Tampilkan postingan dengan label Studi Turki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Studi Turki. Tampilkan semua postingan

8 Agustus 2015

Mengunjungi Makam Ataturk : Jenazah Yang Tak Diterima Bumi

Pagi itu, awal bulan Februari. Masih dalam masa liburan musim dingin, dan pasti kita akan malas beranjak dari tempat tidur. Suhu yang dingin di bawah nol dercel, akan membuat kita nyaman bermalas-malasan  di kamar dengan secangkir coklat panas. Namun pagi itu begitu cerah, tak  ada awan kelabu seperti biasa, matahari yang dirindukan datang. Matahari cerah adalah sebuah keajaiban ditengah musim dingin. Dan inilah saat yang tepat untuk menjalankan rencana jalan-jalan yang telah saya rancang selama di Turki. Kegiatan ngajar dan kuliah yang padat membuat saya merasa jenuh dan penat dan kesempatan ini harus dimanfaatkan.



Kali ini tak jauh memang masih disekitaran ibu kota Turki, Ankara. Mengunjungi salah satu tempat paling terkenal di Turki, makam orang paling berpengaruh di Turki moderen siapa lagi kalo bukan Mustafa Kemal Ataturk. Orang yang pernah menggantung puluhan ulama Turki dan pencetus sekulerisme di Turki yang akhirnya menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani.
Ataturk membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses sementara berdinas sebagai komandan divisi dalam Pertempuran Galipoli Setelah kekalahan Kekaisaran Ottoman di tangan tentara Sekutu, dan rencana-rencana berikutnya untuk memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki. Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas yang berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberikan kepada Mustafa Kemal nama "Atatürk" (yang berarti "Bapak Bangsa Turki") pada 24 November 1934.
Setelah mandi dan bersiap, saya berangkat dari flat jam 10 pagi dan sudah janjian dengan teman-teman Indonesia lain untuk mengunjungi tempat itu. Jalan kaki ke stasiun MRT Macunkoy di tengah salju memang butuh perjuangan, selain dingin juga becek dan licin. Salah melangkah kita pasti akan jatuh dan ngrasain salju yang telah memadat jadi es…eh3… Saya berangkat dengan MRT dari Macunkoy ke Kizilay, sengaja saya berhenti di sini, soalnya mau cari sarapan. Perut udah berontak ni dari tadi. Jangan salah, di musim dingin kita akan mudah sekali lapar, tapi sedikit haus. Berbeda dengan di daerah tropis… kita pasti akan lebih sering haus dari pada lapar…
Nah keluar stasiun kita bisa mendapatkan roti Turki, 1 TL dapet 3 biji (udah saya ceritakan kemarin). Sambil duduk di taman kota dan menunggu teman-teman datang, saya menikmati pemandangan musim dingin di kota Ankara. Walaupun musim dingin ternyata daerah ini begitu ramai di siang hari. Maklum, Kizilay ini adalah pusat kota Ankara, layaknya Sudirman-Thamrin di Jakarta.
Tak lama, teman-teman saya datang dan kita segera menuju lokasi tujuan. Cukup jauh lokasi makam Ataturk, yaitu di Anitkabir, sekitar 30 menit menggunakan bus kota dari Kizilay. Bus kota dan MRT di Turki sudah terintegrasi, jadi tiket pun juga terintegrasi. Konon katanya Pemerintah Turki dulu belajar dari KRL dan Transjakarta. Dan seperti Jepang ketika mereka belajar sepakbola dari Indonesia, kenapa mereka mengembangkan jauh lebih baik dari kita. Sedangkan kita malah sibuk melakukan studi banding tak jelas ke negara lain dan tak ada feed back yang berguna bagi negara. Huh, sungguh ngomongin para pejabat bikin sakit perut…, laper lagi nih soalnya…he4
