasamu....semoga amal kebaikanmu diterima Alloh SWT... amin...
(foto di ambil dari indonesiatunes.com dan budihlm.blogspot.com)

21 September 2009

KEBERHASILAN RAMADHAN

Ramadhan bulan penuh rahmat dan magfiroh telah meninggalkan kita semua. Sedih rasanya atmosfir ibadah yang begitu kental meningggalkan kita semua. Ada keraguan, akankan kita bertemu Ramadhan yang akan datang? akankah kita masih diberi kesempatan oleh Alloh untuk menikmati ramadhan berikutnya?
Jauh dari itu, kita sebaiknya menginstropeksi diri kita bagaimana Ramadhan yang telah kita jalankan, Apakah hanya mendapat lapar dahaga? atukah yang diinginkan Alloh dalam Al-Qur'an bahwa kita menjadi umatnya yang bertaqwa. Rasanya kita perlu mencatat kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan selama bulan ramadhan agar kita tahu sejauh mana kita berusaha.
Namun ada cara singkat untuk mengetahui apakah ramadhan kita berhasil atau tidak. Ini dilihat Pasca Ramadhan.
1. Adanya peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah;
Ini indikator yang teramat penting, kalo boleh dikatakan nomer wahid soalnya indikator ketaqwaan adalah ibadah. Peningkatan disini boleh dikatakan adalah peningkatan sebelum dan sesudah ramadhan. Misal kita sholatnya sering bolong, maka setelah ramadhan sudah ga lagi, trus bila dulunya ga sering jamaah dimasjid kini seneng, penting ni bagi cewek2 yang dulunya masih seneng mengumbar aurat sekarang berpakaian rapi alhamdulillah pakai kerudung dan lebih bagus lagi jilbab (numun sewu=yang sar'i sesuai di Qur'an)
2. Adanya rasa kedekatan dengan Alloh;
Tentu seorang yang "pedekate' dengan Alloh saat ramadhan akan merasa rindu dan dekat dengan-Nya bila Ramadhanya sukses. Ini tergantung diri masing-masing, karena dalamnya perasaan sulit ditakar, tapi menurut Rosul orang yang beriman tu bila mendengar firman Alloh, bergetar hatinya... sudahkan kita seperti itu?
Mungkin kita perlu mengaca lagi bagaimana ramadhan kita berhasil, tenang belum terlambat, biar ramadhan kita berhasil mari kita tingkatkan kualitas ibadah dan keimanan kita pasca ramadhan. InsyaAlloh, bila ada usaha pasti ada jalan.
Tak lupa Minal aidzin walo faidzin, bila ada kata2 fendi yang menyinggung mohon maaf ya... Selamat hari Raya Idul Fitri 1430H Wassalam...

9 September 2009

Ramadhan = DIKLAT HATIKU

Ramadhan... ya ramadhan, bulan penuh hikmah, pahala dan ampunan. Andaikata setiap bulan bertuah seperti ramadhan niscaya hanya kebahagiaan.
Ramadhan kali ini terasa spesial bagiku, kerena kali ni aku benar-benar konsentrasi tanpa memikirkan keterikatan aktifitas yang mengganggu. Aku telah memutuskan untuk meninggalkan sementara aktivitas yang menyita banyak waktu untuk menyambut ramadhan.
Ramadhan kali ini ku niati sebagai ajang diklat alias pendidikan kilat. Aq merasa selama ini diriku kurang belajar dan tlah puas dengan yang aku miliki. Ku teringat perkataan rosul bahwa manusia diwajibkan tholabul ilmi sampai malaikat maut menjemput. Belakangan ku kurang belajar tentang hidup, kok rasanya hidup ni kering...seperti di padang pasir, kurang makna... kurang rasa. Apa yang kulakukan banyak hura-hura.
Ya Alloh ku niatkan bulan ramadhan ni tuk belajar mensyukuri nikmatmu. Ijinkan ku belajar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Ijinkan aku menjadi hambamu yang pandai bersyukur, jadikan aku manusia yang mendapat rahmat dan ampunanmu di akhir Ramadhan....