15 Februari 2015

Merawat Radiator



Melihat fungsinya, radiator menjadi bagian mobil yang amat penting untuk menjaga suhu tetap stabil. Perawatan minim, lalai mengecek volume air radiator, atau menggunakan cairan yang kurang baik tentu membuat kondisinya merosot dan otomatis menyebabkan mesin mengalami overheating yang berdampak pada suara mesin yang tidak normal, boros bahan bakar bahkan mogok.


Agar kinerja radiator optimal, pemilik mobil memang bisa menggunakan air biasa. Akan tetapi, cairan terbaik untuk radiator adalah air suling yang sering disebut aqua destilata atau cukup disebut aquades.
Selain dibeli di took-toko kimia, beberapa pemilik mobil bisa mengumpulkan tetesan air AC di rumah sebagai pengganti aquades. Cara ini pun bisa digunakan, asal bisa dipastikan air tersebut bersih, tidak terkontaminasi kotoran atau mineral.
Patut dipertimbangkan, beberapa orang menghindari menggunakan air mineral untuk radiator lantaran pada suhu kerja mesin dikhawatirkan mineral-mineral yang terkandung di dalam air akan menjadi endapan yang menempel pada dinding atau saluran pendingin.
Selain aquades, radiator bisa diisi pula dengan radiator coolant yang mampu memberikan nilai tamb ah. Selain memiliki titik didih yang tinggi, cairan ini bisa melumasi dinding sehingga menekan pertumbuhan karat.
Menggunakan cairan radiator yang baik tidak serta merta menjamin suhu mesin mobil tetap terjaga. Ada beberapa perawatan yang harus dilakukan agar kerja mobil bisa optimal.
Bentuk perawatan tersebut, misalnya memeriksa beberapa komponen radiator seperti tutupnya. Karet yang ada dibawah tutup radiator lambat laun akan mengeras, secara otomatis karet yang keras tersebut tidak akan mampu lagi menahan uap air radiator, yang idealnya uap ini akan “dilarikan” ke tabung cadangan, atau mencegah air keluar.
Bagian lain yang bisa diperhatikan adalah sarang radiator. Di sini, pemilik mobil dituntut untuk cermat melihat kisi-kisi pada sarang radiator. Kalau ada kotoran, debu atau batu kecil yang menempel di sana, segeralah bersihkan yang hal ini bisa dibantu dengan menggunakan air compressor.
Dianjurkan pula untuk melihat jarak sarang radiator dengan kipas agar tidak saling berbenturan. Bila perlu, Anda luruskan alur kisi radiator menggunakan mata obeng secara perlahan agar aliran udaran bisa keluar dengan lancar.


Asal-Usul Bendera Kuning

Bagi orang yang tinggal di Jabodetabek, keberadaan bendera kuning yang dipasang si sudut jalan atau tempat tertentu menandakan ada orang yang meninggal. Lalu bagaimanakah tradisi ini terbentuk?


Tradisi ini dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Konon saat itu banyak warga pribumi yang tinggal di Batavia terserang penyakit menular. Sebagian warga yang sakit kemudian meninggal dunia. Pemerintah Hindia Belanda saat itu menggunakan bendera kuning untuk menandai rumah atau tempat yang dianggap dihuni  oleh warga yang terserang penyakit itu. Namun, belum ditemukan alasan kuat mengapa dipilih warna kuning sebagai penanda.
Bendera kuning itu berbentuk persegi panjang dengan bertuliskan huruf Q. Huruf Q merupakan singkatan kata quarantine (karantina dalam bahasa Indonesia). Oleh sebab itu, warga dihimbau agar menghindari tempat atau rumah yang dipasangi bendera kuning untuk mencegah penularan penyakit.
Bendera kuning yang menjadi tanda karantina kemudian berkembang maknanya menjadi penanda adanya kematian karena saat itu banyak pasien yang tidak tertolong. Hal ini berlanjut hingga sekarang di Jabodetabek.