Jalan pake bus kota selama 30 menit kita akan nyampe di gerbang  Anitkabir, dan kita harus jalan cukup jauh menuju lokasi makam. Yah lumayan buat manasin tubuh. Di pintu gerbang, kita akan disambut dengan pemeriksaan metal detector dari tentara pengamanan, tas kita juga akan di geledah.
 Masuk ke kompleks makan, kita akan merasa ini bukanlah sebuah makan. Karena saking luas dan megahnya. Di sini ada gedung utama makam di depannya ada lapangan yang sangat luas. Jadi lebih mirip pangkalan militer bagi saya, karena pengamanan yang ketat serta pengunjung yang membeludak. Selain bangunan utama makam, di kompleks ini juga ada museum yang menyimpan koleksi dari foto, baju militer hingga senjata yang pernah dipakai Ataturk.
Okeh, udah ga sabar ni masuk. Langsung deh kita cekidot, dan ternyata gratis (ga tau kalo sekarang)… he4. Tur di tempat ini diatur jalurnya. Semua tamu masuk dan memulai tur dari pintu di sayap kiri. Pertama masuk, pengunjung akan disambut dengan sebuah ruangan yang berisi koleksi saat Ataturk di militer. Mulai dari prajurit hingga menjadi jenderal. Lengkap sekali koleksinya bahkan korek api sang presiden pertama pun dipajang. Kemudian diruang-ruang berikutnya akan ditampilkan sejarah tantang Ataturk, mulai dari masa kecil hingga menjelang kematiannya.
Kemudian, nah memasuki gedung utama ada video, dimana jasad Ataturk disimpan. Menurut cerita, jasad Ataturk tidak dikebumikan, namun dijepit diantara batu besar yang sebelumnya mayatnya diawetkan terlebih dahulu.  Menurut sejarah dalam buku-buku biografinya, yang ditulis  oleh para pendukungnya, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis  minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit  seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever.
Beliau meninggal dunia pada 10 November 1938 , kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal. Doktor-doktor sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu beliau masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratulmaut, anehnya beliau takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah krisis, beliau tidak dapat menahan diri daripada menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana), Beliau berteriak kesakitan dalam sakratulmautnya dengan penuh azab di tengah-tengah laut
Pada 29 September 1938 Kamal Ataturk mengalami koma selama 48 jam. Pada 9 November, beliau mengalami koma kali kedua. Dan sewaktu itulah air dalam perutnya disedot keluar. Beliau kemudiannya tidak sadarkan diri selama 36 jam dan akhirnya  meninggal dunia. Cara kematiannya begitu menghinakan sekali. Mayatnya tidak dimandikan, tidak dikafankan, tidak disembahyangkan dan tidak dikebumikan dengan segera seperti yang dituntut oleh ajaran Islam. Tetapi sebaliknya, mayatnya diawetkan dan diletakkan di ruang takhta di Istana Dolmabahce selama 9 hari 9 malam.
Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan  gedung parlemen. Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara. Mayat Ataturk tidak pernah dikebumikan.  Tiada tanah yang layak untuk menjadi kuburnya.

Kemudian, tur berakhir di gedung sayab kanan. Dimana ini adalah pusat suvenir. Ah tapi awak lagi bokek, soalnya belum turun uang bulanan. So… Cuma foto yang jadi kenangan dari tempat ini. Suvenir yang dijual disini begitu beragam, mulai dari vandal hingga lukisan ada. Bahkan miniatur Anitkabir juga ada loh…, harga sih normal.  Berhubung sudah jam 2 siang dan waktunya sholat dzuhur, maka kita putuskan mengakhiri tur kali ini dan pulang… Sebuah pelajaran yang amat berharga, tentang seseorang yang teramat kejam di masa hidupnya dan adzab Allah SWT telah nampak padanya sejak di dunia. Semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dari api neraka. Amin.

24 Oktober 2014

Antalya, Pesona Laut Tengah (bagian 1)

Saat itu pertengahan bulan Feburari, masih di tengah musim dingin bersalju di Turki. Asyiknya tinggal di negeri bermusim dingin, maka akan ada liburan musim dingin. Kala puncak musim dingin seperti bulan Februari, kita akan mendapat liburan selama 3 hari. Nah kesempatan emas ini takan pernah saya sia-siakan, maklum jadwal penuh mengajar membuat saya setres dan jenuh.... Tamasya mungkin akan mengembalikan kebugaran jasmani dan rohani saya...he4


Salah satu destinasi yang masuk dalam planing saya adalah mengunjungi Antalya, kota pelabuhan dan pantai di Selatan Turki yang banyak menyimpan sejarah masa lampau dan keindahan pantainya itu membuat saya penasaran. Setelah mengepak semua perlengkapan, saya berangkat pagi sekitar pukul 7 waktu Ankara. Maklum, bus berangkat pukul 8 dan perjalanan memakan waktu 6 jam, berharap sampai di kota Antalya hari masih terang dan masih sempat jalan-jalan dulu sebelum malam.
Seperti biasa, bus berangkat dari Asti pukul 8 tepat. On Time bingits pokoknya... Kali ini saya tidak kebagian tiket bus Metro, jadi saya naik bus PO. Pamukale kelas ekonomui (he4). Ini pertama kalinya saya naik bus ini untuk bepergian. Busnya ternyata lumayan, dan g jauh beda dengan Metro. Emang lebih murah sih, 40 TL (200 rb), tapi bus metro lebih gagah dan pelayannnya memuaskan. Jangan salah bus Ekonomi di Turki sama levelnya dengan bus Eksekutif di Indonesia, tempat duduk lega, dapat selimut dan bantal plus ada pemanasnya.


Wus..wus... tak terasa 3 jam sudah berkendara, Pramugara membangunkan saya untuk mendapatkan kudapan siang . Bus-bus jarak jauh disini memang seperti pesawat. Ada pelayanan makan dalam bus, ada Pramugaranya lagi (kalo yang kelas eksekutif katanya pramugari yang caem2...he4). Saya hanya mendapat snack bukan makan besar, banyak pilihan sih... saya ambil susu dan roti, tu cukup he4. 
Pukul 1 siang, bus berhenti di sebuah terminal antah berantah. Para penumpang turun untuk menyelesaikan hajatnya. Ada yang makan, ada yang ke kamar mandi, dan saya pun ikut turun, mau sholat ceritanya. 
Muter-muter tak menemukan tempat Sholat, kahirnya saya jalan keluar dari terminal dan fuila... ada mushola,,, selamat deh... tapi air wudhunya tidak ada pemanas, jadi harus wudhu dengan air yang duingin bingits... bayangkan, suhu hampir nol men... tetep wudhu sih, tapi langsung piteren.. (orang jawa tahulah...), setelah sholah cari bekal dan minum terus naik bus lagi.
Bus kembali meneruskan perjalanan dan sampai di terminal Antalya pukul 3 sore. Terminal Antalya kecil dan ga ramai, lebih ramai Tirtonadi...(he4, apapaan sih?). Ternyata aneh sekali, di Antalya meskipun musim dingin tapi tak ada salju. Seperti berada di negara berbeda saja, katanya sih karena pengaruh angin dari Afrika dan Arab, maka suhu di Antalya tidak sedingin di wilayah Turki lain, jadi masyarakat Antalya tak akan pernah melihat salju di kotanya.
Setengah jam menunggu, ada seorang berwajah jawa menyapa saya..., dialah mas Kuncoro. Seorang mahasiswa asli Indonesia berdarah Jawa yang akan mengantar dan memandu berkeliling selama saya di kota ini. Saya emndapat nomor telefon beliau dari mas Faiz yang ada di Konya (baca petualangan saya di konya, klik di sini ). Sambatan yang sangat hangat khas orang Jawa, seperti saudara yang telah lama tidak berjumpa. Yah saudara, saudara setanah air.


Kami berjalan menuju apartemen mas Kuncoro yang berada dekat pusat kota Antalya dengan jalan kaki. Lumayan lah sekitar 3 km. Tapi itu g masalah, sambil cuci mata, soalnya Antalya adalah destinasi utama di Turki selain Istambul dan Ankara, jadi banyak turis juga dari Eropa...he4
"Flate" mas Kuncoro bersebelahan dengan Antalya university, tipikal flate yang ada memang mirip dengan flate mahasiswa Ankara. 1 apartemen di huni 5 hingga 6 mahasiswa (jadi bakalan ramai). 
Sampai di apartemen, saya di sambut mahasiswa dari berbagai macam negara. Ada Maroko, Nigeria, Turki dan Italia..., wah seperti inilah persahabatan kaum muslim sejati, tidak mengenal ras dan negara.
Malam telah menjelang, saatnya sholat Magrib, kitapun sholat magrib berjamaah di flate. Masjid agak jauh memang, jadi ruangan 4 x 5 m itu digunakan sebagai tempat tidur, makan dan sholat sekaligus. 
Ngomong-ngomong makan ni, keliatanya mas Kuncoro dan rekannya telah menyiapkan hidangan makan malam dan saya pun diajak makan bersama. Makanan Turki normal, corba dengan roti dan ayran. 

Setelah makan, kita ngobrol kesana-kemari pokoknya ngobrolin Indonesia, ngobrolin studi kita bahkan sampai ngobrolin calon Istri (jadi kebetulan kita sama2 jomblo...ha4). Sepertinya kita merasa senasib dan sepenanggungan...he4
Setelah lelah saya pun tidur, dan mempersiapkan energi untuk berkeliling esok hari. 



21 April 2014

Berpetualang Ke Konya (Bagian 3) : Museum Jalaludin El Rumi

Sore itu sudah menunjukan pukul 4 sore, dan hujan salju tipis mulai menerpa perjalan saya menuju destinasi terakhir di Konya, yaitu masjid dan museum Mevlana Jalaludin El Rumi. Salju yang baru jatuh begitu indah, lembut dan ketika menyentuh kulit dingin dan langsung menjadi air. Sungguh dahsyat rahmat Alloh di alam semesta. Saat itu kuteringat sebuah puisi sufi karya sang Mevlana.

Cinta adalah lautan tak bertepi. Langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta, Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh?
Bagaimana ruh akan mengorbankan diri demi nafas  yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang. Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas. Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah lagu pujian Keagungan pada Tuhan.

Sungguh indah puisi sung ulama sufi, hati siapa yang tak hanyut mendengar puisi seperti itu. Maka demi tahu kedahsyatan cinta atas Rab-nya harus saya buktikan sendiri jejak kedahsyatan karya sang maestro cinta.

                                                    (pelataran musem Jalaludin EL Rumi)

Sampai di pelataran museum saya putuskan untuk langsung masuk. Harga tiket masuk sebesar 4 TL atau 20k IDR, cukup terjangkau untuk ukuran kantong saya he4. Di museum ini terdapat banyak peninggalan Jalaludin El Rumi, mulai dari baju, buku-buku bahkan sampai kursi beliau masih utuh.
Selain peninggalan, juga terdapat diorama atau semacam patung yang menggambarkan bagaimana para penari sufi berlatih dan mendalami ajaran sufi.

                                         (diorama para penari sufi)

Dalam kompleks ini, terdapat pula makam Jalaludin El Rumi dan para muridnya. Sayang sekali saya tidak diperbolehkan membawa kamera masuk. Demi menghormati makam ini, yah kita ngikut aja. Dalam makam tersebut ada hal yang istimewa, yaitu ada rambut Rasulullah. Seikat rambut Rasulullah ini memunculkan bau harum meskipun letaknya di dalam kotak kaca yang cukup besar. Memang benar, riwayat-riwayat yang mengatakan keringat Rosul wangi. Jangankan rambut, keringat saja wangi. Memang Muhammad SAW adalah manusia pilihan Alloh. 

                                                    (Di depan Makam Jalaludin El Rumi)
Saya terharu, merasa sedekat ini dengan Rosulullah, maka saya percaya orang-orang yang berdiri di depan makam Rosul sontak menangis karena kerinduan yang mendalam. Semoga di akhirat kelak, kami dipersatukan bersama Rosulullah SAW.

Setelah dua jam berkeliling museum dan makam saya putuskan keluar museum untuk sholat magrib dan makan malam. Tidak ada yang special, makan malam dengan roti dan corba. Selepas makan, saya lanjutkan berkeliling mencari souvenir, Saya temukan sebuah toko cindera mata di ujung pasar. Nampaknya murah-murah (ada tulisan diskon soalnya). Gak banyak sih yang saya beli karena keterbatasan budget. Saya Cuma beli 10 gantungan kunci (@1 TL) dan 2 buah keramik (@1TL) untuk dipajang di rumah. Usai belanja oleh-oleh, saya putuskan langsung menuju terminal untuk melanjutkan perjalanan ke kota kedua dalam liburan kali ini. Kota Antalya menjadi rencana singgah saya berikutnya.
Akhirnya saya harus berpisah dengan mas Faiz, teman baru yang begitu baik. Sebuah pelukan hangat pun mengakhiri kebersamaan kami. Terima kasih mas Faiz, semoga Alloh membalas semua kebaikanmu.

Bus berangkat menuju Antalya pukul 12 malam, kali ini saya juga naik bus metro. Perjalanan mungkin memakan waktu sekitar 6 jam, sehingga bisa untuk tidur dalam bis. Sampai jumpa di Antalya dalam halaman berikutnya…



Sumber : foto adalah koleksi pribadi penulis.

14 Maret 2014

Berpetualang ke Konya Bagian 2 : Masjid dan Makam Dinasti Selcuk


Sore itu salju turun begitu lebat di Konya, menemani perjalanan kami. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, meskipun begitu suasana layaknya menjelang magrib.
Tujuan saya pertama adalah Masjid Selcuk. Masjid ini terletak di sebuah bukit kecil nan Indah di pusat kota Konya. Masjid ini begitu unik dan berbeda dengan masjid umumnya di Turki. Para arsitek dunia mencatat beberapa karya seni arsitektur yang paling unik warisan Dinasti Seljuk, dan secara sadar dan nyata Dinasti Seljuk memiliki peran penting dalam bidang arsitektur dunia. Dunia mencatat bagaimana dahsyatnya para arsitek selcuk di zaman keemasan Islam tersebut. Karya paling fenomenal adalah kubah yang berbentuk kerucut, sehingga jika anda berkungjung ke Konya, maka masjid-masjid kuno di sini akan berkubah kerucut. Saking “inspiring”nya,  gereja dan istana kerajaan di Eropa juga mengadopsi.


Seperti kebanyakan masjid di Turki, masjid ini juga dihiasi ornament-ornamen indah menghiasi marmer dinding dan tiang di dalam masjid. Di masjid ini digunakan motif-motif muqarnas yang melegenda hingga Eropa di abad ke-16 M. Karena itu, kehebatan dan keunikan gaya ersitektur Selcuk telah diakui dunia, termasuk arsitektur modern. Para arsitek Barat pun banyak belajar dari arsitektur Selcuk.



Capek berkeliling di kompleks masjid, adzan ‘ashar berkumandang dan kami putuskan untuk sholat berjamaan di masjid ini. Jamaah di sini tidak terlalu banyak, hanya satu shaf saja. Maklum lokasi masjid memang agak jauh dari keramaian kota konya. 

Setelah sholat, kami segera melanjutkan kunjungan ke makam sultan dinasti Selcuk. Untuk masuk ke kompleks makam, kita hanya perlu meminta izin pada pengurus/ imam masjid. Sayang sekali, karena sudah sore jadi kompleks makam sudah ditutup. Eits, tenang… berkat lobi yang keren dari mas Faiz kita diberi kesempatan selama 30 menit untuk ziarah ke makam. Maklum kita kan tamu dari Jauh, 15 jam perjalanan dengan pesawat je… he4.


Setelah mendapat izin kami pun masuk ke dalam makam yang ada di dekat masjid. Makam ini tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa makam.  Desain makam ini juga menarik, kubahnya yang kerucut khas arsitektur selcuk. Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan bangunan makam. Yah makam, ya begitu… dingin sepi. Saya lebih tertarik kepada pemandangan disekitar kompleks yang di batasi dinding seperti benteng. Dari sini kita bisa melihat pemandangan ke seluruh penjuru kota.


Puas di sini, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Museum dan Masjid Jalaludin El Rumi (Maulana) menjadi incaran berikutnya.

10 Februari 2014

BERPETUALANG KE KONYA, KOTA SANTRINYA TURKI (BAGIAN 1)



Di sela aktivitas sibuk mengajar dan belajar di Turki saya sempatkan 3 hari untuk jalan-jalan menikmati musim dingin yang jelas takan saya temukan di negeri tercinta Indonesia. Sore itu, bulan Januari 2012 merupakan puncak musim dingin di Turki dan negara Eropa lain. Salju turun sangat lebat sehingga perjalanan bus banyak yang mengalami penundaan, termasuk bus yang saya tumpangi dari Ankara, harus rela 2 jam menunggu salju jalan di bersihkan. Perjalanan dari Asti ke Kota Konya sekitar 4 jam normalnya namun gara-gara badai salju, perjalanan memakan waktu hingga 6 jam.
Berangkat dari Asti sekitar pukul 8 pagi sehabis sarapan, saya menumpang bus kesukaan saya di Turki, Metro. Entah kenapa saya ga’ kepingin naik bisa lain. Saya beli tiket kelas ekonomi seharga 30 TL atau 160 ribu rupiah. Jangan membayangkan kelas ekonomi di sini sumpek, tanpa AC dan bau seperti bus AKAP Jakarta – Semarang, walaupun kelas ekonomi tapi bus ini full AC, berhubung musim dingin full pemanas he4…, kemudian kursinya 2-2 yang lega dan lagi ini spesialnya, di tiap kursi penumpang tersedia monitor, kita bisa memilih lagu atau film kesukaan kita. Walaupun tidak mendapatkan menu makan tapi kita dapat servis snack dan minuman yang bisa kita pesan ke pelayan bus. Saya memilih susu dan kue kering, cocok kayaknya…
                                              (Lobi Terminal Konya, Turki)

Pukul 14.00 bus sampai di Terminal Konya disambut hujan salju lebat. Terminal konya kecil, mirip seperti terminal di Indonesia, namun kebersihan dan ketertiban tak perlu di tanya. Konya (bahasa Turki Ottoman: قونیه; juga disebut Koniah, Konieh, Konia, dan Qunia merupakan kota yang terletak di Turki bagian selatan, pada plato tengah Anatolia; dalam sejarah kota ini dulu dikenal dengan nama Ikonium (bahasa Latin), bahasa Yunani: κόνιον Ikónion). Penduduknya berjumlah 742.690 jiwa (2000). Konya merupakan kota kecil di Provinsi Anatolia, Turki.
Mengenal sejarah kota ini akan sangat membantu kita untuk lebih menikmati tempat yang kita kunjungi. Dalam sejarahnya, kota ini menjadi ibukota Dinasti Seljuk pada abad ke-11. Letak Konya tidak jauh dari wilayah Kurdistan, dan dekat dari perbatasan Turki-Suriah-Irak. Konya adalah kota yang identik dengan tokoh sufi besar – Mevlana. Merupakan kota yang dihuni pertama kali dalam sejarah umat manusia, dan masih memiliki jejak sejarah dari peradaban kuno yang memberikannya atmosfer sebagai kota museum. Karena lokasinya di tengah-tengah padang tandus Anatolia, kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Jalur Sutera. Tanahnya yang subur di sekitar kota menjadikan Konya pusat dari industri gandum di Turki, dengan skala industri pertanian yang besar. Kental akan tradisi, kota ini adalah tempat paling konservatif dan religius di Turki dan terkenal sebagai rumah dari Jalaludin Rumi, sufi mistis yang menemukan Whirling Dervish (Tarian Darwis). Saat ini masih menjadi pusat pembelajaran dan pengajaran sufi dan salah satu atraksi wisata utama yang wajib dikunjungi adalah Melvana Museum, yang dahulu digunakan sebagai pemondokan para darwis.
Di Konya saya akan di pandu mas Faiz, seorang mahasiswa asal Kudus Jawa Tengah, jauh-jauh ke Turki ketemune yo wong Jowo. Memang orang Jawa di takdirkan menjadi petualang di seluruh dunia layaknya Viking di Eropa. Berkat info dari ketua PPI Ankara, saya mendapat nomor telefon mas Faiz. Beliau adalah mahasiswa S3 bahasa Arab di Selcuk University, Konya. Beliau sangat ramah dan murah senyum. Mungkin beliau adalah satu-satunya orang yang baru saya kenal, namun sangat baik dan membantu segala sesuatu apapun yang saya butuhkan, selain mas Ayub tentu saja. Kalo mau, pun sebenarnya mas Faiz bisa menolak untuk membantu, bayangkan… di saat hujan salju yang dinginnya menusuk tulang, beliau rela meninggalkan flat-nya yang hangat hanya untuk membantu memandu saya keliling Konya. Subhanalloh, semoga Alloh selalu memberikan rahmatnya buat mas Faiz.
Mas Faiz on time menjemput saya. Beliau sudah menunggu di dalam terminal dan menyambut saya ketika sampai. Pelukan hangat kami berdua, walaupun kita baru kenal, sudah seperti kolega lama yang tak bertemu. Indah sekali, persaudaraan sebangsa…he4. Karena hanya punya waktu sampai jam 9 malam, mas Faiz bergegas mengajak saya untuk meninggalkan terminal berkeliling Konya. 



                                               (Di dalam Trem Kota Konya)

Keluar dari terminal kami menggunakan kereta listrik menuju pusat terminal. Mas Faiz memberi saya kartu untuk naik kereta, gratis katanya bagi mahasiswa. Jadi kartu itu dipinjam dari temanya kuliah untuk saya… oh so sweet banget, mikir sampai segitunya untuk saya. Kereta di konya nyaman bersih dan cepet. Malahan gratis, itu yang penting. Sehingga warga masyarakat akan rela naik transportasi umum.
Sambil berdiri di kereta, kita berbincang-bincang untuk membunuh kebosanan. Dari perbincangan itu, saya tahu bahwa mas Faiz ini adalah mahasiswa S3 di tahun kedua, karena tahun pertama digunakan untuk Tomer atau kursus bahasa Turki. Tomer memang wajib untuk semua mahasiswa yang belajar di Turki dari S1 hingga S3, kecuali tempat kuliahnya menggunakan pengantar Bahasa Inggris, seperti Ankara University, mahasiswanya tidak perlu kursus terlebih dahulu. Mas Faiz juga bercerita, kalo beliau S1 dan S2 nya juga di luar negeri. Wow.. amazing…
Negara tempat belajarnya waktu S1 adalah Suriah atau Syiria. Beliau mendapat beasiswa S1 Bahasa Arab full dari universitas di sana. Kemudian S2 nya beliau ambil di Tripolli, Libya. Mendengar cerita beliau, saya jadi bersemangat untuk belajar dan pasti suatu saat saya akan keliling dunia menuntut ilmu. Amin…
15 menit kereta berjalan, kita turun dan berhenti di stasiun untuk destinasi pertama yaitu di masjid dan makam kesultanan Selcuk…, untuk destinasi pertama ini akan saya bahas di halaman berikutnya…

3 Februari 2014

Mengajar di Ankara, Turki

Kalo boleh buka kartu, cita-cita saya dulu waktu kecil adalah menjadi seorang pilot. Tapi karena kecintaan saya terhadap kimia dan dunia pengajaran yang sangat terinspirasi dari guru tercinta saat SMA, saya akhirnya memutuskan untuk kuliah di jurusan pendidikan kimia. Sejak mahasiswa saya sudah bekerja paruh waktu di sebuah bimbingan belajar sampai ngajar privat rumah ke rumah pernah saya jalani, jadi mengajar memang sudah menjadi kepuasan tersendiri.
Pada tahun 2012 lalu saya mendapat kesempatan mengaplikasikan kemampuan saya di sebuah sekolah di luar negeri. Pengalaman yang tentu saja tak semua orang dapatkan. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya jelaskan latar belakang kegiatan ini (klik di sini). Sekolah SAMANYOLU Lisesi di daerah Macukoy, Ankara adalah tempat selama di Turki. Sekolah ini memang letaknya di pinggiran kota Ankara. Sekitar setengah jam kalo naik Metro (MRT) dari pusat kota Ankara. 

Saya memang tidak langsung mengajar di kelas pada minggu-minggu pertama. Saya di wajibkan observasi kelas ke beberapa guru kimia di sekolah. Dalam sehari jadwal observasi adalah 4 jam dengan satu guru. Kegiatan selama observasi saya duduk di kelas selayaknya siswa kemudian mencatat apa yang saya lihat, yah tahulah kaya PPL dulu (kalo yang guru pasti tahu). Kemudian setelah pembelajaran saya sempatkan diskusi dengan guru mapel bersangkutan.
Salah satu guru yang paling saya sukai adalah Mr. Husein, beliau usianya tidak jauh beda dengan saya yah selisih 4 tahun. Dia selalu respon dan penuh perhatian saat diskusi, bahkan kita sering obrolkan masalah pribadi sehabis pelajaran. Kita sering duduk di kantin sambil ngobrol hingga magrib. Pesan dia terhadap saya waktu itu untuk segera menikah katanya… ha4. Beliau menikah di usia 22, jadi habis kuliah langsung menikah… luar biasa memang. Dalam hati saya dulu penginnya pas lulus begitu, tapi patah (eh bukan, remuk) hati… ha4.
Selain observasi saya juga diberi kesempatan mengelola pembelajaran laboratorium. Salah satu menariknya di sekolah ini, pembelajaran praktikum dilaksanakan sore hari. Jadi terpisah dengan pembelajaran reguler. Saya diberi amanah mengelola 8 jam pembelajaran praktikum setiap minggu untuk 4 kelas, yah lumayan banyak. Jadi total ada sekitar 28 jam kegiatan wajib.
Setelah 2 minggu observasi, saya mendapat 8 jam mengajar di 4 kelas reguler masing – masing satu kelas 11 Fen lisesi (sains) dan tiga kelas 11 anadolu (social-sains). Tidak seperti di Indonesia, pembagian kelas berdasarkan IPA, IPS dan bahasa, kalo di sekolah ini hanya ada dua jurusan yaitu sains dan social-sains. Bedanya sains ini lebih detail materinya dan mendalam dalam sains sedangkan social-sains selain belajar maple social juga belajar mapel sains, tapi tidak terlalu mendalam.
He4… seperti guru baru rasanya, meskipun saya sudah pengalaman mengajar hampir 4 tahun sejak mahasiswa, namun masuk ke kelas baru rasanya deg-degan juga apalagi siswanya adalah orang – orang asing (pasti tahulah maksud saya).
Tak disangka, di pertemuan pertama, mereka tidak tertarik belajar. Mereka begitu tertarik dengan latar belakang saya termasuk Indonesia. Mereka bertanya semua tentang Indonesia. Setelah saya ceritakan bagaimana subur dan indahnya tanah Nusantara, mereka terkesima… bangga juga rasanya punya tanah air Indonesia he4…Untuk kegiatan belajar mengajar, tak beda dengan Indonesia. Hanya materi lebih banyak. Jauh lebih banyak dari materi regular di Indonesia.